Persekusi, jangan hilang jejak

persekusi mengandung intimidasi
persekusi mengandung intimidasi | Julia Tim /Shutterstock

Kalau mau berpikir sederhana, polisi kita tampak cekatan. Di ibukota negara, pelaku persekusi terhadap remaja bernama Mario Alvian cepat diringkus. Bahkan, kasus Fiera Lovita, dokter pengabdi kesehatan di Solok, nun di Ranah Minang, berimplikasi serius secara kelembagaan korps baju cokelat. Kapolri, Tito Karnavian, mencopot Susmelawati Rosya -anak buahnya- dari jabatan Kapolres setempat.

Aksi-reaksi begitu cepat melintas di hadapan kita. Mario dan Fiera, kebetulan menulis soal yang sama. Tepatnya, melempar gundah gulana di media sosial perihal Rizieq Syihab. Tulisan mereka boleh jadi dampratan ketus. Tapi ini menyangkut Rizieq, yang dalam sedikit waktu belakangan ini berubah menjadi simbol yang ditakzimkan oleh para pengikutnya. Rizieq layaknya perekat yang ampuh.

Menepuk dada sendiri, merasa ampuh menjadi kisah dongeng nyata yang kita saksikan. Dari tahun ke tahun berulang-kali Rizieq menggelarnya. Membuat kita seolah-olah sedang berkendara, lalu patuh berhenti seketika saat lampu merah menyala.

Kendaraan untuk menggelar keampuhan itu adalah Front Pembela Islam (FPI); merk yahud yang mengibarkan 'heroisme'. Tentu saja kita bakal mengernyitkan dahi bila diminta mengingat-ingat serentetan aksi jumawa di bawah komando 'imam besar' dari Petamburan itu.

Hitungannya banyak, tapi nadanya tunggal: mendesakkan kebenaran. Mendesakkan kebenaran adalah kerja para pesolek. Mustahil pesolek gagal mencuri banyak perhatian banyak orang. Setidaknya, perhatian ala kadarnya. Itu sudah cukup menjadi pemantik gairah mereka.

Sepertinya, sepak terjang klaim kebenaran yang didesakkan dan merupakan bagian dari mayoritas anak bangsa menjadi kombinasi yang sempurna. Rizieq dan pengikutnya meyakini memenangkan narasi publik.

Jadi, percuma terkejut ketika para pendukung Rizieq merasa jengah atas interupsi yang diacungkan Mario dan Fiera. Namun kita pantas terperanjat terkait akibat yang mendera bocah remaja dan ibu dokter berjilbab dari dua kota yang jaraknya terpaut jauh dan berbeda pula, serupa belaka: dipersekusi. Kita seperti sedang menonton siaran langsung televisi dari stasiun yang sama.

Bila keketusan Mario dan Fiera melukai mereka, mengapa tidak meminta pertolongan kepada polisi? Tentunya, tanpa perilaku sok mendikte. Artinya, biarlah polisi yang bertindak. Hak publik untuk menagih kesigapan polisi.

Alih-alih, dengan cara persekusi pilihan ringkas menyelesaikan masalah, justru berurusan panjang. Sebab, aparat penegak hukum tidak tinggal diam. Ada yang diringkus, ada yang dicopot.

Persekusi dalam kasus ini, betapapun, dalam porsinya yang kecil, telah mengacak-acak tertib sosial. Tetapi, ihwal ketertiban itu terkadang bagai menegakkan benang basah juga.

Risko Mardiano, mahasiswa hukum Universitas Mahaputera Muhammad Yamin, Solok, menyebut dirinya sebagai anak nagari, merasa kampung halamannya dipermalukan. Risko meradang. Dalam surat terbukanya, Kapolri pun disemprot.

Gegabahkah Risko? Pertanyaan itu perlu disikapi hati-hati. Apa perlunya terjebak ke lumpur hitam putih?

Boleh jadi, menyimak protes Risko, Tito tidak menggunakan pertimbangan komprehensif melakukan pencopotan Kapolres. Hanya saja, kepolisian punya aturan internal dan prosedur baku.

Pesan yang dikabarkan Riskolah yang membuat risih. Gara-gara 'hasutan' Fiera berlanjut 'titah buruk' Tito melengserkan Susmelawati, ia lantang mengatakan Solok dipermalukan dua kali dalam satu hentakan.

Pesan seperti itu selalu salah alamat. Persekusi yang menimpa Mario dan Fiera menggunakan logika Risko. Model pola pikir yang tidak pernah terkikis habis dalam benak kita: sepenuhnya merasa terlibat. Jadi, kalau Rizieq dikritisi, pengikutnya wajib naik pitam.

Kemarahan disulap menjadi bendera. Karenanya, harus dikerek tinggi-tinggi. Dan orang Islam yang tidak serta-merta ikut meluapkan banjir amarah, divonis terindikasi iman payah; mungkin setipis kain sutra. Di mata mereka tidak ada tempat bersembunyi bagi imaji yang berbeda. Para pendesak kebenaran senantiasa membuat daftar musuh-musuh, diluar maupun di dalam selimut yang sama.

Kalau Risko menenggelamkan diri pada kampungnya Solok, pelaku persekusi tenggelam dalam simbol umat: ulama. Sebagai warga Solok, tidak ada yang menghalangi-halangi untuk mencintai kampung halaman sendiri. Sebagai muslim, tidak ada yang bisa menyuruh kita untuk tidak mencintai ulama.

Rasa cinta itu selalu membuat orang-orang terjaga, melupakan tiarap. Orang terjaga bisa diajak berpikir (berembug, bersepakat) dalam konteks kebersamaan: hidup dalam bingkai negara. Sebaliknya, orang tiarap lebih mudah diajak menuntaskan tidur panjang.

Kita harus merawat cinta, tetapi tidak dengan cara tenggelam; apalagi berlomba-lomba menenggelamkan diri. Tersebab, kita sama-sama berikrar menjadi anak bangsa, tentu ada banyak hal yang harus kita jaga dalam berinteraksi.

Kalaupun anggapan kita benar bahwa hukum belum sepenuhnya tegak, jangan itu dijadikan alasan kekanak-kanakan untuk ikut membiarkannya perlahan-lahan ambruk. Kita tidak boleh mendesak-desakkan sesuatu, sekalipun yang kita usung adalah kebenaran. Cinta mengajarkan kita tidak ada yang mutlak, kecuali berbagi: duduk sendiri bersempit-sempit, duduk bersama berlapang-lapang.

Prasyaratnya, kita harus selalu berjarak. Karena berjarak, kita butuh saling menjaga bersamaan, bukan keseragaman. Kebersamaan itu menumbuhkan empati. Keseragaman memupuk antipati.

Kalau ada yang ketus terhadap Rizieq, kita tidak perlu menggunakan kaca pembesar bahwa ulama sedang diberangus. Kritik yang baik itu sering kali terdengar sumbang bagi telinga. Jadi, jangan membiasakan diri mengajak orang banyak untuk tenggelam bersama pada situasi yang provokatif. Lalu melepaskan amarah membuncah dalam perilaku destruktif: persekusi.

Persekusi? Ya, Mario dan Fiera korban persekusi.

Tetapi, apakah per definisi atau secara akademis perlakuan terhadap mereka berdua memang benar-benar masuk kategori persekusi? Tentu, perdebatan semantik tetap ada gunanya.

Hanya saja, biasanya, perdebatan seperti itu -bila bukan sekadar menunda apa sedang dikerjakan- bisa juga membuat rikuh mereka yang sedang bekerja. Kita, pastilah, tidak ingin dibelokkan oleh mereka yang biasa memperlama debat, agar pelaku persekusi -atau apa pun namanya- tetap terjangkau hukum.

Afnan Malay, aktivis dan penulis, pernah menjadi staf ahli Ketua MPR Taufiq Kiemas dan Sidarto Danusubroto.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR