Menonton Amir Hamzah di Pasar Baru

Ilustrasi: Aktor Lukman Sardi (kiri) dan Sri Qadariatin memerankan Amir Hamzah dan Ilik Sundari dalam pentas teater "Nyanyi Sunyi Revolusi" di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta, Jumat (1/2/2019).
Ilustrasi: Aktor Lukman Sardi (kiri) dan Sri Qadariatin memerankan Amir Hamzah dan Ilik Sundari dalam pentas teater "Nyanyi Sunyi Revolusi" di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta, Jumat (1/2/2019). | Dede Rizky Permana /Antara Foto

Yang terasa amat menggugah saya sejak semula adalah daun-daun gugur. Daun-daun kering itu tidak sedang mengatakan sebuah musim di negeri yang jauh, tetapi perlambang dari kematian yang tanpa belas kasihan.

Yang semula tampak hijau-indah, lantas menguning, dipukul angin, jatuh, mengering, terinjak kaki orang lalu. Dalam kematian seperti itu setiap orang—ningrat maupun rakyat jelata—akan mengalami nahas yang sama.

Namun, kemudian, hujan, makam, peziarah—juga sosok-sosok yang muncul dari belakang panggung—membuat perlambang itu perlahan-lahan terdesak oleh tenaga melodramatik yang sejak semula telah mengendalikan pementasan ini.

Demikianlah pentas teater Nyanyi Sunyi Revolusi menamatkan kisahnya. Pentas teater tentang kehidupan penyair Amir Hamzah ini diselenggarakan oleh Titimangsa Foundation di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Jakarta Pusat, Sabtu-Minggu, 2-3 Februari lalu. Iswadi Pratama menyutradarai pentas ini berdasarkan naskah gubahan Ahda Imran.

Saya kira, soal penting pertama pada pentas ini adalah ia mendasarkan dirinya pada naskah yang menggunakan pendekatan penulisan roman. Kehidupan tokoh dilukiskan dalam kurun waktu yang panjang, dari kecil hingga mati dan masa yang lebih kemudian.

Jika kita ikuti pentas teater ini dari awal, kita akan bertemu dengan masa kecil Amir Hamzah yang tengah belajar silat dan akan berjumpa pula dengan masa ketika anaknya telah dewasa dan menziarahi makamnya.

Dalam rentang waktu yang panjang ini, mau tidak mau, penulis naskah mesti mengisinya dengan banyak peristiwa. Adegan dan babak naskah ini telah melompat ke belakang dan ke depan, ke kiri dan ke kanan, agar bentang luas ini bisa terisi.

Salah satu yang teramat menarik perhatian bagi penulis naskah adalah kasih tak sampai antara Amir Hamzah (Lukman Sardi) dan Ilik Sundari (Sri Qadariatin), yang kemudian berlanjut dengan “pernikahan politis” antara Amir Hamzah dengan Tengku Kamaliah (Desi Susanti).

Selain itu, penulis juga mengimbuhkan bayang-bayang revolusi sosial yang mengancam keluarga Amir Hamzah dan Kesultanan Langkat.Bahkan, perannya dalam mengelola majalah Poedjangga Baroe.

Menjadikan kisah kasih tak sampai Amir dan Ilik sebagai tulang punggung cerita, pentas ini akhirnya harus rela kehilangan bagian yang, bagi saya, teramat penting. Yakni, kehidupan Amir Hamzah sebagai penyair.

Bagaimana sebenarnya pergulatan penyair ini dengan kata-kata sehingga bisa menghasilkan puisi-puisi lirik yang telah menjadi klasik dalam sejarah sastra Indonesia modern? Bagaimana penyair itu menempatkan dirinya dalam tegangan antara masa silam dan masa datang?

Sementara, jika kita mengikuti alur pentas ini, seakan-akan, karena kelewat asyik bercinta-cintaan atau mengenang percintaan dengan Ilik, Amir menjadi tidak punya waktu untuk menulis puisi, baik yang menyangkut kisah cintanya maupun yang bertema sufistik. Atau, gedoran kaum revolusioner telah membuat ia kesulitan berkonsentrasi untuk menulis puisi maupun prosa.

Semua itu, karena Amir Hamzah dalam lakon ini telah dilepaskan dari identitas sejatinya sebagai “manusia-penyair”.

Kalaupun puisi-puisi itu kemudian hadir, dibacakan langsung atau diperdengarkan, terkesan sebagai semacam ilustrasi peristiwa, bukan peristiwa itu sendiri.

Misalnya, menjelang dipenggal oleh Ijang Widjaya, guru silatnya di masa kanak yang kemudian berubah menjadi sosok revolusioner, Amir Hamzah membacakan bait pertama sajak “Padamu Jua”: “Habis kikis / Segala cintaku hilang terbang / Pulang kembali aku padamu / Seperti dahulu

Kenapa sisi kepenyairan ini menjadi penting?

Bagaimanapun juga Amir Hamzah mendapatkan keharuman namanya di lapangan sastra. Bandingkan, misalnya, dengan Chairil Anwar yang selain menghasilkan puisi-puisi yang unggul, hidupnya penuh dengan percobaan kasih dan hampir selalu tak sampai. Meski Sutan Takdir Alisjahbana menjadi juru bicara paling lantang bagi generasi Pujangga Baru, yang menjadi bintang tetaplah Amir Hamzah. H.B. Jassin menjulukinya “Raja Penyair Pujangga Baru”.

Tentu saja, sebagai penyair, Amir menulis pula puisi bertemakan cinta—celah ini yang saya kira dijadikan jalan masuk untuk memperbesar porsi peran Ilik Sundari. Namun, yang penting dari semua itu adalah letupan perasaan yang ditimbulkan, bukan perkara sosok orangnya.

Amir telah menganonimkan seluruh Dewi Seni dalam sajak-sajaknya. Kata Jassin dalam Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru (1996), “Suatu ciri romantik juga bahwa Amir tidak memperkenalkan kepada kita siapa Teja dan Sendari-Dewi, karena yang penting ialah perasaan yang timbul pada penyair oleh percintaan ini.”

Selama ini kritik sastra telah mengosongkan segi-segi pribadi pengarang dari uraian yang cenderung berpanjang-panjang. Kini, dalam fiksi—dalam hal ini teater, atau film—kita bisa melongok kembali kehidupan pribadi sang penyair yang tidak pernah diungkapkan oleh kritik sastra. Sebab melalui fiksi kita ingin melihat penyair sebagai manusia yang berdarah-daging, sebagai manusia-penyair dalam pusaran politik yang memilukan.

Itulah kenapa dalam waktu pentas sepanjang 90 menit pemilihan fokus cerita menjadi sangat penting.

Pada naskah Ahda Imran sebelumnya—Monolog Sutan Sjahrir (2018), mungkin karena bentuknya yang lebih ringkas, hanya mengandalkan satu tokoh—fokus pengisahan itu lebih kelihatan. Yakni, pada masa ketika Sjahrir dipenjara oleh rezim Soekarno. Kisah bergerak dari situasi paling mutakhir, mundur ke masa muda Sjahrir di Bandung, ke perkawinannya yang kandas dan kembali lagi ke masa kini—setelah beberapa kali Sjahrir terperosok sebagai juru cerita sejarah.

Atau, jika dianggap sebanding, kita bisa mengambil contoh kepadatan pengisahan dalam film. Misalnya, kehidupan W.A. Mozart dalam film Amadeus (1984) karya Miloš Forman dan Winston Churchill dalam film Darkest Hour (2017) besutan Joe Wright.

Dua film itu hanya mengisahkan segi paling menarik dalam sejarah panjang dua tokoh tersebut. Fokus yang tajam membuat segalanya tampak rinci, yang ringkas kelihatan padat-berisi, tidak bertele-tele.

Juga, yang tak kalah penting adalah soal orientasi kisah. Setiap kisah ditulis untuk menjadi bahan hiburan dan renungan penonton hari ini. Meskipun tokoh dan peristiwanya dari zaman purba atau zaman yang jauh di depan, tetap saja alusi dan pesan moralnya adalah untuk pembaca atau penonton dari dunia hari ini.

Nyanyi Sunyi Revolusitidak begitu. Orientasi tersirat dianggap tidak cukup. Perlu dihadirkan tokoh dari dunia hari ini, yakni Tengku Tahura (Prisia Nasution), untuk menegaskan secara berlebih-lebihan bahwa pentas ini mesti diserap oleh kita yang hidup di masa kini. Dengan kata lain, lakon ini kurang percaya kepada kemampuan dirinya untuk menyampaikan pesan secara tersirat kepada penonton.

Atau, penonton dianggap tidak perlu bersusah-susah mencerna dan mengambil hiburan dan pelajaran dari lakon ini. Penonton masih harus dicekoki oleh renungan atau senandika Tengku Tahura tentang bagaimana nasib ayahnya: percintaannya yang kandas dan upanya Tahura untuk bertemu dengan kekasih ayahnya itu.

Kendati demikian, ada untungnya juga pendekatan melodramatik Nyanyi Sunyi Revolusi. Bagaimanapun, penonton kita hari ini masih menggemari kisah-kisah melodramatik: cinta yang kandas, hati yang mendua, pengkhianatan—di samping kematian yang mengibakan.

Mereka datang untuk menonton Amir Hamzah yang bimbang oleh cinta, yang terdesak oleh kaum revolusioner, yang disanjung-puja oleh anak dan pengagumnya.

Atau, mereka datang untuk melihat bintang film pujaan mereka bermain teater. Keterlibatan Lukman Sardi dan Prisia Nasution, dua artis film yang beken di kalangan anak muda, sudah cukup menjadi magnet bagi pentas ini. Tak heran jika penonton rela membayar tiket yang tidak murah untuk ukuran pentas teater di Jakarta.

Setidaknya, pada malam pertama—saat saya menonton—seluruh kursi terisi penuh. Jika saya tidak salah dengar, tiket yang dibandrol dengan harga terendah Rp250.000 ludes dalam beberapa hari, sementara tiket dengan harga tertinggi Rp600.000 masih juga dibeli orang.

Atau, teater kita memang benar-benar tengah menghadapi babak baru. Pentas-pentas teater yang menampilkan tokoh-tokoh penting dalam sejarah nasional kita berpeluang mendatangkan penonton lebih banyak ketimbang, misalnya, yang melulu mengeksplorasi kaum miskin kota.

Demikianlah, hampir seratus persen penonton yang datang pada malam ketika saya menonton bukanlah penonton yang biasa saya temukan dalam pentas-pentas teater amatir di Taman Ismail Marzuki (TIM) atau Komunitas Salihara atau kampus atu gelanggang remaja. Satu-dua malah artis film papan atas.

Karena itu, meskipun pentas ini masih dirundung masalah artistik yang penting—selain para bintang yang bermain biasa-biasa saja—ia telah melanjutkan fenomena budaya perkotaan yang telah terbangun belakangan ini. Yakni, tentang kegemaran kelas menengah atas menonton pertunjukan seni, khususnya teater dan seni rupa.

Di tahun-tahun sebelumnya fenomena ini ditandai dengan semaraknya pentas sejumlah “musikal”—semisal musikal Laskar Pelangi di Teater Jakarta. Selain fenomena Amir Hamzah, hal serupa juga terjadi ketika Museum Macan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, menggelar pameran seni rupa karya Yayoi Kusama beberapa waktu lalu. Penonton membeludak.

Sekarang ini bukan hanya di TIM dan GKJ pentas-pentas seperti itu berlangsung, gedung teater Ciputra Artpreneur di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, juga mulai menumbuhkan tradisi ini. Bahkan lembaga ini mendatangkan kelompok teater dari luar negeri untuk berpentas dalam jangka waktu yang lama.

Menonton teater adalah gaya hidup baru!

Apakah penonton teater jenis ini bisa beralih ke pentas-pentas teater amatir yang banyak digelar di TIM misalnya? Sulit menjawabnya. Sebab, secara karakteristik dan kepentingan rasanya agak berbeda.

Mungkin, mungkin ya, jika tradisi ini tumbuh lebih baik dan semarak lagi, pada tahun-tahun mendatang mereka yang sekarang ini mencari hiburan dalam teater mulai mencoba tantangan baru di atas panggung. Misalnya, dengan menonton pentas-pentas teater non-realistik atau teater absurd.

Dengan satu syarat—sebagaimana naik haji: jika mereka mampu. Tambahan penjelasan: andai mereka tabah.

Zen Hae, penyair, cerpenis, dan penelaah sastra
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR