Meragukan Tagar #EdyOut

Ilustrasi: Sejumlah Bobotoh atau pendukung Persib Bandung melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/10). Mereka memprotes kebijakan PSSI dalam memberi hukuman dan sanksi atas pendukung dan tim Persib karena dianggap tidak adil serta menuntut adanya revolusi dan reformasi di kepengurusan PSSI saat ini.
Ilustrasi: Sejumlah Bobotoh atau pendukung Persib Bandung melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/10). Mereka memprotes kebijakan PSSI dalam memberi hukuman dan sanksi atas pendukung dan tim Persib karena dianggap tidak adil serta menuntut adanya revolusi dan reformasi di kepengurusan PSSI saat ini. | Novrian Arbi /ANTARA FOTO

Di balik ribut-ribut tagar #EdyOut, saya menyimpan suatu keraguan. Saya tak sepenuhnya meyakini andaikata Edy Rahmayadi sungguh-sungguh turun dari kursi ketua PSSI, masa depan sepak bola Indonesia menjadi lebih cerah.

Saya akui bahwa Edy sudah berkali-kali mengatakan opini-opini ‘ajaib’. Sebelum kutipannya yang mengaitkan prestasi timnas dan pemberitaan media tak lama ini menyebar, dia pernah bilang jika kekerasan di ranah suporter itu disebabkan jumlah masyarakat Indonesia kelewat banyak.

Sebelumnya lagi, Edy bilang dia bisa mengemban tiga jabatan sekaligus. Yakni, sebagai ketua PSSI, Pembina PSMS Medan, dan Gubernur Sumatera Utara. Plus, soal anggapan Edy bahwa pesepak bola lokal yang mencari peruntungan di negeri orang itu tak nasionalis bisa masuk dalam daftar ini.

Selain perkataannya, PSSI di bawah kepemimpinan Edy juga sering mengambil keputusan kurang tepat. Misalnya, seperti memutuskan untuk tak memperpanjang kontrak pelatih Luis Milla tak lama sebelum AFF 2018 digelar. Sebagai orang yang dekat dengan Milla di timnas, Bima Sakti kemudian ditunjuk sebagai penggantinya.

Mulanya keputusan ini terdengar logis. Hingga kemudian turnamen sepak bola paling megah se-Asia Tenggara itu digelar. Timnas bermain tak ubahnya Sisifus: sudah tahu pendekatannya gagal, tapi tak berniat untuk mengubah skema. Alhasil lolos ke babak semifinal pun tak dapat diraih. Ini belum soal penyelenggaraan Liga 1 yang masih terlihat dengan jelas boroknya.

Mulai dari tanggal penyelenggaraan yang ngaret sehingga terus bentrok dengan kalender FIFA, yang mana terjadi sejak musim lalu. Atau inkonsistensi aturan pemain muda dan kuota pemain asing yang terjadi pada musim lalu. Juga drama pengurangan poin yang membuat Liga 1 musim 2017 berakhir dengan begitu hambar.

Hingga kegagalan PSSI untuk memberikan solusi konkret atas wafatnya Haringga Sirla, seorang penyokong Persija Jakarta, kala melakukan awaydays untuk menyaksikan tim kesayangannya melawan Persib Bandung dan beberapa kasus wafatnya suporter lain di tahun 2018. Padahal PSSI saat itu telah memutuskan untuk membekukan kompetisi selama dua pekan.

Ini tentu saja belum berbicara soal pembinaan pemain muda yang belum jelas arahnya ke mana meski tim u-16 juara AFF untuk level usia tersebut. Atau hal-hal remeh temeh lainnya seperti kebingungan PSSI perihal cara penjualan timnas yang pada akhirnya membuat suporter menjadi pening.

Jelas PSSI butuh sosok yang cukup berani melihat borok-borok sepak bola dan dengan dengan berani menyembuhkannya. Tapi, sebelum menarik kesimpulan dan mengajak saya untuk tak ragu, saya mau beberkan apa yang dikatakan Gabor Mate suatu waktu.

Kala tampil sebagai tamu dalam acara podcast-nya Russell Brand, Mate mendapatkan pertanyaan perihal kondisi Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Mate, yang merupakan psikolog yang fokus menganalisis perihal kecanduan, bilang kebiasaan Trump menebarkan paranoid melalui media adalah cerminan dunianya tumbuh.

Dan jika orang-orang ‘sakit’ diberikan ruang untuk berkuasa, itu berarti ada yang salah dalam kepala mereka yang memilihnya juga.

Lalu, lihat tulisan Miftakhlul F. S dalam bukunya berjudul “Mencintai Sepak Bola Indonesia Meski Kusut”. Jurnalis yang akrab disapa Fim bercerita tentang kisah pembelotan Persebaya Surabaya dari PSSI karena merasa dicurangi di Liga Super Indonesia (LSI) yang terjadi delapan tahun silam.

Bersama Persema Malang, PSM Makassar dan Persibo Bojonegoro, Persebaya membangun kompetisi tandingan yang dinamai Liga Primer Indonesia (LPI). Aksi ini berujung dengan turunnya Nurdin Halid yang kontroversial itu dari kursi ketua PSSI.

Lantas, apa masalah langsung selesai? Sayangnya, tidak. Djohar Arifin dilantik menjadi ketua PSSI selanjutnya di akhir 2011 dan harus menghadapi problem dualisme kompetisi yang begitu kompleks dengan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI), yang dikomandoi La Nyalla Mattalitti.

Masalah tersebut baru tuntas pada 2013. Tapi, di akhir kepemimpinan Djohar, tepatnya pada April 2015, PSSI dibekukan FIFA karena perkara gaji yang menumpuk dan perkara kepemilikan ganda sejumlah klub pasca peleburan ISL dan LPI.

Salah satunya adalah Persebaya itu tadi. Pada akhirnya, Persebaya yang asli menang dan Persebaya ‘bohongan’, yang lisensinya dibeli dari Persikubar Kutai Barat, berubah nama jadi Surabaya United sebelum menjadi Bhayangkara FC.

La Nyalla ditunjuk sebagai pengganti Djohar di PSSI. Setahun berselang, PSSI memaksa La Nyalla mundur karena terlibat kasus pencucian uang dalam pengelolaan dana hibah Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur dalam kurun waktu 2011 hingga 2014. Perlu dicatat pula masa kepemimpinan La Nyalla juga tak kalah buruknya dari yang sebelum-sebelumnya.

Dari situ, anda akan mengerti bila ada yang tak beres dan tak berubah dari tubuh PSSI selama beberapa tahun ke belakang. Ketua PSSI yang kurang beres hanya bagian kulit luarnya saja.

Tirto pernah merilis artikel perihal konflik kepentingan di tubuh PSSI pada awal tahun silam. Konflik kepentingan yang disebabkan karena sejumlah anggota Exco PSSI, yang merupakan tangan kanan ketua, juga merupakan pemilik klub besar di Indonesia.

Padahal, dalam aturan FIFA, tak boleh pemilik klub rangkap jabatan sebagai pemilik federasi supaya tidak ada kecurangan ketika kompetisi digulirkan. Selain itu, keanehan juga bisa dilihat dari pemilihan ketua PSSI yang terakhir, yaitu pada 2016 silam.

Kala itu Kurniawan Dwi Yulianto menjadi salah satu kandidat menarik. Sebagai sosok yang kenyang pengalaman di sepak bola nasional, kurus dipandang sebagai sosok segar yang bisa membawa perubahan di tubuh PSSI.

Namun, sosok yang akrab disapa kurus itu sama sekali tak mendapatkan suara. Pemilih – Asprov dan klub – memilih untuk menaikkan Edy sehingga suara beliau bisa dibilang signifikan. Ini aneh, sekaligus menimbulkan kecurigaan. Bagaimana mungkin seseorang bisa terpilih menjadi ketua dengan persentase hampir 100%?

Sebagai penutup, saya akan memberikan pesimisme saya. Kelak tagar #EdyOut akan terlupakan ketika timnas bertanding atau laga liga digelar. Lalu, kembali muncul ketika terjadi peristiwa memalukan di sepak bola kita. Terus begitu seperti siklus. Atau mungkin, tagar ini betulan terealisasikan. Lalu ketua baru yang tak kompetennya masuk menggantikan.

Kompleks sekali, ya? Ya, begitulah. Tak hanya kepala PSSI saja yang selama ini sakit. Tapi juga sendi, tulang, urat dan dagingnya.

Arif Utama, penulis yang tertarik dengan isu sepak bola, musik, dan kebudayaan populer.
BACA JUGA