Menuju holdico BUMN farmasi

Ilustrasi: Pekerja melakukan proses produksi bahan baku kaca untuk industri kemasan farmasi, di kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (24/4/2019).
Ilustrasi: Pekerja melakukan proses produksi bahan baku kaca untuk industri kemasan farmasi, di kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (24/4/2019). | Risky Andrianto /ANTARA FOTO

Para ahli waris yang ikut mendirikan PT Phapros Tbk tahun 1954 di Semarang kini bisa tersenyum lebar. Sudah lebih dari 65 tahun, mereka belum pernah merasakan nikmatnya memperoleh capital gain. Jangankan kenaikan nilai saham, usaha menjual saham mereka sampai akhir Desember silam sulitnya bukan main.

Tiap tahun mereka hanya berharap mendapatkan dividen. Namun siapa sangka, saham Phapros (PEHA) kini dikejar investor karena kurang dalam tiga bulan sahamnya bisa memberikan capital gain 100 persen lebih.

PEHA secara resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (IDX) pada 26 Desember 2018 dengan harga pembukaan Rp1.198. Hari itu sahamnya diperdagangkan stagnan pada angka Rp1.200/lembar.

Wacana pembentukan holding company (holdico) farmasi secara perlahan mendorong harga PEHA. Apalagi setelah Kimia Farma, pada 14 Februari mengumumkan telah meneken perjanjian jual beli bersyarat untuk membeli 56,77 persen (476,90 juta lembar) saham PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) di Phapros, .

Sehari kemudian, saham PEHA terbang 24,64 persen dari Rp2.110 ke Rp2.620/lembar. Dengan harga baru itu, PER (price earning ratio) PEHA jadi 17,58 kali, cukup tinggi.

Tanggal 27 Maret kemudian Kimia Farma (KAEF) menuntaskan akuisisi itu dengan membayar lunas saham RNI sebesar Rp1,36 triliun. Sejak itu, BUMN KAEF secara resmi menjadi pemegang saham pengendali BUMN PEHA. Belum jelas, apakah KAEF akan melakukan reorganisasi pemasaran dan distribusi serta merombak kepengurusan PEHA.

Akuisisi PEHA yang merupakan langkah awal pembentukan holdico BUMN farmasi menyebabkan saham PEHA kini likuid dan memiliki return yang baik bagi para pemegang sahamnya. Inilah sisi positif mengintegrasikan seluruh korporasi BUMN farmasi di bawah satu induk.

Maklum sudah lebih dari tiga puluh tahun, produksi farmasi dan obat-obatan pemerintah ditangani tiga perusahaan BUMN: PT Kimia Farma (KAEF), Indo Farma (INAF), dan Phapros (PEHA). Sedang vaksin diproduksi PT Biofarma.

Tahun lalu pemerintah sebelumnya telah menyelesaikan pembentukan induk perusahaan bidang pertambangan, PT Inalum (100 persen dimiliki negara) sebagai holdico, kemudian di bidang minyak dan gas dengan Pertamina (100 persen dimiliki negara) sebagai induk. Inalum dan Pertamina, sebagai holdico, diharapkan akan menjadi raksasa dan pemain unggulan di bidangnya.

Langkah berikut adalah membesarkan Biofarma (BIOF) yang direncanakan menjadi induk perusahaan BUMN bidang farmasi, obat-obatan, dan vaksin dengan memperkuat permodalannya. BUMN BIOF yang selama ini dikenal memproduksi vaksin kelas dunia 100 persen sahamnya dikuasai negara. Modalnya perlu lebih kuat lagi, mengingat suntikan modal pemerintah terakhir ke BIOF dilakukan tahun 1997 silam sebesar Rp14,262 miliar (Peraturan Pemerintah No.4 Tahun 1997).

Setelah memperkuat struktur modal, BIOF direncanakan mengambil alih saham negara di KAEF dan INAF, tanpa mengeluarkan uang tunai – serupa dengan langkah Pertamina menerima saham negara di PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), atau PT Inalum menerima saham negara di PT Freeport Indonesia..

Di antara empat perusahaan farmasi dan vaksin BUMN itu, BIOF memang paling sehat. Lembaga pemeringkat Pefindo memberikan peringkat “AAA” kepada BIOF untuk penerbitan MTN (Medium Term Notes, Surat Utang Jangka Pendek), dan MTN Syariah Mudharabah tiga tahun Pefindo juga memberikan peringkat “AAA” .

Agustus silam, BIOF sukses melepas Rp125 miliar MTN berjangka tiga tahun dengan bunga 8,75 persen; kemudian MTN Syariah Mudharabah Rp325 miliar juga berjangka tiga tahun. Imbal hasil diberikan setiap tiga bulan, dan pembayaran pertama dilakukan 30 November 2018.

Kinerja keuangan BIOF memang sangat kuat dibandingkan dengan tiga saudaranya. Maklum, BIOF memonopoli pembuatan vaksin terutama untuk pasar pemerintah (captive market), dan sebagian lagi dieskpor memenuhi permintaan banyak negara melalui UNICEF.

Menurut Pefindo, BIOF diberikan peringkat“AAA” (merupakan peringkat tertinggi) mengingat “kemampuan obligor memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya, relatif (bagus) terhadap obligor Indonesia lainnya, adalah superior”.

Laba BIOF sebelum pembayaran bunga dan pajak (EBITDA) selalu di atas Rp700 miliar setiap tahunnya, dengan pencapaian tertinggi pada 2105 labanya mencapai Rp971,8 miliar.SedangkanEBITDA marjin sejak 2015 hingga kuartal pertama 2018 selalu di atas 35 persen.

Kinerjanya jauh berbeda dengan INAF yang sampai kuartal ketiga 2018 masih rugi, dan persediaan obat-obatannya di gudang menggunung sehingga membuat arus kas perusahaan cukup berat memasuki tahun 2019. Karena berat mungkin, laporan keuangan INAF 2018 belum juga terbit.

Produksi obat ketiga perusahaan farmasi BUMN (KAEF, PEHA, dan INAF) itu nyaris sama, terutama obat-obat generik –overlaping cukup tinggi. Akuisisi KAEF atas PEHA sebenarnya tidak menambah portfolio produk baru.

Ketiganya juga sering terlibat dan bersaing ketat dalam tender pengadaan obat yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah untuk mengisi instalasi farmasi rumah sakit daerah, pusat, dan Puskesmas. Masing-masing perusahaan itu juga punya perusahaan distribusi sendiri yang juga sering bersaing, dan sulit melakukan sinergi untuk, misalnya, memenangkan tender obat-obat generik di pasar pemerintah.

Jadi tidak perlu kaget persediaan obat ketiganya menumpuk di akhir tahun: KAEF Rp1,192 triliun (2017) jadi Rp1,806 triliun (2018), PEHA Rp158,6 miliar (2017) jadi Rp320 miliar (2018), dan INAF Rp254,7 (2017) jadi Rp350 (September 2018).

Terikatnya modal kerja pada persediaan itu menyebabkan KAEF harus mencari utang Rp1,936 triliun untuk memperkuat modal kerjanya pada 2018. Kuartal pertama 2019 ini, KAEF utang Rp1,361 triliun untuk akuisisi saham RNI di Phapros. Rupanya, akuisisi itu tidak bisa dibiayai dengan arus kasnya, apalagi angka persediaannya kembali menggelembung jadi Rp2,429 triliun.

INAF sulit didiskusikan karena laporan keuangannya masih rugi. Sedang Phapros (PEHA) yang didirikan raja gula asal Semarang Oei Tiong Ham, pada tahun 1954, yang semula pemasarannya ditangani Kian Gwan (kemudian beralih ke Rajawali Nusindo, anak RNI), pertumbuhannya terasa lamban; bahkan disalip perusahaan farmasi swasta yang lahir belakangan seperti Kalbe Farma atau Sanbe Farma.

Pemegang saham pengendalinya, PT RNI, yang mengelola perkebunan tebu berikut pabrik gulanya, serta perkebunan kelapa sawit dan teh, rupanya sulit fokus mengembangkan Phapros lebih agresif.

Namun lebaran tahun ini, banyak pemegang saham pendiri Phapros bisa ketawa lebih lebar: saham mereka menghasilkan returnbesar, dan mulai likuid di pasar sekunder.

Eddy Herwanto,pernah bekerja di Majalah Tempo dan Editor
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR