Selamat datang raksasa baru: Inalum-Freeport

Ilustrasi: Menteri ESDM Ignasius Jonan (kiri), Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kanan) dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya (kanan) menyaksikan penandatanganan nota pendahuluan perjanjian oleh Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium Budi Gunadi (ketiga kanan) dan Presiden Direktur Freeport McMoran, Richard Adkerson (kedua kiri) terkait pokok-pokok kesepakatan divestasi saham PT Freeport Indonesia di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (12/7/2018).
Ilustrasi: Menteri ESDM Ignasius Jonan (kiri), Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kanan) dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya (kanan) menyaksikan penandatanganan nota pendahuluan perjanjian oleh Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium Budi Gunadi (ketiga kanan) dan Presiden Direktur Freeport McMoran, Richard Adkerson (kedua kiri) terkait pokok-pokok kesepakatan divestasi saham PT Freeport Indonesia di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (12/7/2018). | Wahyu Putro A /Antara Foto

Mau lihat cadangan emas di perut tambang terbuka (open pit) Grasberg? Hoediatmo Hoed, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PT FI 1991-96), kemudian menyodorkan sebongkah batu berwarna kuning keemasan yang tampak berpendar-pendar. Indikasi jelas batuan itu kaya akan bahan tambang emas.

“Kandungan emasnya dalam setiap kilogram batu kira-kira 0,99 gram,” katanya di kantor PT FI di Mulia Center, Kuningan, Jakarta.

Menurut Hoediatmo, Grasberg merupakan gunung logam (emas dan tembaga) yang membentuk cendawan raksasa (mother lead) sebagai hasil evolusi ribuan tahun isi perut bumi Papua. Grasberg pasti diingat dalam kesepakatan transaksi saham Freeport McMoRan Gold and Coper dan participating interest (PI) Rio Tinto di PT FI yang ditandatangani antara manajemen PT FI dan PT Inalum (Indonesia Asahan Alumunium) Kamis 12 Juli lalu dalam Pokok-Pokok Perjanjian.

Gunung Grasberg merupakan salah satu cash cowbagi PT FI, di samping tambang bawah tanah yang baru (deep ore zone) Big Gosan. Dalam Pokok-Pokok Perjanjian (HoA, Head of Agreement) disebutkan Inalum setuju membeli PI Rio Tinto US $3,5 miliar (40 persen di FI) untuk dikonversi menjadi saham. Inalum juga akan membeli saham PT Indocoper Investama di PT FI (10 persen) dari tangan Freeport-McMoRan (induk PT FI) dengan harga US $350 juta.

PT Inalum memang disiapkan sebagai kendaraan khusus (special purpose vehicle) untuk masuk ke kandang macan PT FI. Sebelum menandatangani HoA, sejak 12 November 2017 -dengan UU No 47 tahun 2017- Inalum sesungguhnya sudah menggenggam 21.300 lembar saham milik pemerintah di PT FI. Dengan demikian, Inalum memiliki hak pertama (pre emptive rights) untuk membeli saham Indocopper maupun PI Rio Tinto.

Melalui serangkaian akuisisi yang kompleks itu, jika segalanya lancar Inalum (induk BUMN tambang) akan menenjadi pemegang sahan mayoritas 51,2 persen. Seperti dijanjikan sejak awal dua pemerintah daerah–-Propinsi Papua dan Kabupaten Mimika-– secara bersama akan memiliki saham 10 persen yang akan diambilkan dari kepemilikan Inalum yang 51,2 persen di PT FI itu. Saham diberikan secara gratis dan mendapat dividen yang akan diperoleh PT FI kelak.

Sekalipun HoA sudah ditandatangani para pihak, masih banyak butir krusial yang harus disepakati. Di antaranya tuntutan Freeport McMoRan (pemegang saham di PT FI) untuk menjadi operator tambang.

Jika Inalum kelak sudah jadi pemegang saham pengendali, Freeport McMoRan tak bisa lagi mangkir untuk diajak segera membangun pabrik peleburan tembaga, sebuah kewajiban yang sebenarnya sudah dicantumkan dalam perjanjian jauh sebelumnya, tapi PT FI selalu mangkir. PT FI akan mendapatkan status IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus) hingga tahun 2041 yang bisa diperpanjang setiap 10 tahun sekali

Kesepakatan Inalum dengan Freeport dalam HoA itu juga mengungkap mengenai kepemilikan PT Indocopper Investama. Selama ini didengungkan bahwa RI memiliki 9,36 persen saham di dalam PT FI, sebagai bagian dari kewajiban PT FI melakukan divestasi saham ke RI.

Ternyata di samping saham pemerintah, divestasi seperti diwajibkan undang-undang, penjualan 10 persen saham Freeport McMoRan di dalam PT FI pada tahun 1991 jatuh ke tangan kelompok Bakrie. Untuk menampung saham itu Bakrie mendirikan PT Indocopper Investama yang membeli 10 persen saham Freeport McMoRan konon seharga US $213 juta.

Permohonan perpanjangan kontrak PT FI tak lama kemudian dikabulkan Menteri Pertambangan Ginandjar Kartasasmita. Namun untuk itu Bakrie konon hanya membayar US $40 juta, sisanya dibayar dengan dividen yang akan diterima Indocopper dari PT FI. Bakrie kemudian menjual 0,52% saham miliknya ke publik di Bursa Efek Surabaya pada 11 Desember 1992,.

Selain menjual saham ke publik, Bakri juga melepas 50,48 persen saham Indocopper US$ 315 juta ke PT Nusamba Mineral milik Bob Hasan. Nusamba kabarnya hanya membayar US $61 juta, dan sisanya ditutup dengan dividen yang akan diterima dari PT FI. Nusamba kemudian menjual sahamnya di Indocopper kepada Freeport McMoRan, induk PT FI, Februari 2002.

Bersamaan dengan Indocopper listingdi BES, Freeport McMoRan juga membeli 49 persen sisa saham Bakrie di Indocopper. Tidak jelas nilai transaksinya.

Setelah Freeport McMoRan masuk ke Indocopper, McMoRan juga membeli saham publik yang 0,52 persen. Indocopper kemudian keluar dari BES alias go privat(menjadi perusahaan tertutup) pada 20 Juni 2002. Dengan demikian, setelah go privat,Freeport McMoRan menjadi pemegang saham mayoritas dan sekaligus pengendali (90 persen) di PT FI.

Seiring dengan aksi korporasi itu, pada 1995 sebelumnya, Freeport McMoRan dan Rio Tinto membuat kerjasama (unicorporated joint venture) yang memberikan hak 40 persen kepada Rio Tinto sampai tahun 2022 untuk mengambil produksi dalam jumlah tertentu termasuk kekayaan PT FI. Manajemen PT FI mengumumkannya sebagai participating interest Rio Tinto di PT FI

PT Inalum sebagai induk perusahaan tambang tidak akan sulit mencari pinjaman dari sindikasi perbankan mengingat Inalum punya uang tunai sekitar Rp20 triliun (hampir Rp8 triliun di antaranya di kantung PT Bukit Asam, anak perusahaan Inalum). Jadi dengan posisi kas sangat kuat itu, Inalum bisa mengambil pinjaman maksimal tiga kali lipatnya dari sindikasi perbankan, katakanlah Rp60 triliun. Jadi tidak sulit untuk menguasai PT FI.

Posisi tawar Inalum kini memang kuat. Dengan PP No. 47 tahun 2017, pemerintah telah mengalihkan seluruh saham Seri B miliknya di PT Bukit Asam, Aneka Tambang, dan Timah ke Inalum. Serentak dengan pengalihan saham Seri B itu, pemerintah juga menyerahkan kepemilikan 21.300 lembar (9,36 persen) sahamnya ke Inalum. Dengan pengalihan saham Seri B di ketiga perseroan tambang itu, pemerintah (melalui Inalum) tetap bisa mengontrol dan mengendalikan PT Bukit Asam, Aneka Tambang, dan Timah.

Apalagi pemerintah masih punya selembar saham Dwi Warna yang dimilikinya, meskipun saham pemerintah jadi minoritas misalnya (seperti di PT Indosat), pemerintah berwenang memilih dan menetapkan susunan komisaris dan direksinya. Dengan kata lain, pemerintah tetap menjadi pemegang saham pengendali.

Langkah itu juga akan dilakukan dalam akuisisi PI Rio Tinto dan saham Freeport McMoRan di Indocopper dengan mengubah Anggaran Dasar/Rumah tangga PT FI. Artinya Inalum memegang kendali untuk memilih dan menetapkan susunan komisaris dan direksi.

Jika kelak akuisisi bisa diselesaikan, Inalum akan menjadi perusahaan tambang raksasa Asia yang menguasai bahan tambang tembaga, emas, perak, timah, alumina, nikel, dan batubara. Juga produsen listrik untuk PLN (PLTA Inalum dan mulut tambang PTBA).

Dengan cadangan tambang yang demikian besar, Inalum akan mudah mencari pendanaan untuk membiayai ekspansi usaha Bukit Asam, Aneka Tambang, Timah, Inalum sendiri – bahkan untuk kepentingan PT FI juga. Meskipun belum sebesar Rio Tinto atau BHP Biliton, layak kita ucapkan selamat datang raksa baru: Inalum-Freeport.

Presiden Direktur Inalum Budi Gunadi Sadikin akan bangga menunjukkan bongkahan batu dari Grasberg yang kaya emas: warnanya kuning berkilauan berpendar-pendar.

Eddy Herwanto, wartawan senior pernah bekerja di koran Pedoman, Majalah Tempo, dan Editor.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR