TRANSPORTASI UMUM

Pekerjaan rumah manajemen angkutan umum Lebaran

Ilustrasi: Kendaraan yang didominasi pemudik melintas di kawasan Jembatan Tol Lemah Ireng 2, Jalan Tol Trans Jawa Semarang-Solo, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (8/6/2019).
Ilustrasi: Kendaraan yang didominasi pemudik melintas di kawasan Jembatan Tol Lemah Ireng 2, Jalan Tol Trans Jawa Semarang-Solo, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (8/6/2019). | Aji Styawan /ANTARA FOTO

Musim lebaran tahun ini telah usai. Ia ditutup dengan cukup memuaskan dengan kinerja pemerintah yang terbilang baik untuk memanajemeni pergerakan manusia mudik dan arus balik yang besar tanpa banyak masalah yang signifikan, seperti yang terjadi pada kejadian Brexit tahun 2016.

Secara keseluruhan, pengguna angkutan umum dan kendaraan pribadi meningkat. Pada H+2 lebaran, sempat muncul catatan turunnya penggunaan angkutan umum untuk lebaran tahun ini. Namun demikian, penurunan ini masih bersifat sementara.

Data Sistem Informasi Angkutan dan Sarana Transportasi Indonesia (SIASTI) Kementerian Perhubungan per Minggu (16/6) pukul 10:20 WIB mencatat hingga H+7 tahun 2019 empat dari lima moda angkutan umum mengalami kenaikan jumlah penumpang.

Jumlah penumpang angkutan bus meningkat sebesar 11,56 persen dari 3,97 juta penumpang ke 4,43 juta penumpang.

Angkutan penyeberangan naik 2,92 persen dari 4,07 juta penumpang ke 4,19 juta penumpang.

Kereta api mengalami kenaikan sebesar 7,18 persen dari 4,77 juta penumpang ke 5,11 juta penumpang.

Angkutan laut naik 6,51 persen dari 1,04 juta penumpang ke 1,11 juta penumpang.

Angkutan udara mengalami penurunan yang besar dari 4,85 juta penumpang ke 3,53 juta penumpang (atau sebesar 27,24 persen).

Jika ditotal, angkutan umum telah mengangkut 18,37 juta penumpang selama lebaran.

Penggunaan mobil mengalami peningkatan rata-rata 23,92 persen dibandingkan tahun 2018. Sedangkan sepeda motor mengalami penurunan rata-rata 8,93 persen.

Jumlah mobil yang digunakan untuk mudik meningkat sebanyak 2,52 juta unit dari 2,14 juta unit, dan arus balik meningkat sebanyak 2,19 juta unit dari 1,82 juta unit.

Jasa Marga mencatat ada 1,21 juta kendaraan yang melintasi tol pada H-7 hingga H-1 lebaran dan ada 0,92 juta kendaraan yang kembali ke Jakarta dari H+1 hingga H+4 lebaran. Dengan membandingkan data SIASTI dan Jasa Marga, kita bisa melihat separuh dari mobil yang tercatat SIASTI mudik melalui tol.

Sementara itu, jumlah sepeda motor untuk mudik turun hingga sebanyak 0,79 juta unit dari 0,82 juta unit dan arus balik sebanyak 0,58 juta unit dari 0,76 juta unit. Penurunan penggunaan sepeda motor sepanjang jalan untuk mudik dan arus balik kemungkinan dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang menyediakan pengangkutan sepeda motor gratis ke kota atau daerah tujuan.

Tren angkutan umum

Pertumbuhan penumpang angkutan umum, baik darat maupun laut, tahun ini kemungkinan dipengaruhi oleh kenaikan harga tiket pesawat. Namun demikian, secara kumulatif pertumbuhan penggunanya relatif kecil dibandingkan penurunan jumlah pemudik yang menggunakan pesawat. Hal ini diperkirakan karena terdistribusinya pengguna ke moda kendaraan pribadi, khususnya mobil.

Kondisi ini sekaligus menunjukkan pertumbuhan ini bersifat sementara dan sensitif terhadap perubahan. Ada kemungkinan peralihan pengguna angkutan umum pada lebaran tahun depan jika tiket pesawat terbang menjadi lebih terjangkau.

Dengan melakukan perbandingan data pemudik pengguna angkutan umum dari tahun ke tahun yang dilansir Beritagar sejak 2014 hingga 2018 dengan mudik lebaran tahun ini, kita dapat melihat kecenderungan penggunaan angkutan umum. Tiga moda yang memiliki tren terus meningkat dari tahun ke tahun dengan stabil adalah kereta api, angkutan penyeberangan, dan kapal laut. Pesawat terbang juga memiliki tren untuk naik, meski sempat mengalami dua kali periode penurunan penumpang secara tajam pada 2015 dan 2019. Sementara itu, bus memiliki kecenderungan menurun pada periode 2014 hingga 2017 dan naik pada periode 2018 hingga 2019.

Secara umum, kenaikan tingkat penggunaan kereta api rata-rata per tahun sebesar 5,59 persen; angkutan penyeberangan sebesar 3,50 persen; kapal laut sebesar 4,19 persen; dan pesawat 0,74 persen.

Tingkat penggunaan bus rendah dengan tren menurun rata-rata sebesar 3,15 persen per tahun, kendati mengalami kenaikan selama dua tahun terakhir. Pada 2014, jumlah penumpang bus untuk lebaran sempat mencapai 5,23 juta orang. Pada tahun ini, kita belum mampu meningkatkan kembali pengguna bus, setidaknya sebesar penumpang pada 2014.

Pekerjaan rumah

Dari seluruh angkutan umum yang tersedia, pemerintah memiliki pekerjaan rumah yang besar terkait bus yang masih belum optimal penggunaannya. Tingkat penggunaan bus juga sangat rendah.

Jika masing-masing bus rata-rata memiliki 50 kursi, maka bus yang digunakan untuk mengangkut 4,43 juta penumpang adalah sebesar 88.686 unit bus. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan jumlah mobil dan sepeda motor yang mencapai jutaan unit.

Di darat, bus bersaing ketat dengan kereta api dan kendaraan pribadi, mobil dan sepeda motor. Dibandingkan kereta api yang memiliki jalur terpisah, bus memiliki posisi yang lebih sulit karena harus berbagi ruang jalan dalam lalu lintas yang bercampur (mixed traffic).

Sejauh ini, kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan bus sangat minim. Orientasi kebijakan pemerintah yakni mengadakan program bus gratis bagi pemudik. Kebijakan ini sendiri juga menimbulkan persoalan karena pemerintah cenderung menggunakan bus pariwisata dan kurang melibatkan bus reguler.

Selain itu, kebijakan tol satu arah dan lawan arus juga tidak mampu mengakomodasi perjalanan bus dengan lebih baik. Pada arus balik, bus-bus ikut terjebak dalam kemacetan di tol Trans Jawa, bahkan perlu menunggu hingga 12 jam untuk bisa berangkat.

Kebijakan ini membuat bus semakin kurang populer di kalangan pengguna. Belum lagi, jika sudah sampai tujuan, pengguna angkutan umum umumnya sulit melakukan perjalanan di tingkat lokal karena buruknya sistem transportasi umum dan fasilitas penunjang pejalan kaki (first mile dan last mile) di kota atau daerah tujuan.

Dari tahun ke tahun, pengembangan infrastruktur ini sangat lambat, kalau bukan tidak ada sama sekali. Pembangunan kedua fasilitas ini masih kalah cepat dibandingkan pembangunan infrastruktur bagi kendaraan bermotor.

Pada lebaran tahun ini, saya menemui trotoar, yang sebetulnya tidak begitu lebar, mendadak dipasangi pot tanaman yang menghabiskan separuh dari lebarnya; trotoar yang hanya memiliki lebar sekitar 20-30 sentimeter tanpa pagar sementara di sampingnya ada saluran air yang lebarnya 0,5-1 meter; hingga trotoar yang terhalang tiang listrik dan telepon.

Bus yang saya gunakan untuk menyambung perjalanan ke desa juga tidak kalah buruk. Selain kondisinya yang menua dan jumlahnya semakin berkurang, bus itu tidak dilengkapi dengan pegangan atau pengaman bagi penumpang yang berdiri.

Angkutan umum sebenarnya memiliki peran strategis penting bagi negara Indonesia saat mudik dan arus balik lebaran. Pertama, mengurangi pergerakan kendaraan pribadi yang mengakibatkan kemacetan sepanjang rute mudik dan arus balik atau di lokasi tujuan. Kedua, meningkatkan keamanan dan keselamatan pemudik. Angkutan umum tetap merupakan moda yang paling aman dibandingkan kendaraan pribadi. Ketiga, mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Dan, terakhir, mengurangi polusi udara.

Untuk meningkatkan pengguna angkutan umum saat mudik, baik itu kereta api, bus, angkutan penyeberangan, atau kapal laut, pemerintah perlu memikirkan sarana dan prasarana yang menghubungkannya, terutama fasilitas pendukung di darat. Pada akhirnya, semua penumpang angkutan umum itu akan melakukan pergerakan di darat.

Yang patut digarisbawahi, masalah transportasi dalam beberapa dekade terakhir ini bukan lagi sekadar masalah untuk mengelola pergerakan manusia dan barang. Transportasi masa kini merupakan salah satu sektor penyumbang emisi GRK yang besar yang mendorong krisis iklim. Kita tentu berharap manajemen angkutan umum tahun depan bisa lebih baik agar kita turut mengurangi emisi GRK dari sektor transportasi.

Sukma Larastiti, bergiat di Transportologi untuk mengembangkan transportasi yang berkelanjutan.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR