Nurhadi-Aldo, katarsis atau jadi apatis

Ilustrasi: Fanpage Nurhadi-Aldo di Facebook
Ilustrasi: Fanpage Nurhadi-Aldo di Facebook | /Facebook

Saat kemuakan terhadap segala macam silang sengkarut persaingan Pemilu 2019 hampir sampai di puncak, Dildo hadir.

Anda yang mengikuti perkembangan media sosial hari-hari belakangan tentu paham bahwa Dildo ini bukanlah Dildo sebagaimana maknanya yang diketahui umum, yakni alat bantu seksual. Dildo akronim Nurhadi dan Aldo, pasangan yang secara kocak diandaikan sebagai poros ketiga dalam konstelasi politik Indonesia.

Siapa Nurhadi dan Aldo? Mereka bukan siapa-siapa. Bukan politisi, bukan juga orang yang bermaksud berkecimpung di panggung politik.

Nurhadi tinggal di Kudus dan sehari-hari berprofesi sebagai terapis. Sejak 2014 dia melucu di Facebook lewat unggahan nyeleneh, nakal, bahkan kadangkala cabul.

Sedangkan Aldo, lengkapnya Aldo Suparman, cenderung berlaku sebagai motivator. Namun jangan buru-buru membayangkan Andrie Wongso, Ary Ginanjar Agustian, atau Gede Prama. Motivasi-motivasi Aldo, nasihat-nasihatnya, pada dasarnya sama ngawur dengan unggahan-unggahan Nurhadi.

Konon, Aldo ini memang bukan siapa-siapa alias sebenar-benarnya fiktif. Wajahnya merupakan hasil rekayasa yang dikreasikan sedemikian rupa oleh desain grafis iseng entah siapa yang tergabung dalam satu komunitas shitpost diFacebook. Aldo disebut sebagai lelaki berusia lepas setengah baya yang memiliki anak bernama Aldi dan kakek dari cucu bernama Farhan.

Shitpost sendiri merupakan aktivitas online yang khusus berkecimpung pada pengerjaan dan pelepasan konten-konten “tidak bermanfaat”. Konten-konten yang walaupun selalu berusaha dikesankan serius, berat, tetapi pada dasarnya sekadar untuk lucu-lucuan.

Nurhadi dan Aldo “disatukan” sekelompok anak muda yang tersebar di sejumlah kota di Indonesia. Antara lain Bandung dan Jakarta.

Anak-anak muda ini menjadikan keduanya seolah-olah kontestan Pemilu Presiden 2019, lengkap dengan poster-poster, tagline, slogan kampanye, dan nomor urut. Bukan nomor urut tiga sebagaimana mestinya –mengingat Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga sudah mendapatkan nomor urut satu dan dua. Melainkan nomor 10.

Nurhadi-Aldo juga punya koalisi pendukung. Namanya sungguh aduhai: Koalisi Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik.

Dalam wawancara dengan Pikiran Rakyatdi Bandung, 3 Januari 2019 (juga dengan BBC Indonesia pada hari yang sama di Jakarta), anak-anak muda yang identitasnya tak ingin diungkap ini menyebut pemikiran menciptakan pasangan calon presiden dan wakil presiden fiktif berangkat dari kegerahan pada kampanye hitam. Pemilu yang semestinya dimaknai sebagai media pembelajaran menuju kedewasaan dalam berdemokrasi justru jadi ajang kelahi.

Alih-alih mengikuti langkah Guruh Soekarnoputra yang melahirkan komposisi-komposisi dahsyat dan rumit dalam Guruh Gipsy untuk melawan kegerahannya terhadap arah musik Indonesia yang kebarat-baratan pada pertengahan tahun 1970-an, para anak muda ini justru mengambil jalan lain. Jalan komedi, lewat humor politik.

Di satu sisi, ini pilihan brilian. Pada Pemilu Amerika Serikat edisi mutakhir yang dimenangkan Donald Trump, humor politik menjadi primadona.

Survei perusahaan analisa siaran televisi, Jumpshot, pada hari‑hari menjelang pencoblosan, warga Amerika Serikat meninggalkan program debat serius dan beralih ke bincang‑bincang satire. The Late Show with Stephen Colbert berada di peringkat pertama, disusul The Daily Show with Trevor Noah,The Tonight Show starring Jimmy Fallon, dan Jimmy Kimbel Live.

Perusahaan analisa siaran televisi lainnya, Alphonso, menyebut fenomena ini berkaitpaut erat dengan kenyamanan. Humor politik menyasar psikologis para pendukung kandidat dan membuat ketegangan di antara mereka mencair. Hanya pada acara-acara tersebut, pendukung Trump dan Hillary Clinton bisa saling ejek dan saling tertawa tanpa tendensi kebencian.

Keberadaan Nurhadi-Aldo menghadirkan fenomena serupa. Guyonan-guyonan mereka, mulai dari soal ideologi, ekonomi, pemerintahan, sepakbola, hingga hoaks dan segala bentuk singkatan dan akronim ajaib, ditanggapi meriah.

Tengoklah ke akun-akun mereka di Facebook,Instagram, Twitter, dan YouTube, nyaris seluruhnya diwarnai tawa. Tentu ada juga suporter garis keras Jokowi dan Prabowo yang nyasar ke sana dan mencoba menyuntikkan pandangan. Yang seperti ini biasanya akan mundur lantaran balik diserang oleh para pengikut Nurhadi-Aldo dengan humor-humor yang tak kalah lucunya.

Begitulah Nurhadi-Aldo, menjadi semacam katarsis. Mereka hadir secara dramatis di tengah luapan emosi yang membekap kedua kubu kontestan. Siapapun kini, siapapun yang merasa gerah pada perseteruan suporter Jokowi dan Prabowo yang makin kerap mempertengkarkan hal-hal tak logis, akan merasa punya pelarian.

Nurhadi-Aldo, dalam beberapa kesempatan, bahkan bisa menjelma antitesis yang secara menakjubkan mampu menyatukan pihak-pihak bertikai. Bukan sekadar lewat kekonyolan-kekonyolan. Lebih jauh, mereka juga memberi contoh perihal cara berkampanye yang benar dan sehat.

Namun di lain sisi, keduanya juga bisa mengancam demokrasi. Popularitas Nurhadi-Aldo yang makin menjulang dikhawatirkan membuat apatisme terhadap pemilu menguat. Apatisme yang berpotensi meningkatkan persentase jumlah kelompok golput.

Sekilas pintas kekhawatiran seperti ini kelihatan berlebihan. Bagaimana mungkin karakter-karakter fiktif, karakter dagelan, bisa membawa pengaruh pada pemilu?

Jawabannya, bisa saja. Kenapa tidak?

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, politik terlanjur dipandang buruk dan kotor. Yakni, satu proses tipu-tipu yang menghasilkan para penipu.

Dekat‑dekat pemilu, politisi kita bermetamorfosis jadi makhluk paling sempurna: tampan/cantik, pintar, tegas, berwibawa, bersih, jujur, amanah, anti korupsi, kaya, dan merakyat. Mereka mendadak bijak dan berlagak suci tanpa dosa. Tiap-tiap kata, sikap, dan tindakan, dijaga betul hingga tak lari barang sedikitpun dari citra kesempurnaan tadi.

Aksi tipu-tipu model begini, lantaran telah berkali-kali ketahuan ngawur dan ngibul, jadi basi; dan membuat angka golput dari pemilu ke pemilu jumlahnya terus bertambah. Sekarang pun kondisinya tidak berbeda.

Kengawuran demi kengawuran, pengibulan demi pengibulan, tetap dikedepankan dengan tampilan yang makin memuakkan. Lalu, datanglah Nurhadi-Aldo yang ngawur dan ngibul dengan seterang-terangnya, sejujur-jujurnya; dan ternyata, banyak yang jatuh cinta.

Ini jelas alamat bahaya bagi kubu 01 dan 02. Alamat bahaya bagi para calon anggota legislatif. Alamat bahaya bagi partai-partai.

Apabila mereka tidak buru-buru mengubah siasat tempur dan tetap saling gempur dengan mengetengahkan isu yang itu-itu saja, Nurhadi-Aldo akan makin mendapatkan cinta. Dan makin dalam cinta hakikatnya bisa membuat orang lupa.

Lupa bahwa Nurhadi-Aldo adalah dagelan. Sekadar lucu-lucuan bisa jadi betulan.

Alamak!

T Agus Khaidir, jurnalis tinggal di Medan.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR