Para pengarang cerita-cerita wagu

© ThunderWaffle /Shutterstock

Seseorang mengarang cerita, pada 25 Desember lalu, melalui akun media sosialnya: "Kristenisasi sudah masuk KONI: Jadi anti-Islam."

Itu cerita yang mudah menyulut emosi, dan yang lazim kita jumpai hari ini adalah ledakan kemarahan, baik dari kalangan pendukung maupun penentangnya. Si pemilik akun mengembangkan cerita seperti itu untuk menanggapi peristiwa tentang seorang siswi SMP yang memilih tidak mengikuti pertandingan karate setelah juri meminta ia mengganti jilbabnya.

Cerita tersebut tidak berdiri sendiri. Ia didukung oleh tulisan di sebuah situsweb yang menyatakan ada tindakan intoleran dan diskriminatif terhadap atlet beragama Islam.

Baik si pembuat cerita kristenisasi maupun situsweb yang ia rujuk tampaknya tidak merasa perlu menanyakan kenapa juri memiliki hak untuk meminta si karateka mengganti jilbabnya. Ia juga tidak merasa ingin tahu apakah jilbab yang dikenakan si atlet sudah sesuai dengan peraturan pada cabang olahraga karate atau tidak.

Ia hanya marah, menuruti gelegak emosi, dan kemudian mengarang cerita seperti itu.

Emosi seseorang, anda tahu, adalah tanggung jawab orang itu sendiri. Jika anda marah pada sesuatu di luar sana, kemarahan itu biasanya berurusan dengan sesuatu di dalam diri anda, dengan cerita yang anda bangun sendiri berkaitan dengan kejadian di luar sana.

Anda menganggap ada ancaman nyata, misalnya, di dalam desain mata uang yang baru saja dikeluarkan oleh pemerintah. Lalu anda mengembangkan cerita bahwa desain itu mengandung bahaya--entah komunisme, atau zionisme, atau kristenisasi, atau boleh apa saja--dan karenanya harus dilabrak. Satu menit berikutnya anda melampiaskan kemarahan, dengan berkicau, dengan menyerang pihak lain, dan dengan menyebut bahwa itu hasil konspirasi.

Sekali lagi, itu murni urusan anda dengan cerita yang anda karang sendiri.

Mungkin suatu hari anda melihat topi sinterklas tergeletak di perempatan jalan, dan anda berpikir bahwa topi itu sengaja diletakkan di sana agar ditemukan oleh anak muslim, dan si anak muslim mengenakannya. Dengan prasangka semacam itu di dalam pikiran, jari-jari anda dengan cekatan mengabarkan: Ada kristenisasi di perempatan.

Anda tidak peduli sekiranya ada orang beranggapan bahwa itu karangan yang wagu, sebab menurut anda ceritanya memang seperti itu.

Sejumlah orang akan menganggap anda mengada-ada, mengidap paranoia, dan suka mengembangkan gambar-gambar suram di dalam benak. Kepada orang-orang itu, anda berseru tegas, "Kalian anti-Islam! Kalian sesat!"

Cerita tentang orang-orang yang sesat adalah lanjutan dari cerita pertama. Jadi, sekarang anda mengembangkan cerita bahwa orang-orang yang tidak sependapat dengan anda adalah orang-orang sesat dan anti-Islam. Anda tidak mampu memahami bahwa orang lain bisa saja memiliki pandangan yang berbeda dari anda. Dan orang yang tidak sependapat dengan anda bukan berarti anti-Islam.

Urusan jilbab untuk cabang olahraga karate sebenarnya sudah dibahas beberapa tahun lalu, dan jilbab yang disepakati untuk cabang olahraga ini pun mudah didapatkan. Para karateka perempuan banyak yang mengenakan jilbab dan mereka boleh bertanding.

Pada cabang-cabang olahraga lain, atlet-atlet putri berjilbab juga sudah bukan pemandangan ganjil saat ini. Di Olimpiade Rio de Janeiro beberapa waktu lalu, saya melihat atlet-atlet perempuan Arab Saudi mengenakan kostum yang menutup aurat untuk semua cabang olahraga yang mereka ikuti.

Sepanjang penyelenggaraan olimpiade, negeri itu baru dua kali mengirimkan atlet perempuannya. Yang pertama di London, pada 2012, setelah ada tekanan dari Komite Olimpiade Internasional agar mengirimkan atlet-atlet putri. Pada waktu itu mereka mengirimkan Sarah Attar dan Wojdan Shaherkani.

Attar bisa menutup tubuhnya lebih rapat di lintasan lari. Shaherkani tidak mungkin melakukannya di cabang olahraga judo, dan gadis itu mengikuti aturan: ia mengenakan penutup kepala namun lehernya terbuka, daun telinga bagian bawah dan anak-anak rambutnya sedikit kelihatan.

Jika anda sejak awal menganggap ada skenario anti-Islam di cabang judo, keharusan mengenakan penutup kepala sebagaimana yang dipakai oleh Shaherkani niscaya anda teriaki sebagai tindakan intoleran. Anda akan ngotot bahwa atlet putri muslim harus diizinkan bertarung dengan kostum yang diatur oleh Tuhan, bukan mengikuti aturan yang dibikin oleh komite olahraga.

Dan seperti itulah antara lain bunyi percakapan sahut-sahutan yang muncul di media sosial berkenaan dengan cerita "Kristenisasi sudah masuk KONI".

Mereka tidak peduli bagaimana di luar sana dunia berkembang dan cabang-cabang olahraga semakin menghargai dan mengakomodasi kepentingan atlet-atlet perempuan muslim. Satu dua kasus memang masih muncul, satu dua kesalahpahaman bisa terjadi, tetapi tidak perlu ada dramatisasi.

Tim basket putri Qatar, sebagai contoh, mengundurkan diri dari Asian Games 2014 karena tidak diizinkan bertanding dengan kostum yang menutup aurat. Mereka tidak berteriak ada kristenisasi; mereka hanya mempersoalkan inkonsistensi peraturan karena di beberapa cabang olahraga lainnya--misalnya dayung, triatlon, dan bulutangkis--atlet-atlet putri boleh mengenakan jilbab.

Sebetulnya tanpa paranoia dan dramatisasi pun saya akan setuju bahwa orang-orang Islam memiliki kewajiban untuk menegakkan agama mereka, itu perintah agama. Dan saya juga setuju bahwa menegakkan agama bukan privilese pemeluk Islam saja. Orang-orang Hindu, Budha, Kristen, Katolik, Konghucu, dan lain-lain saya yakin memiliki kewajiban yang sama untuk menegakkan agama mereka masing-masing.

Persoalannya, apakah penegakan itu akan dilakukan dengan cara-cara abad pertengahan? Atau dengan menggunakan kapak batu seperti di masa berburu dan meramu? Silakan saja. Tetapi gerak mundur rasa-rasanya bukanlah pilihan menarik, selain bertentangan dengan kecenderungan alami peradaban manusia untuk bergerak maju dan meningkatkan diri.

Saya mafhum bahwa agama sangat penting bagi orang-orang beriman, dan negara juga sangat penting bagi orang-orang beriman itu karena mereka hidup di dalam negara, berstatus warga negara, dan terikat pada hukum-hukum negara. Sebagai warga negara Indonesia, setiap orang di negara ini memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kehidupan yang tenteram dan sejahtera.

Karena itu musuh bersama bagi semua warga negara adalah orang-orang yang melalui segala cara telah mempersulit kehidupan sehari-hari orang banyak. Kepala daerah yang bejat, politisi tengik, dan pengusaha kroni jelas musuh semua warga negara. Begitupun para koruptor dan penghasut kebencian. Mereka semua membahayakan bagi kehidupan bersama.

Saya tidak percaya bahwa politisi Hindu yang baik adalah musuh bagi Islam dan agama-agama lain di luar agamanya. Jika ia baik, niscaya ia baik bagi semua. Jika ia politisi buruk, ia bisa menjadi musuh Islam, menjadi musuh Kristen, musuh Katolik, musuh Budha, musuh Konghucu, musuh Hindu juga, dan sebagainya. Ia tidak hanya membahayakan bagi orang Jawa, tetapi juga Betawi, Sunda, Batak, Tionghoa, Arab, dan lain-lain.

Lalu, apakah politisi Islam yang mengajarkan kebencian terhadap Nasrani adalah musuh bagi orang-orang Kristen dan Katolik? Tentu saja. Dan ia juga musuh sangat mengerikan bagi orang Hindu, orang Budha, orang Konghucu, dan orang-orang Islam sendiri.

Islam niscaya hancur jika fondasi utamanya adalah kebencian terhadap non-muslim. Saya yakin Islam bahkan tidak mungkin bisa diterima baik-baik oleh penduduk kepulauan ini jika dahulu, di masa-masa awal kedatangannya, ia masuk dengan cara mengobarkan kebencian.

Barangkali saat ini ada orang-orang yang menyesali, dan ingin meralat, cara-cara lembut yang digunakan oleh para penyebar Islam di masa lalu. Mereka tidak senang pada cara-cara Sunan Kalijaga dengan wayangnya, atau cara Sunan Kudus yang enggan menyinggung perasaan umat Hindu dan memilih menyembelih kerbau ketimbang sapi, atau cara-cara simpatik lainnya oleh orang-orang yang kita kenal sebagai para wali.

Bagi mereka, berdamai dengan perbedaan adalah hal yang buruk, dan melenceng. Karena itu mereka ingin meluruskannya. Kadang orang-orang itu terlihat sangat ngotot: Mereka ingin meralat Indonesia dan menjadikannya semau mereka.

AS Laksana. Seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan wartawan Indonesia yang dikenal aktif menulis cerita pendek di berbagai media cetak nasional di Indonesia.
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.