Sejarah perayaan maulid Nabi Muhammad

Ilustrasi: Seorang warga membagikan telur saat festival endogan di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (2/12). Festival Endhogan (telur) merupakan tradisi masyarakat Banyuwangi dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad dengan cara mengarak telur yang dihias dari lima penjuru disertai dengan bersholawat dan diakhiri makan telur bersama.
Ilustrasi: Seorang warga membagikan telur saat festival endogan di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (2/12). Festival Endhogan (telur) merupakan tradisi masyarakat Banyuwangi dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad dengan cara mengarak telur yang dihias dari lima penjuru disertai dengan bersholawat dan diakhiri makan telur bersama.
© Budi Candra Setya /ANTARA FOTO

Secara umum, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut maulid. Itu merupakan kata yang juga sering berarti peringatan-peringatan yang diselenggarakan pada hari ini. Istilah lainnya yang juga digunakan adalah milad (hari kelahiran, ulang tahun) dan bentuk partisipial pasif maulud, dari akar lema w-l-d yang mendasari semua istilah ini.

Namun, maulud (dalam bahasa Turki modern ditulis mevlut atau mevlud) lebih sering berarti puisi atau sastra yang ditulis untuk memuliakan kelahiran Nabi dan bahkan, secara umum, kehidupannya. Misalnya, "Kami menghadiri sebuah maulid di rumah si Fulan dan mendengarkan sebuah maulud klasik."

Yang pasti, berbagai riwayat paling awal menyebut-nyebut ihwal berbagai peristiwa menakjubkan berkenaan dengan malam kelahiran Muhammad, yakni malam 12 Rabi' al-Awwal, bulan ketiga Hijri, yang dicatat juga sebagai hari wafatnya Nabi.

Lama sesudah peringatan-peringatan yang gegap-gempita menjadi populer di masyarakat Muslim Timur Tengah, malam tersebut tetap dilalui oleh kaum Muslim India dengan mendengarkan khotbah-khotbah dan pembacaan-pembacaan Alquran.

Selain itu, hari itu disebut barah wafat (hari kedua belas dari kewafatan), juga diisi dengan bersedekah dan di beberapa tempat dilakukan suatu "ziarah umum kepada sang almarhum."

Pada akhir abad ke-8 M, rumah di Makkah -tempat Muhammad lahir- diubah menjadi ruang sembahyang oleh ibu dari Khalifah Harun al-Rasyid. Dan, orang-orang yang datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, mengunjunginya dengan penuh rasa haru dan khusyuk.

Nampaknya, kecenderungan untuk memperingati kelahiran Rasulullah SAW secara besar-besaran muncul pertama kalinya di Mesir selama era Fathimiyyah (969 M-1171 M). Hal ihwal ini logis saja, karena masyarakat Muslim Fathimiyyah mengklaim sebagai keturunan Nabi melalui putrinya, Fathimah (Hourani, 1991).

Sejarawan Mesir, al-Maqrizi (w. 1442 M), melukiskan satu peringatan seperti itu yang diselenggarakan pada 1122 M berdasarkan sumber-sumber Fathimiyyah. Teranglah, perihal itu merupakan suatu peristiwa yang di dalamnya dihadiri terutama oleh para ulama. Mereka mendengarkan khotbah-khotbah. Kue-kue, khususnya madu yang merupakan kesukaan Nabi, dibagi-bagikan. Dan, si miskin menerima sedekah.

Namun, suasana yang saleh dan khidmat ini berubah tak lama kemudian. Sebuah gambaran yang hidup tentang peringatan-peringatan maulid awal diberikan oleh sejarawan Ibn Khallikan dalam uraiannya tentang Ibn Dihya, yang menyaksikan peringatan-peringatan itu pada 1207 M di Arbela, kota kelahiran Ibn Khallikan, di Irak Utara.

Persiapan-persiapan untuk maulid sudah dimulai selama bulan pertama Hijri. Pondok-pondok kayu didirikan. Kamar-kamar tamu disiapkan bagi para tamu dari luar kota. Sejumlah besar domba, kambing, dan sapi disiapkan pula untuk dipotong, guna menghormati tamu.

Pangeran-pangeran Arbela ikut serta -bukan saja dalam acara-acara doa, khotbah dan sembahyang, melainkan juga dalam sama'; yaitu, konser mistis yang disiapkan oleh para sufi. Ada berbagai prosesi lilin dan bahkan sejenis pertunjukkan "wayang kulit Cina" (Lapidus, 2012).

Penerangan menjadi aspek tipikal dari banyak peringatan maulid. Di Turki, misalnya, masjid-masjid dihiasi dengan berbagai lampu. Hari yang disebut mevlut kandili (pesta lilin untuk hari kelahiran Nabi Muhammad SAW) itu sendiri dilalui dengan berpuasa hingga matahari terbenam. Jelaslah bahwa kaum sufi memainkan peran penting dalam mengelaborasi maulid dan memiliki andil dalam menjadikan maulid begitu penuh warna.

Namun, bisa dimengerti pula bahwa para teolog ortodoks menyatakan perayaan-perayaan semacam itu sebagai "mengada-ada" (bid'ah). Annemarie Schimmel, dalam karyanya Cahaya Purnama Kekasih Tuhan: Dan Muhammad adalah Utusan Allah (2012), mendedahkan bahwa terutama Ibn Taimiyyah (w. 1328 M) dengan penuh semangat menyerang peringatan-peringatan seperti itu, "yang tidak dibenarkan dan juga tidak dilakukan oleh orang-orang Muslim kurun awal."

Akan tetapi, salah satu karya maulid Arab awal (yang nyaris hanya terdiri dari hadis-hadis yang khusus berkenaan dengan malam kelahiran Muhammad) lahir dari pena seorang muridnya, Ibn Katsir.

Penentang peringatan itu bukan saja Ibn Taimiyyah, yang bermazhab Hanbali. Para teolog dari mazhab Maliki, yang memiliki basis di Afrika Utara, dengan tegas menentang peringatan-peringatan yang berlebih-lebihan pada 12 Rabi' al-Awwal itu - yang juga adalah hari ulang tahun wafatnya Nabi Muhammad SAW- baik musik maupun suka-ria diharamkan.

Para ulama abad-abad ke-15 M dan 16 M membolehkan Alquran dibaca dan lagu-lagu dilantunkan. Diantara ulama itu adalah al-Suyuthi yang menggubah sebuah karya untuk membela tindakan "mengada-adakan yang baik" (bid'ah hasanah) -yakni perayaan maulid- dan perawi hadis Ibn Hajar al-Haitsami.

Namun keduanya melarang perjamuan musikal lainnya dan -bahkan terlebih lagi- penggunaan lampu-lampu dan lilin-lilin. Prosesi dengan lilin dan lampu mengingatkan keduanya pada kebiasaan-kebiasaan masyarakat Kristen di sekitar mereka dan perayaan Hari Natal atau Misa (2 Februari)-yang kiranya sungguh telah memengaruhi kebiasaan-kebiasaan peringatan maulid yang populer itu.

Arkian, meskipun mendapatkan kecaman dan kritikan ini, peringatan-peringatan maulid semakin populer di negeri-negeri Islam (termasuk Indonesia). Nampak pula semakin banyak kecenderungan di seluruh dunia Muslim untuk menggunakan maulid guna mengungkapkan pelbagai gagasan modernis.

Seluruh bulan Rabi' al-Awwal diisi dengan mengingat Nabi Muhammad SAW dan peranan etika, politik, dan sosialnya. Berbagai masjid, sekolah, kampus, serta media -cetak, elektronik, dan digital- bersatu padu dalam upaya mereka menggambarkan Nabi dalam pelbagai warna yang sangat mengesankan dan menyerukan agar kaum Muslim berupaya keras mencontoh keteladanan sikap moral Nabi.

Laiknya mencari apa yang dilukiskan oleh seorang penyair Afrika Timur di awal syair maulid-nya: "Sejak kau melangkah menuju maulid, Kau telah menyongsong pesona-pesona surgawi".

Muhammad Iqbal, sejarawan IAIN Palangka Raya, editor Penerbit Indie Marjin Kiri.
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.