Pelajaran dari Topan Harvey

Ilustrasi: Kaum Samaritan membantu mendorong perahu berisi pengungsi ke daratan tinggi saat terjadi hujan badai akibat Badai Tropis Harvey sepanjang Tidwell Road di Houston, Texas, Amerika Serikat, Senin (28/8).
Ilustrasi: Kaum Samaritan membantu mendorong perahu berisi pengungsi ke daratan tinggi saat terjadi hujan badai akibat Badai Tropis Harvey sepanjang Tidwell Road di Houston, Texas, Amerika Serikat, Senin (28/8).
© Adrees Latif / ANTARA FOTO/REUTERS

Topan Harvey yang melanda Amerika Serikat pada 25 Agustus 2017 telah menyebabkan berbagai dampak. Para petugas dan relawan yang melakukan upaya penanggulangan bencana di sana mengalami kesulitan karena dampak topan yang begitu luas dan beraneka ragam. Bencana ini juga menjadi bukti nyata fenomena perubahan iklim yang selama ini diingkari oleh Presiden Amerika Serikat. Indonesia perlu belajar dari peristiwa Topan Harvey untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi fenomena perubahan iklim dan bencana disebabkan oleh faktor hidrometeorologi.

Dampak Topan Harvey

Kota Houston menjadi wilayah yang paling parah terdampak Topan Harvey. Kota terbesar keempat di Amerika ini telah menjadi kubangan raksasa akibat banjir setelah hujan deras yang dibawa badai terjadi. Topan Harvey telah menyebabkan sekitar 60 orang meninggal dunia, transportasi lumpuh, dan jaringan listrik putus (Koran Kompas 30/8). Di antara para korban yang terdampak, terdapat 40 kepala keluarga dari Indonesia yang harus turut mengungsi.

Topan Harvey adalah topan terbesar dalam 50 tahun terakhir yang menghantam Amerika. Kerusakan yang ditimbulkan karena bencana ini antara lain adalah rumah, gedung, dan berbagai infrastruktur. Bencana ini juga menyebabkan kerugian hingga 58 triliun dollar menurut analisis dari Pusat Teknologi untuk Penanggulangan Bencana dan Pengurangan Risiko di Karlsruhe, Jerman. Bahkan, CNN Money menyebutkan bahwa bencana ini menjadi salah satu kejadian bencana yang paling mahal.

Pemerintah sudah menyiapkan berbagai bantuan seperti dapur umum dan bantuan logistik lainnya. Namun, semua bantuan ini berada di tempat yang jauh dan tidak bisa dibawa ke Houston karena bencana menyebabkan banyak infrastruktur jalan yang rusak. Sementara itu, untuk membangun satu pos komando sangat sulit dilakukan karena area terdampak yang sangat luas. Hal ini masih ditambah lagi kerusakan yang terjadi berbeda-beda sifatnya, yaitu karena kombinasi antara angin ribut dan banjir, sehingga menyebabkan respon yang berbeda pula.

Penyebab Topan Harvey

Laman Los Angeles Times melaporkan, bahwa Topan Harvey terjadi karena berbagai faktor seperti kondisi geografis Houston, pembangunan, dan perubahan iklim.

Houston terletak di daerah yang sangat datar, sehingga tidak ada tempat bagi air untuk mengalir. Ketika Harvey datang dan triliunan air tercurah, berbagai sarana penampungan air seperti sungai, danau, dan penampung air yang lain tidak mampu lagi menampung. Lebih parah lagi, dam yang ada tidak didesain untuk mengontrol banjir dan pemerintah harus membuka pintu air. Di sisi lain, tanah di Houston mengalami penurunan karena penambangan minyak, penyedotan air tanah, dan proses alami pergerakan garam, serta proses pembangunan yang masif.

Pembangunan yang terjadi di Houston cenderung tidak terkontrol. Pesatnya laju urbanisasi dan pertumbuhan kota menyebabkan kota ini terus membangun.

Berdasarkan analisis dari Houston Chronicle, antara tahun 1996 sampai dengan 2010 sebanyak 25 ribu hektar rawa-rawa berubah menjadi areal terbangun. Kini, lebih banyak area yang tidak kedap air, area pertokoan, dan jalan raya daripada wilayah yang mampu menyerap air. Hal ini terjadi karena kurangnya zonasi dan pengaturan penggunaan lahan. Akibat dari proses pembangunan ini, maka penduduk dan berbagai bangunan harus menghadapi ancaman bencana seperti Topan Harvey.

Perubahan Iklim

Selain kondisi geografis dan pembangunan, faktor lain yang memperhebat dampak Topan Harvey adalah perubahan iklim. Kendati bukan satu-satunya penyebab, peneliti perubahan iklim Dr. Michael Mann menyatakan bahwa iklim yang berubah telah melipatgandakan dampak topan. Peran perubahan iklim di antaranya adalah meningkatkan dampak topan, meningkatkan intensitas curah hujan dan menyebabkan curah hujan ekstrem, serta meningkatkan tinggi gelombang badai sebagai dampak naiknya muka air laut.

Di antara 'bahan bakar' untuk terbentuknya topan, maka laut memegang peranan yang sangat penting. Dalam hubungannya dengan lautan, maka perubahan iklim memanaskan air laut. Panas ini adalah energi yang meningkatkan badai. Di Teluk Meksiko--tempat asal terbentuknya Topan Harvey--suhu laut lebih tinggi dari normalnya, sehingga energi untuk badai lebih banyak. Selain itu, kondisi ini memicu penguapan air laut untuk menjadi awan dan hujan.

Isu perubahan iklim menjadi sorotan pasca terjadinya Topan Harvey. Hal ini terjadi karena Presiden Amerika, Donald Trump, mengingkari fenomena perubahan iklim ini. Pada kondisi demikian, Topan Harvey seakan-akan menjadi bukti sahih untuk meyakinkan Trump bahwa perubahan iklim benar-benar terjadi.

Iklim yang berubah adalah isu kemanusiaan. Fenomena ini berdampak pada kesehatan dan mata pencaharian manusia. Selain itu, berbagai dampak perubahan iklim juga mengancam bangunan dan berbagai fasilitas yang dibangun oleh manusia.

Kendati dampak perubahan iklim sudah terasa, namun para pengingkarnya (climate deniers) seringkali menolak keterlibatan manusia. Mereka ini umumnya tidak ingin mengubah gaya hidup dan marah jika diberitahu untuk mengubahnya. Mereka juga memiliki kepentingan ekonomi, misalnya terlibat dalam bisnis atau industri fosil seperti minyak bumi dan batu bara.

Pelajaran untuk Indonesia

Peristiwa Topan Harvey menjadi pelajaran yang berharga untuk Indonesia. Topan Harvey menjadi penegas pentingnya perencanaan dalam menghadapi bencana, bahkan untuk negara yang dianggap sudah maju seperti Amerika Serikat. Hal ini perlu dilakukan untuk melindungi masyarakat yang rentan dari ancaman berbagai bencana seperti di Indonesia.

Melihat pengaruh dari perubahan iklim, maka Indonesia juga perlu waspada. Laporan dari Asian Development Bank (ADB) menyatakan bahwa wilayah Asia Pasifik adalah daerah yang paling rentan terpengaruh dampak perubahan iklim. Indonesia sebagai salah satu negara yang berada di wilayah ini dan memiliki kota-kota besar di tepi pantai dapat terpengaruh dampak perubahan iklim yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, kerugian ekonomi, dan korban jiwa.

Dari laporan tersebut, diprediksi peningkatan temperatur sebesar enam derajat celcius akan terjadi pada tahun 2100. Perubahan suhu tersebut akan menyebabkan dampak pada sistem cuaca wilayah, pertanian, perikanan, keanekaragaman hayati, perdagangan, dan pembangunan perkotaan.

Beberapa langkah perlu dilakukan untuk menghadapi ancaman perubahan iklim. Pertama adalah dengan mengubah sumber energi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Kedua menggunakan berbagai materi konvensional seperti lempung dan kayu. Ketiga kota-kota perlu mengintegrasikan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim ke dalam rencana pembangunan dan tata ruang.

Sridewanto Pinuji, alumni Crawford School of Public Policy, The Australian National University

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.