Sarjana, desa, dan kerja

Ilustrasi: selepas wisuda sarjana
Ilustrasi: selepas wisuda sarjana
© Krilerg saragorn /Shutterstock

Seberapa besar minat masyarakat kita untuk kuliah? Laporan BPS tahun 2016 menyebutkan bahwa kurang dari 10 persen penduduk umur 15 tahun ke atas yang lulus perguruan tinggi. Semakin tinggi tingkat ekonomi keluarga, semakin tinggi tingkat pendidikan anaknya. Program pemerintah seperti beasiswa Bidik Misi dilakukan sebagai upaya fasilitasi anak dari keluarga tidak mampu untuk merasakan hangatnya bangku kuliah.

Banyak mahasiswa dari keluarga kurang mampu tetapi mereka memiliki semangat untuk kuliah. Karena kemampuan akademik yang semenjana, mereka tidak tertampung beasiswa. Namun dari situ mereka terbentuk menjadi mahasiswa yang ulet.

Para mahasiswa yang hidup di perkotaan, sejatinya adalah anak-anak desa yang menjadi kaum urban. Urbanisasi akademik dan intelektual yang harus dilakukan anak-anak desa dalam menuntut ilmu. Perguruan tinggi hanya ada di kota, minimal ibu kota kabupaten. Tapi tidak semua ibu kota kabupaten memiliki kampus. Kampus kelas satu ada di ibu kota propinsi.

Sementara gairah menuntut ilmu yang meletup di dalam jiwa tak terpenuhi di kampung halaman, atau kota kabupaten sekalipun. Mereka mesti ke kota besar tempat kampus berdiri memberi mimpi mahasiswa made in desa itu. Di kota mereka belajar apa pun -baik akademik maupun sosial, baik produksi maupun konsumsi. Di kota mereka belajar caranya bertahan hidup.

Di kota pula para mahasiswa membangun relasi sosial dan kultural. Ini adalah cara mahasiswa membangun mimpi dari kampung. Mimpi individu bagaimana menaikkan status sosial yang bergaji lumayan di banding hanya tetap tinggal di desa.

Perjuangan menjalani kuliah bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu seringkali heroik. Segala cara dilakukan demi mencukupi kebutuhan. Bekerja paruh waktu, menjadi guru les, menjadi penjaga masjid, mengajar TPQ, berbisnis, dan hari ini seiring perkembangan teknologi, para mahasiswa nyambi jualan online.

Narasi-narasi seperti itu menjadikan kuliah sebagai proses mendapatkan gelar sarjana tampak sakral. Di kota terbilang gampang untuk mendapatkan uang bagi mahasiswa yang kreatif. Di kota juga, orang berilmu agama keislaman lebih dihargai daripada di desa. Lulusan pesantren bisa menjadi guru mengaji anak-anak kota, menghadiri undangan khataman al-Qur'an dan diberi amplop.

Ada tiga tipikal mahasiswa yang lazim kita kenal. Pertama, mahasiswa aktivis yang sering diidentikkan sebagai tukang demo, jarang masuk kuliah, dan lulus telat dari target yang wajar. Mereka adalah tipe kaum muda yang terinspirasi perjuangan founding fathers bangsa maupun sisi bohemian-rebelion Che Guevara yang memberontak, anti kapitalis-kemapanan. Mulut mereka akan berbusa-busa jika membicarakan ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang terjadi antara kaum kaya dan miskin.

Mereka biasanya adalah mahasiswa yang bergerilya dari satu organisasi ke organisasi lain, blusukan ke kantor pemerintahan untuk memasukkan proposal kegiatan. Aktif melobi birokrat dan politisi, yang -maaf- ujung-ujungnya (berharap) menjadi anak kesayangan dan berdoa semoga mendapat posisi yang cukup mapan di komunitasnya suatu hari nanti.

Kedua, mahasiswa yang mengalami split personality, ketegangan personal antara kehidupan di desa dan kota. Mereka biasanya adalah kaum muda yang mudah ikut terbawa harus konsumerisme atau hedonisme yang ditawarkan kota. Salah menyikapi bisa terperosok ke perbuatan negatif demi memuaskan nafsu hedonismenya.

Ketiga, mahasiswa yang sadar dengan posisi dari mana dia berasal. Mereka menyadari sebagai orang desa, yang tak ikut dalam arus aktivisme maupun hedonisme. Mereka juga nampaknya kemudian hanya akan menjadi sarjana yang biasa-biasa saja. Mahasiswa asal kota menyadari posisinya sebagai anak keluarga mampu dengan jejaring dan relasi birokrat. Mereka bisa disebut sebagai mahasiswa yang berada di "jalur aman". Tak perlu berpikir ketatnya persaingan mencari kerja setelah lulus.

Enggan pulang

WS Rendra menulis Sajak Seonggok Jagung untuk menggambarkan bagaimana sistem pendidikan perguruan tinggi tercerabut dari akar permasalahan desa. Rendra menulis: Apakah gunanya pendidikan//Bila hanya mendorong seseorang//Menjadi layang-layang di ibukota//Kikuk pulang ke daerahnya?//Apakah gunanya seseorang//Belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran//atau apa saja//Bila pada akhirnya//Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata://"di sini aku merasa asing dan sepi"

Keengganan sarjana untuk kembali desa perlu dipaksa dengan program Pendamping Desa dari pemerintah lewat Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Pemerintah merekrut para sarjana untuk terlibat dalam pendampingan desa. Anggaran dana desa tahun 2017 mencapai 60 triliun.

Pembangunan desa adalah pembangunan keseluruhan, terutama mentalitas, sikap kemandirian, dan pemberdayaan masyarakat desa. Modal kultural masyarakat desa yang komunal, kolektif, dan tanpa pamrih menjadi nilai lebih semangat pedesaan.

Sementara kondisi lain yang dianggap memprihatinkan desa adalah tingkat pendidikan yang masih rendah, tidak intelek, sulit diajak berpikir logis-rasional, dan tak memiliki semangat perubahan karena terbiasa dengan sikap hidup pasrah, nerima ing pandum. Kondisi ini bukanlah kondisi yang given, melainkan dibentuk secara sistemik di tengah globalisasi.

Gambaran umum desa tersebut adalah tantangan bagi sarjana yang pulang kampung. Kondisi ini bisa menjadi hambatan atau tantangan. Bagi mahasiswa yang menganggap ini sebagai hambatan tentu akan memilih kota dengan segala "kenyamanannya" untuk tempat hidup selanjutnya. Desa dianggap bukan tempat yang tepat untuk menerapkan ilmu dan pengalamannya yang didapat di bangku kuliah atau relasi di kota. Mereka memilih bekerja dan tinggal di kota karena merasa hanya di kota mereka bisa hidup.

Yang banyak terjadi adalah kegagapan sosial saat mahasiswa harus pulang kampung. Di kota mereka belajar dan mendapat jaringan. Yang aktivis memiliki jaringan politik dan birokrasi, yang lain memliki jaringan pertemanan yang menjadi modal kultural untuk membangun masa depan.

Ikatan "perkoncoan" sampai hari ini masih dianggap sebagai faktor tersembunyi yang menentukan kesuksesan seseorang. Paradigma bahwa orang tak bisa sukses sendirian sering dipahami dalam bentuk jaringan perkoncoan ini. Apabila konco-konco ini hilang, kesuksesan seperti menjauh.

Kita melupakan filosofi emas, yang tetap menjadi emas meskipun berada dalam lumpur. Sarjana adalah cendekiawan, yang bisa hidup di mana saja tanpa kehilangan jati dirinya. Di kota atau desa, adalah sama-sama ruang hidup yang menjadi tantangan untuk diberdayakan demi memartabatkan kemanusiaan. Jika sarjana takut pulang kampung, desa masih akan tetap menjadi desa.

Sarjana mesti paham sangkan paraning dumadi, dari mana berasal dan akan ke mana. Kesadaran bahwa mereka dari desa dan harus kembali ke desa, untuk membangun desa, memberi sentuhan "peradaban kota" tanpa kehilangan kekhasan masyarakat desa yang menjadi perekat komunal bangsa. Desa adalah pondasi kebangsaan kita yang dilandasi etos kerja, kejujuran, dan kemandirian yang mapan. Hari ini kita melihat desa dan masyarakatnya telah disulap menjadi kota.

Apa tujuan mahasiswa kuliah? Jawaban "untuk menuntut ilmu" mungkin terdengar melankolik sekaligus absurd. Jawaban paling rasional adalah "mencari kerja".

Pemerintah sendiri berharap sarjana mengisi pos-pos kerja. Menteri ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menyebut angkatan kerja Indonesia pada Agustus 2016 adalah 125,44 juta orang. Hanya 9,29% saja yang sarjana. Dan ada 570 ribu sarjana menganggur. Maka tidak mengherankan jika job fair selalu dibanjiri sarjana yang mencari kerja. Apalagi jika pemerintah membuka CPNS,

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir menyebut bahwa angkatan kerja dari lulusan sarjana dan diploma baru 11 persen. Masih kalah dengan Malaysia yang mendapai 22 persen. Paradigma pemerintah memandang sarjana dari perspektif dunia kerja. Masih ada para sarjana yang keluar dari pakem kehidupan yang semakin ekonomistik ini. Meski jumlahnya tidak banyak.

Hanif Dhakiri menyebut bahwa sarjana kita bukan sarjana yang siap kerja, tetapi siap training. Tujuh ratus lima puluh ribu sampai delapan ratus ribu lulusan perguruan tinggi tidak bisa langsung terserap ke pasar kerja. Padahal Indonesia memiliki 4 ribuan perguruan tinggi meskipun jumlah penduduk 250 juta. China yang penduduknya 1,4 milyar saja hanya memiliki 2 ribu perguruan tinggi (detik.com, 12/9/12).

Artinya problem di tingkat pemegang kebijakan belum menyentuh hal-hal yang elementer. Kualitas perguruan tinggi perlu ditingkatkan untuk menjamin kualitas lulusan. Dan itu menjadi tugas berat bagi Pak Nasir dan Pak Hanif.

Sarjana kerja di luar bidang keilmuan kuliah sudah jamak kita temui. Alih-alih menjadi tragedi, hal ini seringkali cukup dijadikan bahan lelucon. Sebagaimana humor seorang sarjana yang melamar kerja sesuai ijazah, namun tidak diterima di mana pun. Akhirnya ada lowongan kerja di kebun binatang sebagai monyet. Sang monyet palsu terjatuh ke dalam kolam. Dia sangat ketakutan karena akan mati ada buaya yang siap memangsanya. Namun ketika sang buaya membuka mulut, dia mangatakan, "tenang saja mas, saya lulusan dari kampus anu."

Pemerintah perlu merasa beruntung bahwa di tengah carut marutnya kualitas pendidikan tinggi, tidak ada demonstrasi mahasiswa yang menuntut bahwa kampus akan menjamin bahwa lulusannya akan bekerja sesuai bidangnya. Barangkali tujuan kuliah memang hanya mendapat gelar sarjana dan dapat kerja, tidak peduli kerja yang didapat sesuai ijazah atau tidak. Karena kerja sesuai ijazah hanya untuk kerja-kerja tertentu; dokter, apoteker, hakim, PNS, guru, dan dosen misalnya.

Junaidi Abdul Munif, pengurus Lajnah Ta'lif wa Nasyr (LTN) NU Semarang
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.