Salam dan Hari Pekik Merdeka

Ilustrasi: Soekarno dan Hatta dalam pembukaan Pekan Olahraga Nasional 1951
Ilustrasi: Soekarno dan Hatta dalam pembukaan Pekan Olahraga Nasional 1951 | Tropenmuseum /CC BY-SA 3.0

Sejarah Indonesia memuat urusan pekik atau salam kebangsaan. Pemilihan pekik atau salam tak gampang. Pekik adalah ekspresi bahasa dan politik.

Perang atau revolusi tak berlangsung dalam “kebisuan”. Revolusi bergelora dengan pekik: suara dan gerak tubuh. Pekik menggetarkan suasana revolusi.

Sejarah pekik di Indonesia tak serupa ilham bagi pujangga. Pemilihan pekik mesti melalui rapat, dekrit, pidato, dan brosur agar revolusi tak pernah padam.

Soekarno berkata, “Pada 1 September 1945 aku menetapkan supaja setiap warganegara Republik memberi salam kepada jang lain dengan mengangkat tangan, kelima djari terbuka lebar – jang maksudnja lima sila dan meneriakkan merdeka” (Adams, 1966).

Pengakuan Soekarno jarang mendapat penjelasan utuh dari kalangan sejarawan dan bahasa. Sejarah pekik cuma tampil sepintas, hadir sebagai alinea pendek. Kita memang masih mengucap pekik atau salam merdeka tapi kehilangan ingatan-ingatan sejarah.

Usulan dan ketetapan Soekarno dipengaruhi situasi revolusi di Indonesia yang masih gemar lambang. Situasi itu diimbuhi pengetahuan Soekarno mengenai Nabi Muhammad dan Islam. Kemauan menekuni Islam menghasilkan peniruan atau meneladani Nabi Muhammad.

“Sebagaimana Nabi Besar Muhammad telah menemukan utjapan salam untuk mempersatukan ummatnja, maka turun pulalah suatu ilham dari Allah untuk memekikkan suatu salam kebangsaan bagi bangsa Indonesia,” Soekarno menjelaskan.

Bemula dari Islam, ia menginginkan ada pekik demi persatuan orang-orang seantero Indonesia berdalih kemerdekaan dan revolusi. Merdeka itu bersumber dari tiruan pada Islam di umat Islam, sejak ribuan tahun silam.

Kita patut membuka buku-buku lawas agar mengerti latar pemilihan pekik dan salam. Tatang Sastrawiria dan Haksan Wirasutisna dalam Ensiklopedi Politik(1955) mencatat informasi penting atas kesejarahan pekik.

Tatang Sastrawiria dan Haksan Wirasutisna menerangkan maksud penerbitan buku sebagai “… dokumentasi kegiatan bangsa kita dilapangan politik, terutama pada waktu jang achir-achir ini.” Pencatatan atas pelbagai peristiwa dan peran tokoh menjadikan Ensiklopedi Politik adalah sumber informasi penting bagi publik.

Catatan Tatang Sastrawiria dan Haksan Wirasutisna lebih informatif ketimbang pengakuan Soekarno di buku berjudul Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat(1966). Kita bakal bisa “mengimajinasikan” kerepotan Sukarno untuk memutuskan pemberlakuan pekik merdeka dan anjuran menjadikan 1 September sebagai Hari Pekik Merdeka.

Soekarno berbincang dengan Otto Iskandardinata, 19 Agustus 1945, membahas “perlu adanja sesuatu salam nasional… pekik jang dapat menggelorakan djiwa seluruh rakjat Indonesia.” Usulan pekik bermunculan: “hidup”, “Indonesia”, “Indonesia merdeka”.

Pertemuan awal belum menghasilkan keputusan. Otto Iskandardinata membawa bahasan tentang pekik dalam rapat KNIP dengan memilih pekik “Indonesia merdeka.”

Hari demi hari berganti. Dekrit disampaikan pada 1 September 1945, berisi pemberlakukan salam nasional: “merdeka”. Pemberian pekik atau salam mesti memperhatikan gerak tubuh.

Deskripsi tata cara memberi pekik: “… kelima djari dari tangan kanan diangkat kedekat telinga.” Jawaban untuk pemberi salam “merdeka” adalah “merdeka”.

Orang-orang kadang memberi jawaban berlainan: “tetap”, “buat rakjat”, sampai keachir zaman”. Pada 20 April 1950 Soekarno mengeluarkan perintah baru agar jawaban atas pekik merdeka bisa sama. Soekarno menghendaki jawaban ‘sah’ dari pekik “merdeka” adalah “merdeka”.

Pengaruh pekik merdeka terbukti dari pemberian nama penerbitan surat kabar oleh B.M. Diah: Merdeka. Pengakuan Diah, dalam buku Butir-Butir Padi B.M. Diah: Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman(1992), bertautan dengan proklamasi dan keputusan pembuatan pekik atau salam nasional. Diah mendirikan surat kabar bernama Merdekapada 1 Oktober 1945.

Diah mengaku, “Saya mengambil nama ini sesuai dengan salam bangsa Indonesia saat itu, merdeka.”

Setahun sesudah proklamasi, 17 Agustus 1946, Soekarno semakin menguatkan makna pekik merdeka dengan memberi judul pidato bertanda seru: Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!

Pekik merdeka terus diucapkan ke jutaan orang, dari masa ke masa. Suara dan tubuh saat mengucap dan menjawab pekik merdeka mengartikan kesinambungan sejarah dan pemaknaan Indonesia tak pernah usai.

Pidato bertahun 1946 itu diakhiri dengan pasukan tanda seru. Siasat untuk semakin menguatkan pekik merdeka.

Soekarno berkata, “Hidup ke-Tuhanan Yang Maha Esa!Hidup nasionalisme Indonesia! Hidup persaudaraan dunia! Hidup demokrasi! Hidup kesedjahteraan sosial! Kepada Tuhan saja mohonkan taufik dan hidajat! Sekianlah! Merdeka!”

Pidato itu berakhir dengan satu pekik merdeka, belum mengalami pengulangan sampai menggelorakan massa.

Pada 17 Agustus 1950, Soekarno memberi pidato panjang tetap mengingatkan pekik merdeka terhubung ke Islam. Lima tahun revolusi mulai memberi ketakjuban. Soekarno girang melihat bendera merah putih terus berkibar di pelbagai tempat seperti “terus-menerus berseru: merdeka, merdeka, sekali merdeka tetap merdeka.”

Kita mengandaikan pada saat mengucapkan “merdeka” suara Soekarno lantang dan menggetarkan para peserta upacara. Pekik merdeka telah mendapat kalimat seru ikutan dan tenar: sekali merdeka tetap merdeka.

Soekarno melanjutkan segala capaian Indonesia merdeka dengan seruan terima kasih pada Tuhan, “Berganti-gantinja pengalaman itu kini meliwati chajal kita laksana satu pilem jang maha-dahsjat, jang akan tetap terguris ndalam ingatan kita. Allahu Akbar!”

Soekarno tak mengetahui jika seruan Allahu Akbar terus awet di politik meski berbeda arti di situasi politik mutakhir.

Pekik merdeka ada di pelbagai lakon kekuasaan, setelah keberakhiran Soekarno akibat malapetaka 1965-1966. Soeharto tetap meniru khasiat pekik merdeka pada saat melangsungkan pembangunan.

Seoharto memberi imbuhan agar tampil dengan kebaruan sesuai penamaan Orde Baru. Jutaan orang Indonesia tentu mengingat pekik andalan rezim Orde Baru di setiap peringatan Hari Kemerdekaan: “Merdeka! Pancasila! Pembangunan!”

Pekik-pekik minta dijawab kepatuhan dan suara lantang dari jutaan orang berdalih kesuksesan pembangunan nasional. Soeharto mewarisi pekik merdeka tapi masih enggan meniru seruan Allahu Akbar seperti diucapkan Bung Tomo (10 November 1945) dan terkatakan di pidato-pidato Soekarno.

Peniruan gabungan pernah terjadi pada hajatan demokrasi 2014. Prabowo Subianto dalam raihan kekuasaan sering mengucap pekik merdeka dan Allahu Akbar. Konon, tahun itu terlalu panas dalam pembedaan kubu-kubu ideologis. Persaingan pekik berlangsung dan mengikutkan pengertian-pengertian agama.

Dulu, Soekarno menggunakan pekik merdeka dan berseru Allahu Akbar untuk memaknai revolusi dan kemajuan-kemajuan. Pada peristiwa raihan kekuasaan, sejarah pekik itu berubah kesan. Seruan Allahu Akbar malah digunakan memberi cap politik Islam ketimbang ajakan ke persatuan di keragaman.

Kini, kita mengenang sejarah penetapan pekik merdeka pada masa revolusi sambil berharapan para capres dan cawapres untuk hajatan demokrasi 2019 tak mengadakan politisasi mencipta sengketa rumit. Kita justru menginginkan mereka ingat dengan pengakuan Soekarno bahwa pembuatan pekik merdeka dipengaruhi oleh ucapan salam di pergaulan Islam.

Soekarno meneladani Nabi Muhammad agar ada persatuan, saling menghormati, saling mendoakan, rukun, dan damai. Kita berharapan saling memberi salam dan berpekik merdeka di kalangan pendukung dua kubu mencipta Indonesia selamat dan damai pada 2019. Soekarno sudah mengingatkan bahwa merdeka itu salam kebangsaan mengandung makna religius.

Begitu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR