Mudik lebaran dan pertumbuhan ekonomi daerah

Ilustrasi: Petugas memasang rambu lalu-lintas di jalur alternatif lingkar utara-Pantura, Tegal, Jawa Tengah, Senin (27/5/2019).
Ilustrasi: Petugas memasang rambu lalu-lintas di jalur alternatif lingkar utara-Pantura, Tegal, Jawa Tengah, Senin (27/5/2019). | Oky Lukmansyah /ANTARA FOTO

Mudik -yang konon berasal dari kata “udik”- tidak hanya merupakan aktivitas bernuansa agama dan budaya, namun juga memiliki nilai dan potensi ekonomi. Ritus tahunan masyarakat Indonesia yang dilakukan di hari-hari terakhir bulan Ramadan atau menjelang hari raya Idul Fitri ini menjadi salah satu stimulus meningkatnya pertumbuhan ekonomi daerah.

Pergerakan manusia secara serentak dari satu tempat ke tempat lain dalam jumlah besar tentu diikuti juga dengan pergerakan uang. Dalam leksikon ilmu ekonomi, perputaran uang yang besar dan cepat atau velocity of moneyakan mendorong produksi barang dan jasa terutama di sektor riil. Ini artinya, aliran uang sebagai konsekuensi dari adanya pergerakan manusia (pemudik) ini akan menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi regional.

Seturut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pemudik dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami kenaikan signifikan. Pada tahun 2013, BPS mencatat jumlah pemudik mencapai 22, 1 juta orang. Jumlah itu meningkat menjadi 23 juta orang pada tahun 2014. Di tahun 2015, jumlah pemudik melonjak menjadi 23, 4 juta orang. Di tahun 2018 lalu, jumlah pemudik tercatat mencapai 18, 9 juta orang.

Banyaknya jumlah pemudik tentu berbanding lurus dengan besarnya perputaran uang. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI mencatat, pada tahun 2018 jumlah uang berputar selama musim mudik mencapai 197 triliun rupiah. Jumlah itu terdiri atas 138 triliun pengeluaran selama mudik dan 59 triliun remitansi (aliran uang dari pekerja di luar negeri ke dalam negeri). Jumlah ini setara dengan 9 persen Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara atau 1,3 persen Pendapatan Domestik Bruto (PDB) tahun 2018.

Lebih mencengangkan lagi, perputaran uang sebanyak itu terjadi dalam rentang waktu yang sangat singkat. Yakni, sekitar 14 hari saja.

Tahun ini, BPS memprediksikan jumlah pemudik mencapai tidak kurang dari 19 juta orang. Sementera Kementerian Perhubungan RI melakukan prediksi atas sebaran pemudik ditinjau dari alat transportasi serta jalur mudiknya.

Dari sisi alat transportasi, sebagian besar pemudik -yakni 4,46 juta orang atau setara 30 persen- akan menggunakan bus. Sementara 4,3 juta atau 28,9 persen lainnya akan menggunakan mobil pribadi. Sisanya menggunakan kapal laut dan pesawat terbang.

Sedangkan dari sisi jalur, sebanyak 40 persen pemudik akan melewati jalur tol Trans Jawa, 27 3 persen jalur Pantai Utara, 8,5 persen jalur lintas selatan, 3,4 persen jalur lintas Selatan-Selatan, 12 persen jalur alternatif dan 8,8 persen jalur Trans Sumatera.

Dari sisi ekonomi, jumlah uang berputar selama mudik diprediksi mencapai 217,1 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 13,5 persen. Hal ini dipicu oleh kenaikan jumlah THR dan gaji ke-13 yang diterima oleh Pegawai Negeri Sipil.

Selain itu, kenaikan jumlah perputaran uang pada musim mudik 2019 ini juga dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi kuartal II yang mencapai 5,27 persen. Angka tersebut merupakan angka pertumbuhan tertinggi sepanjang tahun 2018.

Redistribusi kekayaan

Fenomena mudik lebaran dengan perputaran uang yang sedemikian besar ini menciptakan apa yang dalam teori ekonomi disebut sebagai redistribusi kekayaan. Uang dalam jumlah besar mengalir dari wilayah urban sebagai pusat-pusat ekonomi dan industri ke wilayah rural.

