Panasea pelemahan rupiah

Ilustrasi: Sejumlah kapal kargo melego jangkar di Selat Madura, Jawa Timur, Senin (22/10/2018).
Ilustrasi: Sejumlah kapal kargo melego jangkar di Selat Madura, Jawa Timur, Senin (22/10/2018). | Didik Suhartono /ANTARA FOTO

Ekonomi Indonesia sedang diselimuti awan gelap. Belum hujan yang menyebabkan banjir memang, tapi sudah mendung. Harus mulai waspada.

Apalagi Jerome Powell masih akan menaikkan suku bunga bahkan ekonomi global akan terus terkoreksi akibat kebijakan pemerintah Italia yang menetapkan defisit 2,4 dari PDB dan masih memanasnya perang dagang. Bagaimanapun juga dengan situasi yang demikian, hujan disertai banjir akan datang kapan saja. Mengutip pidato presiden Jokowi, “Winter is coming”.

Awan gelap ekonomi Indonesia terlihat dari terus terkoreksinya rupiah atas dolar. Kinerja rupiah yang payah mencoba diobati oleh Bank Indonesia dengan menaikkan suku bunga acuan dengan mengorbankan devisa.

Tidak cukup hanya dengan menaikkan suku bunga acuan oleh BI, pemerintah melengkapi dengan menerbitkan serangkaian kebijakan proteksi untuk membatasi impor dan menahan proyek-proyek strategis. Sayangnya rupiah tetap melemah.

Hampir seluruh jajaran kabinet pemerintah yakin bahwa awan gelap ekonomi Indonesia disebabkan faktor eksternal. Betul memang, mengingat hampir sebagian besar negara emerging market mengalami tekanan akan tetapi tidak sepenuhnya benar karena Indonesia merupakan negara yang terparah di ASEAN. Problem domestik yang paling dominan karena kebocoran defisit neraca berjalan (Current Account Deficit/ CAD) yang mencatatkan defisit sebesar 3 persen dari PDB pada juli 2018.

Celakanya, solusi pemerintah malah membuat larangan impor yang proteksionis yang diambil pemerintah. Selain tidak akan efektif, kebijakan proteksionis akan memicu kebijakan retalasi atau “tit for tat” negara lain yang terkena dampak proteksionisme pemerintah. Kebijakan yang akan semakin memperkeruh situasi.

Jalan keluar membenahi CAD tidak ada cara lain selain memacu ekspor. Sialnya struktur pasar ekspor Indonesia tidak banyak berubah.

Padahal apabila mengacu pada perkembangan ekonomi global yang mulai bergeser ke Asia dan Afrika terutama India, Indonesia seharusnya mulai menggeser orientasi diplomasi ekonomi ke selatan terutama India. Hal ini sesuai dengan rilis terbaru BPS tentang situasi perdagangan Indonesia per-September yang mencatatkan surplus perdagangan non migas sebesar USD1297,4 juta dan surplus non migas terbesar dicatatkan oleh perdagangan dengan India sebesar USD895 Juta.

Mandeknya diplomasi ekonomi Indonesia dalam memperluas pasar berdampak pada ekspor Indonesia yang masih tergantung pada pasar tradisional seperti Cina, Jepang, dan AS, yang terus mencatatkan pelemahan 3,95 persen atau USD144,43 miliar (YoY) pada 2016. Tidak ada cara lain selain mulai mencari alternatif pasar di luar pasar tradisional.

Langkah INKA untuk melakukan ekspansi ekspor ke pasar non tradisional, misalnya, perlu didorong -bahkan diberi insentif agar memperbesar ekspor apalagi di tengah ketidakpastian global. Terus membaiknya ekonomi Asia Selatan dan Afrika seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memacu ekspor ke kawasan Selatan.

Setidaknya 200 pesanan yang sudah dikirim dan 250 gerbong yang dalam proses pembuatan untuk di ekspor ke Bangladesh, lalu 30 ke Zambia dan 10 ke Sinegal menjadi pintu masuk untuk ekspansi pasar Asia Selatan dan Afrika.

Banyak keuntungan dan modal yang kuat bagi Indonesia apabila fokus memperluas pasar ke Selatan. Keunggulan komparatif bahwa INKA merupakan satu-satunya pabrik gerbong kereta di ASEAN menjadi modal yang bagus tidak hanya untuk menguasai pasar ASEAN akan tetapi juga pasar Asia Selatan dan Afrika yang permintaan atas kereta cukup tinggi.

Ekspor ke pasar Selatan juga berpotensi memperluas efek rembetan untuk ekspor produk pelengkap lainya seperti rel, pembangunan jalur rel, stasiun yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan plat merah lainya seperti BUMN karya. Selain INKA, Pindad dan PAL juga berpotensi untuk memperluas pasar di Asia Selatan dan Afrika.

Sebenarnya Indonesia cukup diuntungkan ketika menggarap pasar Asia Selatan dan Afrika. Secara historis, Indonesia dengan Asia Selatan dan Afrika memiliki sejarah kerjasama yang panjang sejak Konferensi Asia Afrika, dan terbentuknya gerakan non-blok. Sejarah panjang KAA dan gerakan non blok akan menjadikan pondasi yang kokoh bagi diplomasi ekonomi Indonesia.

Pada aspek ekonomi, pasar Asia Selatan dan Afrika terus membesar. Bahkan Harvard's Centre for International Development (CID) memprediksi bahwa pada tahun 2024 India dan Afrika Timur akan menjadi lokomotif ekonomi global dengan pertumbuhan ekonomi di kisaran 7 persen.

Kinerja perdagangan Indonesia dan India misalnya, telah membukukan total perdagangan sebesar USD24,27 miliar pada tahun 2017 dan Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD10,04 miliar. Bahkan pada tahun 2025 perdagangan India dengan Indonesia diproyeksikan akan mencapai USD50 miliar serta kenaikan total investasi mencapai USD50 miliar (Straitstimes, 2018)

Meskipun mengalami kenaikan dan surplus perdagangan, India masih masuk dalam kategorisasi pasar non-tradisional bagi tujuan ekspor Indonesia. India juga jauh tertinggal di sektor investasi dengan hanya mencatatkan peringkat 16 investor terbesar di Indonesia.

Potensi pasar Asia Selatan dan Afrika yang besar dapat dimaksimalkan dengan memacu kinerja diplomasi ekonomi Indonesia. Karena bagaimanapun juga diplomasi ekonomi merupakan ujung tombak bagi Indonesia untuk memperluas pasar.

Diplomasi ekonomi jangka pendek dapat dilakukan dengan memperkuat dan memperluas diplomasi bilateral antara Indonesia dengan negara Asia Selatan dan Afrika. Diplomasi ekonomi jangka menengah dapat dimulai dengan membangun integrasi ekonomi melalui kerangka arsitektur Comprehensive Economic Cooperation Agreement (CECA) dan South – South Cooperation dapat dimulai.

Terus menelantarkan pasar non-tradisional Asia Selatan dan Afrika yang mencatatkan kinerja ekonomi memukau dalam diplomasi ekonomi Indonesia jelas merupakan kesalahan. Betapapun, selain keuntungan ekonomi, hubungan yang erat dengan Asia Selatan dan Afrika dapat menjadi rebalancing dari konstelasi geopolitik dan politik internasional yang dinamis.

Pelemahan rupiah tidak bisa hanya diselesaikan dengan kebijakan proteksi yang malah akan memperumit masalah. Memacu ekspor melalui perluasan pasar adalah jalan keluar yang harus ditempuh.

Pemerintah harus segera mengevaluasi diplomasi ekonomi yang buruk seperti yang selama ini terjadi. Sejak kemerdekaan, Indonesia praktis hanya memiliki kerjasama Comprehensive Economic Partnership Agreement dengan Jepang.

Kalau tidak, jangan berharap rupiah kuat di segala kondisi.

Rafli Zulfikar, peneliti Center for International Studies and Trade

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR