RAMADAN 2019

Ramadan, membangun jalan binadamai di Indonesia

Siswa TK Santo Bernardus berpelukan dengan siswa TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) saat melakukan kunjugan dalam kegiatan berbagi kasih di TK ABA Kota Madiun, Jawa Timur, Kamis (9/5/2019).  Survei PPIM UIN Jakarta menemukan, 23,3 persen mereka menyatakan setuju bahwa bom bunuh diri merupakan implementasi tertinggi jihad.
Siswa TK Santo Bernardus berpelukan dengan siswa TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) saat melakukan kunjugan dalam kegiatan berbagi kasih di TK ABA Kota Madiun, Jawa Timur, Kamis (9/5/2019). Survei PPIM UIN Jakarta menemukan, 23,3 persen mereka menyatakan setuju bahwa bom bunuh diri merupakan implementasi tertinggi jihad. | Siswowidodo /Antara Foto

Ramadan adalah bulan di mana kita memperbanyak ibadah, baik pada Tuhan maupun menolong sesama manusia. Dalam keilahian kita meresapi sifat-sifat Tuhan yang Maha Penyayang dan penuh dengan ampunan. Sifat penyayang dan penuh ampunan ini mesti diimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pada Syahr al-Rahmah (bulan penuh limpahan rahmat dari Allah) mesti menjadi ujung tombak kita membangun binadamai di Indonesia. Jika kita menengok ke belakang, banyak peristiwa konflik sosial. Aksi-aksi teror yang menghantui kehidupan sosial keagamaan kita dan polarisasi politik dua kubu yang bersitegang. Bagaimana bulan Ramadan bisa membangun jalan binadamai di Indonesia?

Belajar Introspeksi

Ketika ada konflik sosial di masyarakat, solusi kekerasan kerap dipilih. Pilihan ini yang membuat kekerasan semakin melebar. Menurut data Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina, hingga 2005 masyarakat lebih banyak menggunakan kekerasan dalam penyelesaian masalah konflik (PUSAD, 2018).

Kemudian aksi terorisme yang melibatkan anak-anak dan perempuan, mereka rela melakukan bom bunuh diri di tempat rumah ibadah dan kantor polisi. Pelibatan anak-anak dan perempuan adalah modus baru yang belum pernah terbayangkan (IPAC, 2018). Yang teranyar, teroris di Bekasi berencana meledakkan bom saat pengumuman hasil pemilu (Beritagar, 2019).

Kita juga kerap berkonflik antarkomunitas seagama. Misalnya, pada tahun 2011 dan 2012 menguatnya ketidaksukaan pada Syiah dan Ahmadiyah yang mengakibatkan konflik sosial berkepanjangan. Dampaknya mereka diusir dari tempat tinggal mereka bahkan menelan korban jiwa. Syiah dan Ahmadiyah yang terusir dari tempat tinggalnya menjadi pengungsi internal (Panggabean dan Ali-Fauzi, 2014).

Pada pemilu 2019 juga menjadi tahun peneguhan hoaks untuk memenangkan kontestasi politik. Hoaks menjadi cara mereka membangun opini khalayak dan meneguhkan kesadaran palsu. Banyak juga ujaran kebencian yang menggunakan dalil-dalil agama, seakan agama menjadi peneguh ucapan dan perilakunya.

Perkembangan di atas seakan meneguhkan data-data survei terbaru mengenai radikalisme dan ekstremisme kekerasan, yang membuat kita semakin khawatir. Survei yang dilakukan oleh Wahid Institute dan LSI menemukan bahwa 11 juta dari 150 juta muslim di Indonesia siap melakukan tindakan radikalisme dan ekstremisme kekerasan (Wahid Institute dan LSI, 2017).

Survei yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta terhadap siswa/mahasiswa juga menunjukkan kekhawatiran yang serupa, yakni 23,3 persen mereka menyatakan setuju bahwa bom bunuh diri merupakan implementasi tertinggi jihad (PPIM, 2017).

Selain itu, guru muslim di Indonesia bersikap tak toleran terhadap pemeluk agama lain. Misalnya, sekitar 21 persen guru tidak setuju tetangga yang berbeda agama boleh mengadakan acara keagamaan. Sekitar 29 persen guru ingin menandatangani petisi menolak kepala dinas pendidikan yang berbeda agama (PPIM, 2018).

Menemukan Jalan

Kita sebagai anak bangsa mesti menemukan jalan untuk berhijrah menjadi lebih baik. Karena kita yakin bahwa agama mengandung nilai dan landasan yang kuat untuk nirkekerasan dan binadamai. Nirkekerasan dan binadamai harus dilalui dengan keaktifan, bukan kepasifan. Mesti ada aksi yang kuat sebagai pendorong perubahan sosial.

Momentum Ramadan menjadi ranah yang kuat untuk kita melakukan introspeksi dalam perjalanan bangsa Indonesia ke depan. Sehingga bangsa Indonesia tetap pada jalur demokratis dan agama sebagai penopang kehidupan keagamaan. Agama yang membangun kohesi sosial, agama yang mempersatukan dan saling menghormati. Menggunakan tafsir agama yang berorientasi moderat, karena Islam Indonesia memiliki wajah moderatisme.

Ada empat kata kunci untuk menemukan jalan binadamai. Pertama, dalam binadamai kita mesti saling merekatkan dengan pemahamaan keagamaan dan saling mengerti esensi agama dibawa ke bumi.

Kedua, saling membangun rasa percaya. Sudah selayaknya sebagai manusia tidak melulu curiga pada lain paham yang berbeda, sehingga kita bisa memupus prasangka dan bekerjasama untuk Indonesia.

Ketiga, fokus pada faktor mendasar dan struktural. Tidak ada satupun agama yang menyukai kemiskinan dan saling mendiskriminasikan. Saling tolong menolong dan peduli mesti diarusutamakan.

Keempat, menciptakan harmoni dan kerukunan. Islam adalah agama cinta dan penuh rahmat, sehingga ketika kita semakin mengimani Islam berarti kita semakin menghargai yang lain.

Dengan begitu, bulan Ramadan yang penuh rahmat ini menjadi langkah aksi kita merawat Indonesia dengan binadamai.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR