Potret anak dalam bahaya pelecehan seksual

Ilustrasi: Bocah kecil dan monster pemangsa
Ilustrasi: Bocah kecil dan monster pemangsa | Aleutie /Shutterstock

Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Komnas Perlindungan Anak (PA) Indonesia di tahun 2018 sejauh ini telah mencatat setidaknya terdapat 965 kasus pelanggaran hak anak sepanjang Januari hingga Juni. Jumlah ini terbilang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Parahnya lagi, dari 965 kasus tersebut, 52 persen didominasi oleh kejahatan seksual. Maraknya kejahatan seksual terhadap anak seringkali muncul akibat kurangnya kewaspadaan kita semua. Hal ini dapat terlihat dari pola yang terus berulang di setiap kejadian.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan 218 kasus kekerasan seksual anak di tahun 2015, kemudian 120 kasus di tahun 2016, dan 116 kasus di tahun 2017. Kekerasan seksual terus ada dan jelas memberikan ancaman yang besar bagi lingkungan kita.

Hal yang tak kalah menyedihkan adalah para pelaku yang sebagian besar merupakan orang terdekat dari korban. Paman, pengasuh, keluarga dekat, bahkan ayah tiri hingga kandung pun terlibat. Pola ini dapat ditemukan di beberapa kejadian kekerasan seksual.

Dalam sebuah meta-analisis yang berjudul “Prevalence of Child Sexual Abuse in Community and Student Samples: A Meta-Analysis” yang menghimpun 65 penelitian yang berasal dari 22 negara, ditemukan sejumlah hal menarik. Misalnya saja, diperkirakan sebanyak 7,9 persen anak laki-laki dan 19,7 persen anak perempuan secara global pernah mengalami pelecehan seksual sebelum usia 18 tahun.

Dan dari kajian tersebut ditemukan bahwa para korban cenderung tak melaporkan pengalaman buruk tersebut. Rasa malu, takut, dan dugaan akan korban yang dijadikan sebagai pemicu menjadi suatu temuan penting dari riset tersebut.

Oleh karena itu tak perlu heran, jika kekerasan seksual terus muncul. Hal itu tak lain merupakan cermin dari bentuk aturan hukum serta sistem sosial kita yang keliru.

Temuan tersebut juga dapat kita pelajari melalui Lentera Sintas Indonesia. Gerakan mereka berfokus pada dukungan untuk penyintas kekerasan seksual dan perkosaan. Mereka melakukan kampanye khusus untuk melawan kekerasan seksual dengan hastag #MulaiBicara di instagram.

Sejalan dengan kampanye tersebut, Lentara Sintas Indonesia memaparkan bahwa 93 persen korban pelecehan seksual tak melaporkan kasusnya ke aparat hukum dan 6 persen yang melaporkan menyaksikan pelaku bebas dari hukuman. Data tersebut didapatkan dari survei melalui media daring yang diikuti sebanyak 25.214 orang.

Sejumlah partisipan dari survei tersebut mengakui pernah mengalami bentuk kekerasan seksual, mulai dari verbal, fisik dan pemerkosaan. Dua dari tiga penyintas pemerkosaan dalam survei ini bahkan mengalami pelecehan sebelum usia mereka 18 tahun.

Seringkali kekerasan seksual pada anak terjadi lantaran orang tua tak memberikan perhatian khusus pada keamanan anak. Tanpa sadar bahwa kekerasan seksual pada anak menjadi ancaman yang setiap saat dapat menyerang. Kita bisa belajar dari temuan European Union Agency for Fundamental Rights di tahun 2014 yang memaparkan fakta kondisi anak-anak Eropa yang menjadi korban kekerasan.

Temuan pentingnya adalah fakta bahwa 33 persen perempuan atau setara dengan 61 juta perempuan mengalami kekerasan fisik atau seksual oleh orang dewasa di masa kecil; yaitu sebelum mereka berumur 15 tahun. Ini bisa menjadi fakta bahwa kekerasan seksual menjadi sesuatu yang berpeluang terjadi di berbagai tempat.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KPPA) merilis buku “Statistik Gender Tematik: Mengakhiri Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Indonesia” pada tahun 2017. Hal menarik yang penting untuk kita perhatikan adalah dampak psikologis korban pelecehan. Kesehatan mental mereka menjadi tidak stabil dan menyebabkan mereka melakukan perilaku menyimpang.

Korban laki-laki cenderung melampiaskan dengan merokok dan mabuk-mabukan. Sedangkan korban perempuan lebih mengkhawatirkan lagi, selain merokok dan mabuk-mabukan, mereka bahkan menyakiti diri sendiri, menggunakan narkoba, dan mencoba bunuh diri. Kesehatan mental para korban menjadi tumbal dari maraknya kekerasan seksual.

Mungkin sulit memahami bagaimana kondisi yang sebenarnya terjadi pada peristiwa kekerasan seksual. Namun, sebuah film yang berjudul So-Won dapat menjadi pilihan untuk melihat secara sepintas.

Film tersebut mengisahkan seorang anak perempuan yang manis dengan orang tua yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Orang tua So-Won sama sekali tak memberikan perhatian yang cukup pada anaknya. Beruntung So-Won cukup sabar menerima kondisi itu.

Sampai suatu hari, So-Won mengalami musibah yang akhirnya membuat kondisi semakin rumit. Dia mengalami pemerkosaan dan mesti dirawat hingga dioperasi. Luka fisik dan psikologis membawanya pada kehidupan yang tentu saja berat bagi seorang anak yang masih duduk di bangku TK.

Sebaiknya sedari dini kita membangun kesadaran terkait kekerasan seksual yang berkembang. Bila tak melakukan usaha pencegahan, kita akan mempertaruhkan masa depan anak-anak di sekitar kita.

Sudah sepantasnya kita meyakini kehadiran anak-anak seperti yang dilakukan Rabindranath Tagore. Baginya setiap anak datang dengan pesan bahwa Tuhan belum berputus asa pada manusia.

Wawan Kurniawan, peneliti Ikatan Psikologi Sosial (PSI) Indonesia
BACA JUGA