20 TAHUN REFORMASI

Musik pergerakan

Ilustrasi: Musisi JRX SID dan kelompok musik Marjinal beraksi di atas panggung saat pentas puisi dan musik memperingati 20 Tahun Reformasi "Kembali Ke Rumah Rakyat" di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/5).
Ilustrasi: Musisi JRX SID dan kelompok musik Marjinal beraksi di atas panggung saat pentas puisi dan musik memperingati 20 Tahun Reformasi "Kembali Ke Rumah Rakyat" di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/5). | Ismar Patrizki /ANTARA FOTO

Setiap kali pada bulan Mei, pasca kejatuhan Soeharto dari kursi presiden, kita selalu mengingat kejadian itu sebagai awal reformasi. Banyak orang berharap kepada hal baru yang dapat memuaskan hati rakyat.

Namun sebagian lain beranggapan bahwa ini hanya ganti pemerintahan. Presiden Jenderal (Purn) Soeharto berganti ke Presiden BJ Habibie, Presiden Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, Jenderal (Purn) Soesilo Bambang Yudhoyono hingga Presiden Jokowi.

Tulisan ini bukan mau berdebat soal tersebut; melainkan tentang musik yang menjadi iring-iringan demonstrasi penyemangat perjuangan. Saya adalah salah satu orang yang terlibat di situ, mencatat pengalaman dan mewujudkannya dalam musik.

Awal musik pergerakan

Di Yogyakarta gerakan awal menuju reformasi ditandai dengan demonstrasi ratusan mahasiswa, yang dipelopori mahasiswa fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, pada tahun 1988. Pada tahun itulah saya masuk dan mencoba membuat musik pergerakan. Yakni, catatan peristiwa yang disampaikan lewat musik dan nyanyian.

Setelah demonstrasi 1988 itu, gerakan-gerakan terus bergulir menyatukan berbagai kelompok di Indonesia. Ada banyak peristiwa tercatat selama gerakan tersebut. Pada 1989, ada peristiwa Yogya Berdarah dan peristiwa Kedungombo. Tahun 1990 dan seterusnya pun selalu ada peristiwa yang tercatat dalam musik pergerakan.

Dalam setiap aksi, pengisi acara mimbar bebas adalah pembaca puisi, orator propaganda dan pemusik. Yang paling banyak adalah pembaca puisi dan penyair. Di kalangan para aktivis gerakan, sangat sedikit orang yang mencatat gerakan dan menggubahnya menjadi lagu. Menggubah lagu memang tidak mudah.

Lagu yang bicara

Lagu yang dilantunkan penyanyi pada saat mimbar bebas selalu diikuti oleh peserta aksi. Massa ikut menyanyi lalu menutup lagu dengan teriakan ‘revolusioner’: ”Gantung Soeharto!”

Berkali-kali aksi, berkali-kali lagu dinyanyikan, dan berkali-kali juga yel-yel revolusioner diteriakkan. Ketidaksukaan massa terhadap Soeharto, sang presiden masa itu, pun meluas.

Proses kreatifnya berjalan biasa saja. Peristiwa yang dialami, lalu dituliskan dan dinyanyikan dalam lantunan gitar. Terkadang lantunan nada, yang diiringi gitar, diisi dengan syair yang bercerita tentang suatu peristiwa. Itulah musik yang kami suguhkan kepada massa aksi.

Contohnya, peristiwa Dilli bulan April tahun 1992 yang menewaskan sejumlah orang yang berdemonstrasi. Salah satu korban yang tewas saat itu adalah aktivis dari Malaysia. Peristiwa itu sangat menyita perhatian.

Peristiwa itu menyulut perenungan yang membuahkan syair. Syair itulah yang menjadi bagian dari gubahan lagu berjudul Doa. Lagu itu mengungkapkan kemarahan kepada tentara Angkatan Darat, yang bukan saja terlibat dalam peristiwa Dili itu, melainkan juga terlibat dalam pembunuhan masyarakat sipil di Aceh, Tanjung Priok, Papua hingga peristiwa tahun 1965.

Betul bahwa syair dalam lagu itu melampaui peristiwa Dili itu sendiri, terkait dengan peristiwa-peristiwa lain yang berentet panjang. Kemarahan kepada tentara Angkatan Darat dalam peristiwa Dili itu memicu ingatan kepada peristiwa kejahatan elite pimpinannya saat melakukan pelanggaran HAM di tempat lain.

Contoh lain, lagu yang menggambarkan solidaritas terhadap perjuangan mahasiswa ITB, yang saat itu berdemonstrasi saat Menteri Dalam Negeri Rudini mengunjungi kampus tersebut. Sejumlah mahasiswa yang terlibat dalam aksi demonstrasi itu ditangkap, dikenakan skorsing, hingga dikeluarkan dari kampus ITB Bandung.

Peristiwa itu melahirkan syair yang kemudian menjadi lagu berjudul Satu Kata. Lagu itu berbicara tentang solidaritas terhadap mahasiswa yang dipecat gara-gara peristiwa itu.

Ada juga proses kreatif yang agak berbeda, saat merasakan kesedihan yang sangat dalam atas kondisi tanah air: mengapa tanah kaya ini dirusak elite yang tak peduli keadaan bangsanya?

Dalam proses kreatif itu, yang pertama muncul adalah nada dari iringan grep gitar. Nada-nada itu kemudian disusul dengan syair lagu yang pas. Jadilah, kemudian, lagu dengan judul Luka Anak Negeri.

Lagu ini bicara tentang tanah negeri yang dilukai oleh orang gila, yang harus segera bunuh diri sebagai bentuk pertanggungjawabannya. Orang gila dalam lagu itu menggambarkan elite politik yang menang dengan kemewahannya.

Sedangkan lagu Darah Juang bermula dari kemarahan terhadap negara yang tak bisa apa-apa untuk memakmurkan rakyatnya. Lagi-lagi yang salah selalu adalah elite kekuasaan.

Berlanjut

Pasca reformasi gerakan masih berlanjut. Para aktivis baru juga bermunculan. Begitu pula musisi pencatat peristiwa dengan musik pergerakannya.

Sudah semakin banyak pemusik yang mencipta lagu pergerakan. Ada pemusik Mukti-Mukti di Bandung yang banyak menyanyikan lagu Balada. Ada kelompok Kepal dari Yogyakarta, dan banyak lagi hampir di tiap kota yang punya basis gerakan. Bahkan sekarang telah muncul grup band yang berbasis syair musik pergerakan semacam Marjinal di Jakarta, Lontar di Surabaya, dan seterusnya.

Musik pergerakan selalu ada. Fenomena ini masih terus akan berlanjut. Sang pencatat akan terus bermunculan dan menggarap musik. Ada yang berbentuk pop, ballada, reagge, rock, blues, jazz, keroncong, dang-dut, bahkan apa saja. Yang penting, muatan syair berdasar peristiwa gerakan.

Inilah catatan itu. Inilah musik itu. Inilah musik pergerakan itu.

Selalu ada dan tak kan pernah mati.

John Tobing, pencipta lagu legendaris “Darah Juang”, musisi pencatat peristiwa.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR