Politik: Medan pertarungan tanpa respek

Ilustrasi: "Orang-orang"
Ilustrasi: "Orang-orang" | topform /Shutterstock

Berkendara di jalan raya lintas timur Sumatra memasuki Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, saya melihat di tepi kiri kanan jalan baliho-baliho pasangan Jokowi-Amin. Salah satunya memajang tulisan, seperti sebuah janji: “Rakyat lebih sejahtera.” Di tempat terpisah, baliho kampanye Prabowo-Sandi menawarkan janji “Indonesia Kuat. Indonesia Berdaulat. Indonesia Sejahtera.”

Saya ingin sekali mempercayai mereka. Salah satu dari kedua pasangan itu akan menjadi presiden dan wakil presiden setelah masa pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla berakhir tahun ini. Saya berharap dua-duanya mampu memenuhi janji yang sulit diwujudkan itu.

Memenuhi janji kesejahteraan adalah hal yang sangat sulit karena dua alasan. Pertama, kebanyakan dari politisi kita tidak memiliki kesanggupan memenuhi janji. Kedua, untuk menjadi sejahtera orang memerlukan kecakapan memadai tentang bagaimana menjadi sejahtera. Jika mereka ingin menjadikan Indonesia sejahtera, mereka harus mendidik orang banyak untuk mendapatkan kecakapan itu.

Tetapi kedua pasangan itu tidak terlihat menaruh perhatian pada mutu pendidikan. Tidak ada di antara keduanya yang berjanji akan memperbaiki mutu pendidikan. Tidak ada di antara keduanya yang berminat menjadikan anak-anak sekolah gemar membaca buku.

Mereka tidak tertarik memperbaiki jalan pengetahuan. Kita tahu bahwa penguasaan terhadap ilmu pengetahuan selalu begitu jalannya dari waktu ke waktu: mendapatkan akses seluas-luasnya terhadap ilmu pengetahuan dan mendorong setiap orang menjadi pembelajar.

Orang-orang Yunani Kuno berguru kepada bangsa Mesir Kuno dan pada gilirannya ilmu pengetahuan dari Yunani Kuno menyebar ke jazirah Arab. Kemudian para ilmuwan muslim di zaman awal Islam sangat bergairah mengembangkan ilmu pengetahuan. Bagdad tumbuh dan membangun diri selama 500 tahun untuk mencapai puncak kegemilangan: Kota itu menjadi pusat peradaban pada masanya, sampai ia diruntuhkan oleh serbuan para penunggang kuda dari padang rumput di bawah pimpinan Hulagu, cucu Jenghis Khan.

Orang-orang berkuda mengeluarkan buku-buku koleksi perpustakaan dan membuangnya ke sungai Tigris. Peradaban tak punya jejak ketika semua buku dicemplungkan ke sungai. Orang-orang Islam kehilangan sumber pengetahuan yang sangat penting. Namun para pembelajar dari Barat lebih beruntung. Khazanah ilmu pengetahuan dari para ilmuwan Islam selamat di tangan mereka dalam bentuk karya-karya terjemahan dan mengilhami kelahiran masa Renaisans, sebuah masa yang ditandai dengan semangat untuk berani berpikir sendiri ketimbang tunduk kepada dogma.

Sampai sekarang kita masih mengenali jejaknya. Salah satu kosakata yang paling sering kita dengar saat ini, ketika ilmu komputer berkembang menjadi-jadi dan akan makin menakjubkan di masa-masa mendatang, adalah algoritma (algorithm). Itu kosakata serapan dari bahasa Arab, tepatnya dari nama matematikawan muslim Al Khwarizmi. Dari Al Khwarizmi orang mengenal prosedur langkah demi langkah untuk menyelesaikan soal matematika. Jika prosedurnya benar, hasilnya pasti benar. Prosedur langkah demi langkah dalam matematika dan ilmu komputer itu kemudian dinamai sesuai dengan nama penemunya: Al Khwarizmi, yang dalam penulisan Barat menjadi Algorithmi, yang kemudian menjadi algorithm.

Pada masa yang lebih kemudian, Jepang membangun jalan pengetahuan dengan Restorasi Meiji. Mereka bersemangat memboyong sumber-sumber pengetahuan dari Barat dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Jepang sehingga akses mereka kepada ilmu pengetahuan terbuka seluas-luasnya. Kemudian Korea Selatan mengikuti jejak para pembelajar sebelum mereka. Mereka memacu diri dan sekarang sistem pendidikan mereka menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

Kita menempuh jalan sendiri (selama pemerintahan Orde Baru kita diyakinkan bahwa bangsa Indonesia adalah unik) dan kita gagal menyediakan pendidikan yang bermutu untuk seluruh warga negara. Sekolah-sekolah di pedalaman atau di daerah-daerah terluar hampir selalu buruk mutunya. Proses pembelajaran dijalankan ala kadarnya di tempat-tempat itu. Tidak ada metode pembelajaran yang menjamin keberhasilan, tidak ada buku-buku.

Artinya, akses terhadap ilmu pengetahuan hampir buntu sama sekali. Dan kita memaklumi bahwa memang tidak mungkin pendidikan di daerah terpencil akan memiliki mutu dan fasilitas yang sama dengan pendidikan di kota-kota besar di Jawa. Disadari atau tidak, kita memaklumi ketidakadilan dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.

Untunglah di antara kita selalu ada orang-orang yang memiliki kepedulian. Ada kesadaran yang makin meluas di kalangan anak-anak muda untuk ikut terlibat dalam memperbaiki mutu pendidikan. Mereka menjadi relawan, mereka pergi ke pelosok-pelosok untuk mengajar, mereka memperkenalkan metode pembelajaran versi mereka.

Di tempat tinggal saya saat ini, di Tulang Bawang Barat, pemerintah daerah mengupayakan program sejenis yang disebut Tubaba Cerdas. Itu perbuatan baik, yang dilandasi dengan niat baik, tetapi kegiatan-kegiatan ad hocsemacam itu hanyalah aksi darurat karena pemerintah pusat gagal menyelenggarakan pendidikan bermutu untuk semua warga negara.

Sekarang, dua pasangan kandidat menjanjikan kehidupan yang sejahtera. Dua-duanya didukung oleh para politisi anggota partai dan para relawan. Dan kita memasuki masa buram: setiap bentuk pertarungan politik akan mudah membuat kita gelap mata dan kehilangan respek kepada orang lain.

Saya selalu ingat bagaimana seseorang, yang umurnya masih muda dan secara fisik tampak sehat, membuat tanggapan melalui media sosial terhadap pernyataan Gus Mus, seorang kiai sepuh yang dihormati karena kesantunan dan kesalehannya. Dengan enteng ia menanggapi Gus Mus: “Ndasmu!”

Siapa orang itu, saya tidak kenal. Saya hanya kenal Gus Mus, kiai di Rembang sana, yang tidak terbuai oleh kekuasaan, apa pun bentuknya, dan selalu menolak posisi-posisi politis yang datang kepadanya.

Tentu saja anak muda itu dimaafkan. Mudah bagi Gus Mus untuk memaafkan perilaku seperti itu, tetapi saya selalu akan mengingat “Ndasmu!” sebagai sebuah peristiwa paling menakjubkan tentang orang yang tidak memahami arti respek.

Para politisi adalah teladan dalam hal tidak memedulikan respek. Mereka ingkar janji, mereka mencemooh orang lain, mereka mencaci maki secara kasar, mereka melakukan bullying. Mereka yang kalah dalam perebutan kekuasaan mengubah diri menjadi pembuli—mungkin untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki kekuatan. Menamai kelompok sendiri sebagai Partai Allah dan menyebut kelompok lain sebagai Partai Setan adalah tindakan bullyingoleh orang yang tidak memahami respek.

Pembuli melakukan tindakan-tindakannya demi menegaskan kekuatan dan pengaruhnya terhadap orang lain. Dan mereka melakukannya dengan kekerasan: melalui kata-kata, melalui cemooh, melalui tekanan-tekanan, melalui ancaman, melalui hoaks, melalui intimidasi. Yang terakhir, dan terasa tidak masuk akal, adalah melakukan intimidasi kepada Tuhan. Itu tindakan intimidatif oleh orang yang sudah putus asa.

Ketika seseorang tidak tahu bagaimana bersikap hormat kepada orang lain, ia sudah pasti tidak tahu bagaimana cara menghormati dirinya sendiri. Anda tidak bisa mengajarkan akal sehat dengan cara menjadikan diri mesin yang setiap hari bekerja, secara mekanis, untuk mengeluarkan dua kata cemooh: “dungu” dan “cebong”. Itu cara yang kurang sehat dan akan mendorong orang lain menjadi mesin juga untuk mengeluarkan jawaban mekanis: “Aku rapopo.”

Respek hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang waras, yang mampu mengendalikan diri, dan sanggup bersikap tenang dalam situasi apa pun. Orang-orang yang kesurupan tidak mungkin sanggup memperlihatkan respek kepada orang lain.

Saya tahu orang-orang yang kesurupan kadang sanggup memperlihatkan berbagai kemampuan di luar nalar. Pengalaman pertama saya melihat orang kesurupan adalah pada pertunjukan kuda lumping. Pemain kuda lumping yang kesurupan bisa memperlihatkan kemampuan yang mencengangkan: ia makan beling, mengoyak sabut kelapa dengan giginya, berguling-guling di comberan, dan sebagainya. Itu sungguh kemampuan di luar nalar, tetapi tidak memiliki manfaat lebih selain untuk menghibur orang-orang kampung.

Saya tidak sedang menyarankan orang-orang yang mudah kesurupan untuk menjadi pemain kuda lumping. Saya ingin menyarankan agar mereka belajar bersikap tenang dan menjadi orang-orang yang lebih kalem, tidak perlu mengancam, tidak usah menyebarkan hoaks tentang segala macam bahaya laten. Tindakan semacam itu buruk dari berbagai sisi: ia hanyalah upaya menakut-nakuti diri sendiri dengan pikiran buruk, ia tidak menunjukkan respek.

Lebih buruk lagi, semua yang menakutkan itu tidak akan pernah terjadi. Setidaknya begitulah menurut Mark Twain atau entah siapa: “Saya telah menjalani hal-hal mengerikan sepanjang hidup. Beberapa di antaranya benar-benar terjadi. Dan mereka tidak mengerikan sama sekali. Yang lainnya hanya terjadi dalam pikiran.”

A.S. Laksana, jurnalis dan sastrawan.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR