Orang Betawi naik haji

Ilustrasi: Jamaah calon haji kelompok terbang (kloter) 1 embarkasi haji Jakarta-Pondok Gede menunggu proses administrasi dan pemeriksaan kesehatan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin (16/7).
Ilustrasi: Jamaah calon haji kelompok terbang (kloter) 1 embarkasi haji Jakarta-Pondok Gede menunggu proses administrasi dan pemeriksaan kesehatan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin (16/7). | Aprillio Akbar /ANTARA FOTO

Setelah menunggu lebih dari lima tahun, akhirnya paman dan bibi saya berangkat haji pada awal Agustus lalu.

Mereka keluarga yang sederhana, terhitung muslim yang taat: mengaji sekadarnya di masa kanak, dengan kefasihan membaca Quran dan pengetahuan agama yang biasa-biasa saja, tapi setelah berkeluarga, mereka rajin mengikuti pengajian atau acara-acara keagamaan lainnya. Begitu seterusnya hingga hari ini.

Mereka juga bercita-cita naik haji —dan itu tercapai ketika mereka tua. Satu masa ketika mereka tidak lagi disibukkan dengan perkara mengurus anak, sehingga hari tua mereka bisa difokuskan sepenuhnya untuk beribadah. Seraya mengamini nasihat guru-guru mengaji mereka, mereka ingin menjadikan haji sebagai penyempurna keislaman mereka.

Begitulah, haji telah beroleh posisi istimewa dalam kehidupan umat Islam —terlebih-lebih orang Betawi. Bukan hanya karena nilai spiritualnya yang tinggi, tetapi juga karena penyelenggaraannya melibatkan banyak pihak dan perlu biaya yang tidak sedikit.

Berhaji bukan melulu urusan si calon haji dan keluarganya, tetapi juga kerabat dan handai taulan, pegawai bank, satpam, aparat sipil negara, maskapai penerbangan, pramugari-pramugara, tim medis, syeikh, pengelola hotel dan bus, dan seterusnya, dan seterusnya.

Haji adalah ibadah yang paling penuh drama —juga upacara— dan kadang kala memancing pergunjingan warga sekitar.

Melalui haji, kita bisa memastikan status “kemampuan” seorang Betawi. Tentu saja yang saya maksud adalah kemampuan membayar ongkos naik haji (ONH). Apakah ia berhaji atas biaya sendiri atau karena biaya dinas? Apakah ia membayar ONH dengan menabung, menjual tanah, kena gusuran atau dari patungan anak-anaknya?

Selanjutnya: Apakah ia seorang yang taat sebelum naik haji? Kenapa ia ujug-ujug naik haji, padahal selama ini jarang ke masjid atau musala?

Bagaimana ia mempersiapkan diri? Apakah ia akan bertambah saleh setelah naik haji atau biasa-biasa saja? Apakah setelah berhaji ia akan mengenakan peci dan sorban putih ketika salat atau tidak? Apa sebenarnya makna haji bagi yang bersangkutan?

Apakah pergunjingan ini punya pengaruh kepada si calon haji? Tentu saja tidak.

Sebab nilai penting lainnya dari haji adalah pertobatan. Seorang calon haji akan meninggalkan kehidupannya yang kelam atau belum sepenuhnya taat dan menjelang kehidupan barunya sebagai hamba Tuhan yang taat dan penuh kasih kepada sesama makhluk Tuhan.

Haji adalah perpisahan dari segala bentuk kemaksiatan di masa lalu dan menjelang sepenuhnya keikhlasan beribadah dan meraih rahmat Tuhan. Itulah kurang-lebih makna “haji mabrur”—status spiritual yang selalu menjadi idaman si calon haji.

Sebelum Tanah Suci menjadi medan pengamalan dari semua cita-cita religius tadi, seorang calon haji mesti mengosongkan dirinya dari segala beban dan meminta maaf dan keikhlasan kepada sanak-saudara, kerabat dan handai taulan. Orang Betawi punya upacara untuk ini: “pertemuan”, sebuah acara kumpul-kumpul yang bermakna sebaliknya.

Dalam acara itu si calon haji meminta maaf dan berpamitan kepada sanak-saudara, kerabat dan handai taulan dilanjutkan dengan mauludan dan saling mendoakan. Si calon haji didoakan agar selamat dalam perjalanan dan beroleh haji mabrur. Sementara satu-dua dari mereka yang hadir minta didoakan agar mereka juga bisa naik haji nanti. Istilahnya “minta dipanggil” depan Kakbah atau di muka Hajar Aswad.

Keberangkatan calon haji ke asrama haji mesti diawali dengan selametan dan dilepas oleh seorang pemuka agama. Jika bukan guru spiritual si calon haji, pastilah ia adalah imam masjid atau pemimpin upacara keagamaan yang dihormati masyarakat.

Si calon haji dirias sebagaimana pengantin, berdiri di bawah perlangkahan pintu, didoakan beramai-ramai dan diiringi dengan letusan bunyi petasan yang memekakkan telinga.

Saat berangkat, yang mengantar calon haji bukan hanya keluarga, tetapi juga orang-orang sekampung. Itu artinya si calon haji mesti menyewa atau meminjam beberapa mobil demi mengangkut orang-orang sekampung yang ingin ikut mengantar. Atau si kerabat dan handai taulan dengan rela hati meminjamkan mobil mereka demi berada dalam iring-iringan pengantar jemaah haji.

Selanjutnya: deretan mobil penuh orang —dengan pakaian warna-warni sebagaimana saat Lebaran, dengan riasan yang cemerlang pula— bermacet-macet menuju Pondok Gede.

Bagi sebagian kami, mengantar calon haji ke Pondok Gede adalah piknik yang menyenangkan. Sebab kami bisa melihat-lihat kota secara gratis dengan tajaan keluarga si calon haji —ia yang telah didoakan dan diikhlaskan kepergiannya ke Tanah Suci dan diberikan tambahan bekal ala kadarnya saat acara “pertemuan” sebelumnya.

Pada sore hari dan hari berikutnya, ada lagi acara “nengokin”. Yakni, kunjungan anggota keluarga kepada calon haji untuk memastikan kesiapan dan kesehatan mereka sebelum benar-benar keesokan harinya.

Bahkan, jika perlu, keluarga akan mengantarkan calon haji hingga ke bandara untuk sekadar menyaksikan rombongan calon haji dengan pakaian serba-putih melambai-lambaikan tangan dan menaiki tangga pesawat terbang.

Lantas, deru pesawat menjauh. Satu-dua orang menangis. Dan anak-anak—sebagaimana pengalaman saya saat ayah saya naik haji pada 1975—selalu percaya, yang berhaji akan kembali. Bukan dengan status haji mabrur, tetapi dengan oleh-oleh yang banyak.

Sepanjang perjalanan haji itu, keluarga jemaah haji menggelar tahlilan di rumah. Pada mulanya setiap malam selama tujuh hari, setelah itu sekali dalam sepekan hingga si haji kembali ke Tanah Air.

Tahlilan itu dipercaya bisa memberi dukungan spiritual kepada si calon haji—ia baru bisa disebut haji setelah melewati ritual wukuf di Arafah—selama di Tanah Suci. Yakni, menyebabkan kesehatan, keringanan dan kesemangatan dalam melaksanakan seluruh ritual haji.

Bagaimana keluarga di Tanah Air bisa mengetahui kabar jemaah calon haji di Tanah Suci—sebelum badai telepon pintar mengamuk dan membuat anak-anak menjadi pribadi yang anti-sosial?

Tentu saja, telepon rumah, tetapi itu hanya berlaku untuk keluarga yang punya telepon rumah. Yang tidak, cukup mengandalkan kabar atau cerita dari jamaah haji sekampung yang kembali lebih dulu. Siapa tahu mereka sempat berjumpa atau menitip salam untuk keluarga yang ditinggalkan.

Adapun surat —baik yang dikirim melalui pos atau dititipkan— jarang menjadi pilihan. Mungkin ini terkait dengan kemampuan baca-tulis jemaah haji, sebab tidak sedikit dari mereka adalah orang-orang kampung yang tidak paham baca tulis. Jika pun mereka hafal bacaan doa-doa dalam bahasa Arab, itu terjadi karena mendengarkan, bukan karena membacanya.

Inilah yang selalu menjadi bahan cerita rombongan haji setelah tiba di rumah: pengalaman berinteraksi dengan jemaah haji dari berbagai belahan dunia.

Orang Betawi hanya punya satu nama untuk jemaah haji dari Afrika dan sekitarnya: “Orang Item”, “gede-tinggi”. Bagaimana mereka terlibat tawar-menawar dengan pedagang Arab di Pasar Seng yang kerap menghardik “haram!” jika tidak setuju atau “halal” jika setuju —belakang sudah makin banyak pedagang yang berbahasa Indonesia. Termasuk bagaimana “Orang Item” menggoda jemaah haji perempuan dari Indonesia dengan sebutan “Siti Rahmah” dan si jemaah haji mengalami pula apa yang sekarang disebut sebagai “pelecehan seksual”: dirangsek dari belakang atau dipegang salah satu bagian tubuhnya.

Sejatinya, pengalaman berhaji di Tanah Suci membuka wawasan umat Islam yang nota bene orang Betawi tentang pentingnya menghargai perbedaan. Di Masjidil Haram mereka mendapati orang beribadah dengan anutan mazhab yang berbeda-beda dan semua itu tidak menimbulkan perdebatan atau permusuhan di antara mereka. Tidak ada diskriminasi, apa lagi persekusi, untuk umat yang di Indonesia justru kerap mengalaminya: Ahmadiyah, Syiah, waria atau minoritas muslim lainnya.

Jika saja pengalaman akan keberagaman ini bisa dipertahankan dan menjadi kesadaran jemaah haji setelah tiba di Tanah Air, saya kira akan kian mulialah pilihan naik haji di masyarakat kita. Artinya, haji tidak berhenti melulu sebagai “kesalehan personal”, tetapi berkembang menjadi “kesalehan sosial”. Konon ini adalah pula wujud nyata status “haji mabrur”.

Hal yang selalu dibagikan kepada sanak-saudara, kerabat dan handai taulan yang mengunjungi jemaah haji setiba di rumah adalah pengalaman betapa nikmatnya beribadah haji di Tanah Suci. Itulah pengalaman yang selalu membuat mereka ingin mengalaminya lagi di masa datang dan membuat ngiler mereka yang belum sempat berhaji. Kunjungan kepada si haji ini disebut “ngeliat orang pulang haji”.

Selain beroleh cerita, mereka berharap pula mendapat oleh-oleh. Dan oleh-oleh haji selalu spesial karena semua itu dibeli di negeri kelahiran Nabi Muhammad: air zamzam, korma, kismis, kacang arab, minyak wangi, celak, sorban, gamis, kerudung, sajadah. Untuk anak-anak: kamera mainan (dengan slide tempat-tempat ziarah di Tanah Suci), pesawat mainan, jam tangan, abon onta.

Namun, belakangan ada siasat. Oleh-oleh haji tidak lagi dibeli di Tanah Suci, tetapi di Tanah Abang. Sebab, jika semua mesti dibeli di sana bagasi para jamaah haji akan overweightdan kena denda—meski maskapai penerbangan kadang memberi toleransi kelebihan beban hingga satu-dua kilogram. Sudah sejak lama para pedagang di pasar Tanah Abang menduplikasi Pasar Seng yang menyediakan apa-apa yang di masa lalu hanya bisa dibeli di Arab Saudi.

Setelah kembali ke rumah, maka sahlah si jemaah haji menyematkan gelar “haji” atau “hajjah” di depan namanya. Dan di lingkungan masyarakat sekitar yang bersangkutan akan beroleh status istimewa.

Tentu saja, ditambah dengan bacaan-bacaan Quran yang fasih dan pengetahuan agama yang lebih dari orang kebanyakan yang bersangkutan akan mendapatkan keistimewaan mengimami salat, memimpin kenduri dan upacara-upacara keagamaan lainnya.

Jika pun tanpa kelebihan-kelebihan itu, seorang haji tetaplah makhluk Tuhan yang istimewa. Sebab ia punya pengalaman spiritual yang lebih dari orang muslim kebanyakan.

Ia telah mengunjungi Mekah sebagai pusat kosmis umat Islam dari seluruh dunia. Ia telah pula mencium Hajar Aswad, Makam Ibrahim, tawaf mengelilingi Kakbah, salat 40 waktu di Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah, wukuf di Arafah. Bahkan berziarah ke makam Nabi dan para sahabat. Minum air zamzam dari sumbernya yang asali—dan yang juga kerap diabadikan dalam foto: naik onta.

Dalam kehidupan sehari-hari mereka juga berhak mengenakan pakaian serba putih: peci, sorban, baju kurung, kerudung —busana yang hanya boleh dikenakan oleh mereka yang pernah berhaji ke Tanah Suci. Demikianlah, semua busana itu telah menjadi penanda penting para haji dan hajjah di masa lalu.

Hingga kemudian berubahlah semua itu. Terutama ketika menjamurnya kegiatan pengajian dan selawatan yang dipimpin oleh para habib. Tiba-tiba saja setiap orang —tak peduli haji atau bukan— bisa mengenakan busana putih-putih dan berlaku seolah-olah orang paling saleh di dunia ini.

Paman dan bibi saya yang kini tengah bersiap wukuf di Arafah mungkin telah menyaksikan perubahan itu pada cucu lelakinya. Seorang remaja yang semula masuk pesantren dan entah kenapa keluar dan kemudian bergiat di masjid tidak jauh dari rumahnya. Ia berpenampilan umumnya anak-anak muda yang kini gemar menghadiri acara pengajian dan selawatan —dengan iring-iringan motor dan bendera Arab Saudi atau Palestina.

Ya, kini peci, sorban dan gamis putih telah mengalami perluasan makna dan penggunaannya —jika bukan penurunan status. Dari pakaian para elite haji atau ulama di masa lalu, menjadi pakaian orang kebanyakan hari ini. Kini semua itu adalah fesyen. Tidak lebih tidak kurang. Sebuah komoditas yang dipasarkan dengan mengatasnamakan agama dan firman Tuhan.

Namun, pasangan yang sebentar lagi menyandang gelar “haji” dan “hajjah” itu tetap bisa berbangga atau merasa berbeda di tengah amukan gelombang fesyen Islami itu. Pakaian serba-putih yang mereka kenakan kini dan hari-hari kemudian adalah konsekuensi dari pilihan hidup mereka menunaikan ibadah haji.

Pengalaman spiritual berhaji di Tanah Suci tetaplah belum sempat dirasakan oleh sang cucu atau anak-anak sepantarannya; mereka yang kerap mendakwa umat Islam hari ini tengah dizalimi oleh kaum Yahudi dan kafirin global.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR