Menyambut KA Bandara

Presiden Joko Widodo (tengah) bersama (kanan ke kiri) Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menko Polhukam Wiranto, tamu undangan Muhaimin Iskandar, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perhubungan Budi Karya, dan Gubernur Banten Wahidin Halim bersama-sama meresmikan pengoperasian kereta bandara di Stasiun Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (2/1).
Presiden Joko Widodo (tengah) bersama (kanan ke kiri) Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menko Polhukam Wiranto, tamu undangan Muhaimin Iskandar, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perhubungan Budi Karya, dan Gubernur Banten Wahidin Halim bersama-sama meresmikan pengoperasian kereta bandara di Stasiun Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (2/1). | Rosa Panggabean / ANTARA FOTO

Jakarta akhirnya memiliki kereta (KA) Bandara yang menghubungkan Stasiun Sudirman Baru menuju ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) dengan melintasi Stasiun Duri, Batuceper dan berakhir di Bandara Soetta.

Wacana pembangunan KA Bandara itu sudah berlangsung 15 tahun namun baru dapat direalisasikan , dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) tanggal 2 Januari 2018 lalu. Hal itu tidak terlepas dari kepemimpinan nasional sebelumnya, yang selalu penuh keraguan dalam mengambil keputusan.

Berdasarkan data dari PT Railing, anak perusahaan PT KAI yang bertindak sebagai operator, dapat diperoleh gambaran bahwa KA Bandara Soetta ini menggunakan trek baru dengan jalur ganda sepanjang 12 km, dimulai dari Stasiun Batuceper (Kota Tangerang) hingga Bandara Soetta. Waktu tempuh dari Stasiun Sudirman Baru ke Bandara lebih kurang 55 menit, dengan jumlah stasiun empat, yaitu Stasiun Sudirman Baru, Duri, Batuceper, dan Soekarno Hatta.

Pembuatan sarana dikerjakan oleh PT INKA bekerjasama dengan Bombardier. Tersedia 10 trainset (rangkaian KA) dengan jumlah rangkaian masing-masing enam kereta atau total mencapai 60 kereta.

Direncanakan, kecepatan maksimal 60-70 km/jam dengan headway keberangkatan 30 menit sekali. Jumlah tempat duduk 272/trainset, dengan jumlah perjalanan per hari 82 kali, sehingga kapasitas tempat duduk penumpang secara keseluruhan mencapai 22.304 per hari.

Tantangan Besar

Mengingat KA Bandara Soetta ini dirancang 15 tahun silam, saat kondisi eksternal menuju ke/dari Bandara Soetta belum banyak perubahan, maka tantangannya tentu berbeda dengan yang dihadapi pada saat beroperasi sekarang (2018).

Contoh kongkrit adalah saat dirancang dulu belum ada taksi online yang menjadi salah satu pilihan warga dalam bertransportasi. Juga belum ada layanan Jakarta Airport Connexion (JAConnexion) yang diluncurkan oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) sejak 30 Mei 2017 lalu, yang melayani dari tempat-tempat tertentu (mall dan hotel) dengan tarif yang kompetitif.

Keberadaan taksi online maupun JAConnexion itu berpengaruh langsung terhadap potensi penumpang KA Bandara Soetta, mengingat tarif KA Bandara sampai Rp70.000,- dan titik pemberangkatan yang di tengah kota Jakarta, sehingga bagi orang yang tinggal di Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, maupun Jakarta Barat tentu akan memilih menggunakan alat transportasi selain KA Bandara.

Pada saat dirancang 15 tahun silam mungkin perkiraan jumlah penumpangnya tentu tinggi karena masih terbatasnya sarana angkutan umum menuju Bandara Soetta. Namun sekarang, dengan banyaknya aternatif angkutan umum menuju Bandara Soetta, target jumlah penumpang tersebut perlu ditinjau kembali; sangat mungkin tidak setinggi saat perencanaan dulu.

Jumlah penumpang KA Bandara amat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tarif, waktu tempuh, kemudahan aksesibilitas/konektivitas, serta kualitas layanan.

Pertama, tentang tarif. Tarif dalam transportasi sebetulnya ditentukan oleh besaran investasi dan jangka waktu pengembalian investasi, serta target penumpang yang ingin dicapai. Makin besar investasi yang dikeluarkan dan makin pendek jangka waktu pengembalian investasi, maka tarifnya cenderung mahal, terlebih bila permintaan (demand) kecil.

Hanya saja, tarif dalam transportasi tidak pernah murni pertimbangan ekonomi semata. Artinya, ketika tarif itu terlalu tinggi sementara sarana transportasi tersebut dirasakan menjadi kebutuhan publik, pemerintah dapat melakukan intervensi melalui pemberian subsidi sehingga tarif dapat diturunkan.

Namun, dalam kasus KA Bandara Soetta, hal tersebut dapat menimbulkan perdebatan panjang, terkait dengan ketepatan pemberian subsidi yang dinikmati oleh golongan menengah ke atas. Padahal, di mana pun, subsidi itu diberikan untuk golongan tidak mampu.

Kecuali itu, dalam Peraturan Presiden No. 83/2011 tentang Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana KA Jabodetabek dan KA Bandara Soetta dinyatakan bahwa penyelenggaraan prasarana dan sarana tersebut tidak menggunakan dana APBN. Sementara subsidi itu menggunakan APBN.

Kedua, tentang waktu tempuh. KA Bandara Soetta memberikan alternatif ketepatan waktu tempuh, dibandingkan naik mobil atau bus yang lama perjalanannya sulit diprediksi karena amat tergantung pada kondisi lalu lintas. Jika lancar, jarak Blok M - Bandara Soetta bisa ditempuh kurang dari satu jam, tetapi waktu tempuh bila macet dapat mencapai tiga jam. Jadi dari segi waktu tempuh KA Bandara Soetta memberikan alternatif yang bagus.

Ketiga, tentang aksesibilitas dan konektivitas. Aksesibilitas dan konektivitas amat berpengaruh terhadap putusan seseorang untuk menggunakan KA Bandara Soetta.

Jika aksesibilitas menuju dan dari stasiun KA Bandara Soetta mudah, aman, dan nyaman; maka kemungkinan orang untuk menggunakannya tinggi. Terlebih bila konektivitas antar moda transportasi yang ada juga bagus, maka besar kemungkinan orang untuk memilih menggunakan KA Bandara Soetta. Sayang, soal aksesibilitas dan konektivitas ini masih menjadi catatan bagi KA Bandara Soetta.

Sebagai contoh, orang dari Depok yang mau menggunakan KA Bandara Soetta, mereka terlebih dulu naik KRL Jabodetabek yang melintasi Tanah Abang. Mereka turun di Stasiun Sudirman.

Sayang, dari Stasiun KRL Sudirman menuju ke Stasiun KA Bandara Soetta -atau dikenal dengan Stasiun Sudirman Baru- harus jalan kaki sekitar 400 km dengan fasilitas pedestrian yang kurang save. Jika orang tersebut membawa koper, tentu kurang menarik.

Demikian pula ketika sampai ke Bandara Soekarno Hatta. Mereka juga masih perlu jalan agak panjang, dibandingkan bila naik bus atau mobil, yang dapat turun di depan pintu masuk bandara.

Perbaikan akses ke/dari stasiun dan konektivitas antar moda ini hendaknya menjadi prioritas bagi operator agar makin banyak orang menggunakan KA Bandara Soetta.

Keempat, soal kualitas layanan. Hal ini tentu tidak perlu diragukan lagi, mengingat PT Railink sudah berpengalaman mengoperasikan KA Bandara Medan - Kualanamo dengan kualitas layanan yang baik.

Dengan kata lain, kualitas layanan dan kepastian waktu tempuh inilah yang menjadi daya tarik KA Bandara Soetta. Sedangkan aksesibilitas dan konektivitasnya masih perlu perbaikan signifikan.

Adapun mengenai tarif, hal itu merupakan persoalan besar yang perlu dipecahkan oleh pemerintah. Sebab kalau perhitungan tarifnya hanya berdasarkan besaran investasi saja, tentu akan tinggi sehingga akan ditinggalkan oleh penumpang. Namun kalau tarifnya rendah, investasinya tidak bakal balik.

Sedangkan bila harus disubsidi oleh Negara, selain bertentangan dengan Perpres No. 83/2011, juga bakal menimbulkan kecemburuan pada masyarakat di pelosok atau pesisir yang tidak pernah menikmati subsidi transportasi. Ini persoalan besar yang dihadapi oleh KA Bandara Soetta agar tetap lanjut.

Terlepas dari persoalan keberlanjutan operasional KA Bandara Soetta tanpa subsidi, kehadiran KA Bandara Soetta ini patut disambut gembira karena memberikan pilihan makin banyak kepada masyarakat dalam bertransportasi menuju/dari Bandara Soetta. Bagi masyarakat, makin banyak pilihan itu makin baik.

Oleh karena itulah tantangan baru yang muncul pasca pengoperasian KA Bandara Soetta bukan untuk diratapi, tapi diselesaikan secara bijak oleh Kemenhub, Kementerian BUMN, maupun oleh PT KAI.

Darmaningtyas, Ketua INSTRAN (Inisiatif Strategis untuk Transportasi) dan Kabid Advokasi MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia)
BACA JUGA