Dangdut tidak hanya dinikmati oleh kalangan kelas bawah, namun turut dinikmati oleh masyarakat kalangan gedongan di diskotek, semisal Chandra Parwitra, Celebrity Discotheque, dan Hotel Indonesia.

Per 10 Agustus 2018, video lagu "Sayang" yang dinyanyikan Via Vallen di Youtube pada gelaran Indonesian Choice Awards 5.0 Net buatan NET.TV telah ditonton sebanyak 21.057.256 kali. Video itu adalah rekaman penampilan Via pada 29 April 2018.

Dalam acara penghargaan untuk lagu, penyanyi, artis, hingga tokoh Indonesia itu; NET.TV mengundang Haille Steinfeld, Craig David, Raisa, Isyana Sarasvati, Tulus, Glenn Fredly dan lainnya. Kehadiran Via Vallen, seorang biduanita dangdut, dalam acara itu tentu mengejutkan.

Mengapa Via Vallen? Direktur Utama NET.TV, Wishnutama, menyanjungnya sebagai penyanyi terbaik. “She is the best!” katanya dalam rekaman acara "Ini Talk Show" edisi ke-1199. Dalam penjelasannya tentang alasan memilih dangdut dan Via dalam gelaran tersebut, Wishnutama dengan tegas menyatakan pekerjaan rumahnya adalah mengemas agar lebih masa kini.

Alhasil, dalam gelaran itu, Wishnutama dan NET.TV menyulap dangdut sedemikian rupa. Via menjadi sangat berbeda ketimbang penampilan sebelumnya ketika berada di panggung luar kota.

Atas saran Wishnutama, Dhany (Wardobe) tidak memakaikan gaun gemerlap ala biduan dangdut, melainkan mengenakan jas pada tubuh Via. On frame, para penari latar dalam jumlah besar yang menemani Via ketika menyanyi juga ikut membuat panggung megah tersebut terkesan ramai.

Berkat kerja "sulapan" tersebut, penonton pun dikonotasikan bergembira. Tayangan yang juga turut menampilkan beberapa artis tengah berjoget itu mengamini bahwa dangdut bisa diapresiasi dan dinikmati semua kalangan.

Pasca-pertunjukan tersebut beragam komentar terpampang: mulai dari pujian atas penampilan Via Vallen, konsep pertunjukan yang megah, musik yang modern, hingga soal dangdut berkelas atau naik kelas.

Lantas apakah pujian tersebut salah? Tidak.

Namun kita perlu bertanya, apakah dangdut itu berkelas ataukah hanya dikonstruksikan berkelas oleh mereka yang hanya berkepentingan menjual produk?

Konstruksi kelas yang ingin dilanggengkan

Ketika Via Vallen dan lagu "Sayang" didapuk menjadi salah satu bagian acara dari penghargaan NET.TV, sontak kalangan dangdut koplo cukup bahagia. Membawa Via Vallen dan lagu "Sayang" secara otomatis turut menyertakan dangdut koplo di dalamnya. Muncul imajinasi bahwa dangdut koplo dapat diapresiasi secara luas.

Pasalnya jelas, secara historis, dangdut koplo "diharamkan" oleh raja dangdut Rhoma Irama--sekaligus oleh para pengikutnya, termasuk bahkan PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia) sekalipun. Bagi mereka, dangdut koplo bukanlah dangdut.

Oleh karena itu wacana Wishnutama menggandeng Via Vallen mempunyai dampak bak juru selamat bagi pegiat dangdut koplo. Namun, alih-alih sesuai dengan harapan, hal tersebut justru berbeda dari imajinasinya.

Lagu bertajuk "Sayang" yang dinyanyikan Via Vallen terdengar tidak seperti biasanya. Terjadi perubahan besar pada kemasan di sana sini, terutama pada garapan musik.

Wishnutama mengajak Ronald Steven, seorang musisi muda, untuk mengakali musiknya. Ronald, yang tidak mempunyai pengalaman pada musik dangdut, mengaransemen lagu "Sayang" dengan membawa titipan pesan Wishnutama. Yakni, dangdut extraordinary dan gaya modern. Tak hanya bergaya modern, Ronald turut menyisipkan aransemen musik string dari Lucky Kaanx laiknya sebuah orkestra.

Merasa ada yang kurang pada garapan tersebut, Wishnutama memasukkan unsur dangdut versi dirinya. Yakni, menemani dan menginstruksikan Juned Takdut ketika proses rekaman (recording) berlangsung.

Lantas apakah semangat dangdut koplo telah tersemat bersama Via Vallen dan lagu "Sayang"? Secara musikalitas terjadi perubahan besar yang dilakukan pada beberapa segi.

Pertama, kendangan dangdut terasa lebih melayu ketimbang koplo. Pasalnya dangdut koplo mempunyai dominasi bunyi kendang "dang", "tak", dan "tung" ketimbang "dang" dan "dut" ala dangdut Rhoma Irama.

Kedua, tempo kendang yang dimainkan terasa lebih lambat ketimbang lazimnya tempo kendang dangdut koplo.

Ketiga, progresi chord yang dikerjakan oleh Ronald memang memesona tapi tidak sesuai dengan semangat koplo. Dalam hal ini; progresi chord dangdut koplo yang tak terlalu rumit justru menjadi ruang improvisasi kendang, senggakan, dan joget.

Keempat, posisi senggakan yang diletakkan sekehendak hati. Padahal senggakan pada dangdut koplo dapat disikapi sebagai patahan sekaligus klimaks pada alunan musik. Oleh karena itu posisinya pada akhir verse atau chorus.

Sedangkan pada lagu versi NET.TV, senggakan laiknya O A O E yang bahkan ditempatkan di tengah verse.

Kelima, lagu "Sayang" di NET.TV menggunakan skema recording, bukan pertunjukan live dari orkes melayu tertentu. Padahal tanpa orkes melayu yang dipertunjukkan secara live, nyawa dan roh dangdut koplo terasa tidak tersampaikan.

Dari kelima poin di atas, lantas apakah yang dilakukan NET.TV keliru? Dalam bingkai kreativitas, tidak ada yang keliru.

Namun, dari sini kita dapat melihat bahwa mereka yang ingin mengubahnya tidak menyertakan pengetahuan yang cukup atas apa yang mereka ubah. Mereka justru menciptakan dangdut versi NET.TV; alih-alih membawa dangdut koplo, dangdut, lagu "Sayang" atau Via Vallen.

Hal ini kiranya sesuai dengan analisis Bell Hooks. Dalam Eating The Other: Desire and Resistance, intelektual Amerika itu melihat upaya satu kelompok yang ingin membawa unsur dari kelompok lainnya tapi justru menciptakan konstruksi sekehendak hati mereka ketimbang membawa apa yang ada di kelompok lain tersebut. Mereka tidak membawa narasi yang sebenarnya, melainkan menggunakannya untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

Oleh karena yang terutama adalah kepentingan, maka konstruksi yang tidak sesuai dengan narasi sebenarnya mungkin bukan merupakan sesuatu yang penting. Secara lebih lanjut, hal yang lebih berbahaya adalah dengan konstruksi tersebut mereka justru menstimulasi perbedaan kelas semakin tebal dan terus langgeng.

Melawan mitos dangdut berkelas

Bagian deskripsi video penampilan Via Vallen dalam Indonesian Choice Awards 5.0 NET di kanal Netmediatama--kanal resmi NET.TV di YouTube--berisi pernyataan, "Dan pertama kali dalam sejarah NET.TV menghadirkan Via Vallen yang dikemas dan diaransemen musiknya secara berkelas."

Dari pernyataan di atas setidaknya kita dapat melihat dua hal penting.

Pertama, dalam sejarah NET, kehadiran Via Vallen sebagai penyanyi adalah yang pertama. Hal ini jelas menunjukkan bahwa sebelumnya dangdut tidak mempunyai tempat pada stasiun televisi yang dikonotasikan modern dan kekinian tersebut.

Kedua, musik Via Vallen dikemas dan diaransemen secara berkelas. Malam itu Via tidak bisa tampil laiknya di panggung lazim. Ia harus dikemas dan musiknya harus diaransemen sehingga "berkelas".

Pernyataan ini justru memberikan jarak antara dangdut dan musik lainnya. Secara lebih lanjut, mereka mendukung bahwa ada musik dangdut yang tidak berkelas dan dangdut yang mereka ciptakan berkelas.

Namun apakah pernyataan dangdut berkelas itu benar adanya?

Jika menilik sejarah, dangdut memang diposisikan rendah. Dangdut dikonotasikan sebagai musiknya orang kelas ekonomi menengah ke bawah. Hal inilah yang kiranya terus dipercaya secara massal.

Padahal selera musik tidaklah terberi, melainkan terbuat. Dan kelas pada musik hanyalah sekelumit konstruksi selera yang dibuat oleh kalangan lainnya.

Atas hal ini, antropolog seni Lono Simatupang telah menguraikan kelas pada musik dangdut. Di dalam penelitiannya pada tahun 1996, Lono telah menunjukkan bahwa dangdut tidak hanya dinikmati oleh kalangan kelas bawah, namun turut dinikmati oleh masyarakat kalangan gedongan di diskotek, semisal Chandra Parwitra, Celebrity Discotheque, dan Hotel Indonesia.

Bahkan dangdut menjadi musik Indonesia dengan mengisi beberapa acara penting negara, semisal Semarak Dangdut 50 Tahun Indonesia Emas, Pesta Rakyat Indonesia Emas, Pesta rakyat Langlang Buana, dan sebagainya, bahkan hingga kini.

Lantas, apakah kita masih harus percaya bahwa dangdut adalah musik kalangan menengah ke bawah, sehingga dangdut harus dikemas berkelas? Jika iya, lantas berkelas yang bagaimana dan versi siapa yang harus dikiblatkan, bahkan diikuti?

Dari sini, kiranya kita dapat berpikir kritis bahwa berkelas adalah jebakan selera yang terus dilanggengkan bukan untuk mewakili ekspresi persona atau kelompok, kultural atau sosial, melainkan hanya soal untung-rugi, jual-beli, dan siapa yang berkuasa di industri bernama televisi.

Penulis turut aktif di pelbagai komunitas, seperti: LARAS–Studies of Music in Society dan SENREPITA (Dance Scholar Community) dan aktif meneliti dan menulis untuk ranah musik populer (dangdut), tari kontemporer, dan seni pertunjukan yang tersebar di jurnal ilmiah, prosiding, bunga rampai, majalah, koran, zine, serta artikel online di pelbagai portal daring seni budaya. (Catatan redaksi: Artikel telah dikoreksi dalam hal pengutipan komentar Wishnutama tentang Via Vallen. Sebelumnya tertulis "ketika dihubungi Beritagar.id". Wawancara Beritagar.id dengan Wishnutama tidak berkaitan langsung dengan tulisan opini ini. (18/8/2018))