Redistribusi ini bisa dibedakan ke dalam dua kategori. Yakni, pemudik sektor informal dengan penghasilan rendah dan pemudik sektor formal berpenghasilan tinggi. Dua kelompok ini punya karakteristik membelanjakan uang yang berbeda pada saat mudik lebaran.

Kelompok pertama umumnya membelanjakan uangnya untuk kebutuhan-kebutuhan dasar seperti membeli kebutuhan lebaran (makanan, minuman, pakaian baru dan sejenisnya), membeli barang elektronik atau memperbaiki rumah. Sedangkan kelompok kedua lebih banyak membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang berhubungan dengan kesenangan dan hiburan, seperti berwisata, menikmati kuliner daerah sampai membeli oleh-oleh.

Dalam konteks inilah, daerah-daerah yang menjadi tujuan para pemudik idealnya memanfaatkan momen mudik lebaran untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional. Pemerintah daerah, sebagai otoritas yang berwenang di daerah seharusnya mengambil langkah-langkah strategis untuk menyambut para pemudik berikut aliran uang yang mengalir ke daerahnya.

Hal ini penting mengingat acapkali tingginya permintaan barang-jasa selama musim mudik tidak sebanding dengan jumlah ketersediaannya. Konsekuensinya, terjadi lonjakan inflasi. Diperlukan sinergi antara pemerintah daerah atau kota dengan pelaku usaha untuk meminimalkan kesenjangan antara jumlah supplydan demandagar nantinya tidak terjadi inflasi.

Selain itu, pemerintah daerah juga perlu memperhatikan sejumlah hal agar momentum mudik ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan daerah dan berpengaruh pada pertumbuhan ekonominya.

Pertama, memastikan perjalanan pemudik berjalan lancar. Tahun ini diprediksikan para pemudik akan lebih memilih jalur darat. Kondisi ini tentu merupakan imbas dari naiknya harga penerbangan domestik sejak awal tahun lalu. Untuk itu, pemerintah daerah harus memastikan kelayakan jalan yang dilalui pemudik, termasuk memastikan fasilitas lainnya seperti ketersediaan penerangan jalan dan sarana area istirahat (rest area).

Kedua, memperkenalkan sekaligus mempersiapkan tujuan wisata daerah unggulan agar menarik para pemudik. Sektor ini penting digarap lantaran sebagian besar pemudik yang bekerja di sektor formal berpenghasilan besar umumnya menghabiskan waktu libur lebarannya untuk berwisata. Dalam hal ini, pemerintah daerah harus mempersiapkan kawasan wisata unggulan hingga ke detail paling kecil seperti ketersediaan lahan parkir atau toilet yang aman, bersih dan nyaman.

Acapkali, pemerintah daerah lalai mempersiapkan kawasan wisata unggulan sehingga membuat pengunjung merasa tidak nyaman, misalnya dengan banyaknya preman di kawasan wisata atau pedagang makanan-minuman yang memberi harga tidak masuk akal.

Ketiga, pemerintah daerah harus mendorong para pelaku industri kreatif baik kecil, menengah maupun besar untuk gencar mempromosikan hasil produksinya kepada para pemudik. Aliran uang dari kota ke daerah ini harus dimanfaatkan betul untuk menggenjot sektor ekonomi kreatif, terutama yang berhubungan dengan makanan, pakaian dan juga kerajinan tangan.

Arkian, kita semua tentu berharap musim mudik kali ini berjalan lancar. Ingar-bingar politik pasca Pemilihan Umum 2019 kiranya tidak terlalu berpengaruh signifikan pada animo masyarakat dalam merayakan lebaran dan mudik ke kampung halaman. Lebih dari itu, musim mudik tahun ini semoga bisa menjadi momentum terciptanya redistribusi kekayaan dan terwujudnya pemerataan pertumbuhan ekonomi.

Desi Ratriyanti, bergiat di Indonesia Muslim Youth Forum.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR