Remaja, pencarian identitas dan regresi sosial

Ilustrasi: bayangan dua remaja di jalan.
Ilustrasi: bayangan dua remaja di jalan. | Alex Linch /Shutterstock

Fenomena mabuk air rebusan pembalut wanita di kalangan remaja di sejumlah daerah –seperti ramai diwartakan media sepekan terakhir ini, benar-benar mengusik nalar kewarasan berpikir kita. Perilaku tersebut tidak hanya ganjil, namun juga absurd dan sukar dinalar dengan akal sehat.

Beberapa bulan lalu kita dibuat geleng-geleng kepala menyaksikan fenomena miras oplosan yang menewaskan lebih dari 80 orang. Miras oplosan yang diracik dari campuran methanol -alkohol murni yang sedianya diperuntukkan sebagai campuran bahan bakar dan cairan pelarut- dan krim oles anti nyamuk menjadi malaikat maut bagi puluhan nyawa. Namun, peristiwa tragis tersebut agaknya tidak cukup menjadi bahan pelajaran bagi sebagian masyarakat.

Kemunculan tren mabuk dengan meminum air rebusan pembalut wanita itu tidak diragukan menjadi semacam penanda adanya persoalan terkait kondisi psikologis dan sosiologis, terutama di kalangan kelompok remaja. Ada kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan bangunan psikologis-sosiologis remaja menjadi sangat rapuh.

Dalam literatur psikologi, fase remaja kerap diidentikkan sebagai masa-masa paling menentukan sekaligus paling rawan dalam keseluruhan perkembangan kehidupan manusia. Jeffrey Arnett (2012) di dalam buku Adolescent Around the World menyebut bahwa ketika menginjak usia remaja (adolescence) manusia cenderung akan lebih banyak merenung, berpikir dan mencari jawaban ihwal pertanyaan-pertanyaan eksistensial seputar makna, substansi serta tujuan kehidupan.

Di sisi lain, masa remaja juga merupakan masa-masa ketika seseorang mulai mencari identitas atau jati diri, baik secara psikologis maupun sosiologis. Pencarian jati diri, secara psikologis terjadi melalui interaksi ke dalam diri sendiri yang melibatkan pergulatan batin yang tidak ringan.

Sementara peneguhan identitas secara sosiologis terjadi dengan menceburkan diri ke dalam pergaulan sosial. Yakni dengan berinteraksi, bergaul dan menjadi bagian dari sebuah kelompok dalam masyarakat.

Proses pencarian dan peneguhan identitas atau jati diri selalu tidak pernah mudah. Dalam perjalanan mencari identitas itu, remaja kerap dihadapkan pada pilihan-pilihan pelik.

Bahkan tidak jarang, di dalamnya terjadi semacam pertukaran dan negosiasi identitas yang dinamis alias tidak tetap. Dalam konteks inilah kita kerap melihat fenomena remaja yang mudah ikut tren atau gaya yang tengah menjadi arusutama (mainstream).

Bagi remaja, melibatkan diri menjadi bagian dari tren arusutama adalah bagian penting dari proses pencarian dan peneguhan identitas. Kepiawaian remaja bernegosiasi dengan diri sendiri dan lingkungannya akan menjadikan masa remaja berlalu tanpa guncangan psikologis dan sosiologis yang berarti.

Namun sebaliknya, guncangan-guncangan psikologis dan sosiologis yang dialami remaja rentan melatari munculnya krisis identitas yang kerap kali melatari munculnya berbagai perilaku menyimpang.

Roland Robertson dalam buku Globalization; Social Theory and Global Culture menyebutkan bahwa di sejumlah negara miskin dan berkembang, problem perilaku menyimpang di kalangan remaja umumnya juga dilatari oleh fenomena globalisasi. Gelombang globalisasi, terutama di negara miskin dan berkembang, seperti kawasan Afrika dan sebagian Asia lebih mirip pedang bermata dua.

Di satu sisi, harus diakui globalisasi mampu menyumbang andil sebagai katalisator perubahan dan kemajuan bagi negara miskin-berkembang dalam berbagai bidang kehidupan. Namun di sisi lain, tidak dapat dinafikan juga bahwa globalisasi kerap menyisakan residu atau persoalan baru.

Artinya, globalisasi selalu berpeluang melahirkan laku progresif, namun tidak menutup kemungkinan juga melahirkan sikap regresif.

Regresi sosial merupakan terminologi yang dipakai untuk menggambarkan sebuah kondisi kemunduran seseorang atau sekelompok orang disebabkan oleh kegagalannya dalam memahami realitas yang terlanjur dianggap represif. Dalam analisa Robertson, regresi sosial di negara miskin-berkembang yang dilatari oleh fenomena globalisasi umumnya mengejawantah ke dalam setidaknya tiga bentuk.

Pertama, kecenderungan sebagian besar masyarakat untuk memenuhi kehendak atas kesenangan secepat dan sebanyak mungkin dan dalam waktu yang sama cenderung meninggalkan sikap menunda kesenangan (asketisme). Segala tindakan manusia lebih sering dilatari motivasi meraih kesenangan yang bersifat banal, alih-alih motivasi transendental, apalagi meraih kemuliaan hidup.

Kedua kecenderungan sebagian masyarakat yang lebih mementingkan soal citra, penampakan luar serta gaya hidup. Waham modernitas cenderung menggiring manusia ke dalam sikap hidup yang abai pada kedalaman makna, subtansi dan tujuan hidup. Dalam logika yang demikian ini, diskusi dan wacana yang berkaitan dengan eksistensi manusia cenderung tidak mendapat tempat.

Ketiga, kecenderungan sebagian masyarakat yang bersikap dan berpikir secara pragmatis. Masyarakat terjebak dalam logika pertukaran kapitalistik yang menilai segala sesuatu dengan manfaat jangka pendek yang bisa didapat. Sikap hidup tanpa pamrih atau altruisme kadung dianggap sebagai omong kosong yang tidak relevan dengan dunia modern.

Pada titik inilah, kehidupan manusia nyaris sepenuhnya dikendalikan oleh prinsip kepuasan. Manusia kemudian menjadi penikmat, bahkan pemuja aktivitas hiburan, konsumsi, narsisisme dan bentuk aktivitas lainnya yang menstimulasi syaraf-syaraf orgasmik.

Pihak paling tidak diuntungkan dari fenomena regresi sosial dalam struktur masyarakat modern yang kapitalistik tentu saja masyarakat kelas bawah. Masyarakat kelas atas yang memiliki akses pada sumber-sumber ekonomi dapat dengan leluasa menikmati dan mempertontonkan gaya hidup hedonistiknya.

Orang-orang kaya dengan bebas menikmati dunia malam di bar atau kafe sembari menyesap alkohol tanpa gangguan apa pun. Sementara masyarakat kelas bawah yang selalu termarjinalkan oleh sistem yang kapitalistik dipaksa menciptakan aktivitas-aktivitas hiburan waktu luang yang sifatnya tiruan.

Tren mabuk air rebusan pembalut boleh jadi adalah contoh paling sempurna dari efek buruk regresi sosial yang memaksa masyarakat kelas bawah menciptakan gaya hidup hedonistik bersifat imitatif. Ketika gaya hidup kaum berpunya hanya bisa dilihat dari layar kaca dan media sosial, segala upaya masyarakat kelas tak berpunya untuk menirunya pun dilakukan.

Bentuk peniruan itu bermacam-macam, mulai dari memakai barang-barang bermerek yang sebenarnya palsu, menenggak miras oplosan hingga meminum air rebusan pembalut. Semua dilakukan demi merasakan sensasi ekstase yang dihasilkan dari aktivitas memuja kepuasan.

Regresi sosial seperti yang kita saksikan melanda masyarakat kita beberapa dekade terakhir ini jelas merupakan fenomena psikologis yang berkelindan dengan persoalan sosial. Secara psikologis, ada persoalan mendasar terkait struktur mental kolektif masyarakat yang cenderung menuruti hasrat primitif.

Sementara secara sosiologis, masyarakat kita tengah dihadapkan pada situasi sosial-politik yang penuh ketidakberaturan dan serba tidak pasti. Kondisi itulah yang kian menyuburkan fenomena sosial yang lekat dengan citra irasionalitas dan absurditas.

Desi Ratriyanti, bergiat di Indonesia Muslim Youth Forum
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR