HARI SANTRI NASIONAL

Pendidikan budaya pesantren

Ilustrasi: Sejumlah santri mengikuti pembacaan Satu Miliar Sholawat Nariyah di Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri, Jawa Timur, Minggu (21/10/2018) malam. Kegiatan yang diselenggarakan Nahdlatul Ulama dan diikuti ribuan santri dan umum tersebut guna memperingati Hari Santri Nasional.
Ilustrasi: Sejumlah santri mengikuti pembacaan Satu Miliar Sholawat Nariyah di Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri, Jawa Timur, Minggu (21/10/2018) malam. Kegiatan yang diselenggarakan Nahdlatul Ulama dan diikuti ribuan santri dan umum tersebut guna memperingati Hari Santri Nasional. | Prasetia Fauzani /ANTARA FOTO

Salah satu “penyesalan” Ki Hajar Dewantara mungkin adalah sistem pondok pesantren tidak menjadi sistem pendidikan nasional. Ki Hajar mengatakan itu dalam karyanya, Karja (1962) yang memuji pondok pesantren setidaknya karena dua hal; biaya hidup di pondok yang murah dan teraktualisasinya pendidikan karakter (keteladanan) secara penuh.

Kondisi itu muncul karena santri belajar mandiri saat tinggal di pondok. Memasak, mencuci baju, belanja, dilakukan sendiri. Mereka tinggal bersama guru (kiai, ustad) di lingkungan yang sama selama 24 jam. Karena itu santri memiliki prototipe seorang teladan dalam diri kiai dan senior yang telah mengajar. Pengawasan guru kepada murid bisa berlangsung maksimal.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pondok pesantren adalah hadiah Islam Nusantara bagi Indonesia. Boarding school a la pesantren menunjukkan begitu majunya Islam di Nusantara hingga memunculkan terminologi “pesantren” dan “santri”. Santri sebagai salah satu nomenklatur peserta didik (selain murid, siswa, anak didik) dalam norma pendidikan di Indonesia ini, pantas diapresiasi pemerintah dengan ditetapkannya adanya Hari Santri Nasional (HSN) setiap 22 Oktober sejak 2015.

Terlepas dari berbagai dimensi politis yang melatarbelakangi penetapan HSN, sejarah pendidikan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran pesantren. Jauh sebelum pendidikan model kolonial (sekolah) menjamur di selasar bumi Nusantara, sistem pesantrenlah yang menjadi penjaga nafas pendidikan Islam-kebangsaan di Nusantara. Spirit yang dibawa adalah hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman).

Pesantren menjadi genuine karena posisinya yang strategis sebagai poros yang menggabungkan Islam dan kenegaraan sekaligus. Posisi inilah modal kultural bagi eksistensi pesantren sampai dewasa ini, yang terus dijaga oleh “pesantren besar” bernama Nahdlatul Ulama (NU) untuk meneguhkan peran yang sulit tergantikan.

Saking besarnya jumlah pesantren dan santri, tidak heran jika Abdurrahman Wahid (1984) menyebut subkultur pesantren sebagai bagian dari kultur di Indonesia. Subkultur pesantren memberi dinamika yang mewarnai keberlangsungan ghirah Islam-kebangsaan. Kita pun mengenal budaya pesantren untuk menyebut adanya sistem nilai di masyarakat pesantren yang memiliki banyak irisan dengan budaya luar pesantren.

Tantangan

Dewasa ini pesantren dan santri memiliki tantangan yang tidak mudah. Watak adaptif pesantren sudah ditunjukkan dengan kesediaan mengikuti pemerintah lewat kementerian pendidikan dan kebudayaan dan kementerian agama. Banyak pesantren yang membuka sekolah-sekolah umum di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama sekaligus tanpa kehilangan ruh pesantren.

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Tujuan pendidikan nasional di atas menunjukkan betapa luasnya cakupan pendidikan. Kurikulum dan proses pembelajaran dilangsungkan demi menciptakan insan-insan yang cakap dan religius yang memerlukan usaha ekstra keras dan sabar untuk mewujudkannya. Pesantren memiliki modal untuk mencapai tujuan mulia pendidikan nasional.

Pertama, pesantren yang pada mulanya adalah lembaga untuk tafaqquh fiddin (pemahaman keagamaan) menjadi garansi bahwa santri adalah manusia yang bertakwa pada Allah, berbudi pekerti luhur, dan memiliki kesehatan jasmani.

Kedua, watak adaptif pesantren adalah modal untuk mencetak generasi muda yang memiliki pengetahuan dan keterampilan. Kesintasan masyarakat pesantren dewasa ini perlu ditunjang dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar santri tidak melulu hanya pandai bicara soal agama. Santri masa kini mesti tampil sebagai kosmopolit.

Kurikulum Islam moderat

Indonesia sebagai negara multikultur dan multiagama mempunyai “bahaya laten” konflik horizontal maupun vertikal. Ketidaktepatan mengelola keberagaman ini dapat menjadikan Indonesia rawan dengan pelbagai konflik. Moderasi Islam yang dibuhulkan para santri membuat mereka tidak gegabah melakukan klaim kebenaran dan menyesatkan kelompok lain.

Salah satu entitas yang memiliki dua pengaruh sekaligus adalah agama. Di satu sisi, agama dapat menjadi sumber konflik manakala terjadi radikalisme dan klaim kebenaran sepihak dari suatu corak tafsir agama. Sementara di sisi lain, agama dapat difungsikan sebagai perekat dari potensinya konflik di masyarakat. Ini bisa terjadi saat agama semakin menguatkan fondasi nasionalisme-kenegaraan Indonesia.

Jika kita pahami bahwa fungsi kurikulum adalah sebagai reproduksi kultural dan rekonsiliasi sosial, pesantren dan pengajarannya adalah subkultur kurikulum pendidikan nasional. Kurikulum Islam moderat (wasatiyah) yang dilakukan di pesantren perlu terus kita implementasikan dalam rangka melahirkan generasi muda nasionalis-religius.

Pesantren mengajarkan Islam moderat yang tidak mengingkari fitrah pluralitas Indonesia. Santri adalah orang-orang kosmopolit yang mau menerima keberbedaan dan keragaman. Narasi Islam moderat dalam pesantren dan NU menubuh dalam perilaku warga NU yang menempatkan Pancasila dan NKRI sebagai idealitas penampung beragamnya Indonesia.

Bagi santri, menjadi muslim kaffah artinya menjadi umat Islam dan warga negara Indonesia secara paripurna. Mereka tidak kehilangan akar budaya masyarakat Indonesia. Komitmen santri pada NKRI ditunjukkan dengan sangat bagus dalam hizib Syubbanul Wathan karangan KH. Wahab Hasbullah. Bahwa siapa pun yang mengancam Indonesia akan binasa.

Junaidi Abdul Munif, pengurus Lajnah Ta’lif wa Nasyr (LTN) NU Kota Semarang
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR