Seni tak perlu teori?

Ilustrasi aktivitas berkarya
Ilustrasi aktivitas berkarya
© Shutterstock

Meski tidak menyeluruh, kecenderungan anti-teori hampir merata menjadi opini umum kehidupan seni di Indonesia. Dunia akademik dan teori seringkali dianggap berseberangan dengan praktik seni.

Teori dipandang tidak ada gunanya bagi perkembangan seni; hanya menjadi tempat kejumawaan saja. Teori dianggap omong kosong yang asal bunyi. Sementara praktik seni jauh lebih susah daripada teori-teori itu.

Pertanyaannya, "Apa penyebab munculnya resistensi yang begitu kuat terhadap teori?" Sekurang-kurangnya ada tiga kemungkinan yang menjadi penyebabnya.

Pertama, demi tendensi akademik atau sekadar agar terlihat lebih pintar, seringkali muncul peneorian seni yang terkesan dibikin rumit. Teori seni seperti itu tidak mampu menjelaskan -apalagi membantu menghidupkan- seni menjadi "living arts". Teori seni seperti itu malah menggelapkan dan membingungkan.

Kedua, akademisi maupun sarjana-sarjana seni yang relatif melimpah sekarang belum memberikan manfaat yang signifikan. Akademi atau lembaga pendidikan tinggi seni setiap tahun meluluskan banyak sarjana seni.

Sebagian dari mereka menjadi seniman. Lebih banyak lagi jumlahnya yang beredar di kantor-kantor dinas bidang seni, kantor swasta, menjadi pengeritik, kurator, dan lain sebagainya. Meski begitu, kehidupan seni tak jauh lebih baik dari zaman masa hidup Balai Poestaka maupun PERSAGI.

Lebih menyakitkan lagi, banyak "seniman kampung", meski terkategorikan sebagai penemu atau Mpu, umumnya bernasib buruk secara sosial dan -terutama- ekonomi. Sementara beranjak ke masa modern hingga pasca-modern sekalipun, seni Indonesia cenderung belum bisa menentukan nasib hidupnya sendiri di kancah dunia.

Ketiga, faktor kesejarahan. Lembaga pendidikan seni di Indonesia itu masih sangat muda. Sementara kehidupan seni dan kebudayaan umumnya, telah tumbuh ribuan tahun sejak belum resmi menjadi Indonesia.

Hal itu berbeda dengan peradaban yang lebih tua seperti peradaban sungai Indus, sungai Kuning, Mesir, Yunani Kuno dan lainnya; terutama kelak dengan dimulainya masa Renaisans.

Meski semua tak langsung berbentuk akademi seperti yang kita kenal sekarang, namun tradisi akademik telah secara langsung berjalan di sana. Bukan berarti di sana samasekali tidak ada kritik terhadap dunia akademik, tapi umumnya tidak di dalam posisi resisten.

Dalam masyarakat yang memiliki tradisi akademik yang sudah kokoh, teori niscaya bisa dirasakan penting. Seseorang yang baru saja mulai belajar seni di California State University dan baru saja selesai membaca buku Theory and Philosophy of Art: Style, Artist, and Society karya Meyer Schapiro, misal, segera menulis,

"Teori seni itu seperti klik membuka pikiran saya. Untuk kali pertama saya melihat secara konkret apa yang dikatakan oleh seorang ahli teori seni. Semuanya begitu jelas, masuk akal, bahkan bisa memberi kejelasan bagi siswa kelas empat. Teori itu mengorganisasikan pikiran kita, dan membantu kita melihat pola-pola yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita."

Tak ada penolakan terhadap teori, bagi seniman yang memiliki tradisi berpikir cukup kuat.

Lewat akun Facebooknya pada 20 Juli 2013, misal, perupa Hanafi Muhammad menulis, "Hari-hari terakhir ini saya jarang praktek, lebih banyak berada di jam-jam teori. Saat berpikir, kita tidak bertindak.

Saat bertindak, kita tidak berpikir. Pikiran kita cair dan tindakan kita keras. Hasil paduan keduanya "memasta" yang, dalam waktu sebentar saja, panas matahari menjadikannya padat, mengeras, lalu berdiri dengan 'kakinya sendiri' sebagai karya."

Senada dengan itu, pada 26 April 2015 pelukis Ugo Untoro menulis lewat akun Facebooknya, "Satu hakekat seni yang mulai terabaikan adalah rasa, lepas dari ke mana arah seni rupa (kita) akan dibawa. Rasa yang merangkum semua indra dan pengalaman yang mendasar, manusiawi, dengan segala kelemahan, kekuatan universal.

Atau memang ada salah pengertian bahwa karya yang bagus identik dengan kesepakatan dari sebuah teori yang dikuasai kelompok tertentu, sepihak. Akhirnya kita kehilangan nilai garis, warna, goresan, komposisi yang mampu menggetarkan pada pandangan pertama."

Kedua seniman tersebut termasuk seniman-seniman terkuat dan terdepan di kancah senirupa Indonesia. Hanafi Muhammad fasih menentukan kapan saat berpikir dan kapan berkarya. Sementara Ugo Untoro terkesan kuat membaca teori lantas melakukan kritisisme terhadap teori -yang disebutnya teori sepihak yang dikuasai kelompok tertentu.

Itulah, hemat saya, sejatinya seniman. Ia membaca teori-teori yang ada. Namun manakala bekerja -menurut bahasanya- melupakan semua bacaan teori. Lantas sepenuhnya tenggelam di dalam penghayatan nilai garis, warna, goresan, komposisi yang mampu menggetarkan.

Melupakan semua bacaan teori bukanlah berarti lupa, hilang, sirna dalam pikiran. Terutama dalam diri seniman besar dengan kebesaran hatinya, yang sesungguhnya terjadi adalah segala upaya untuk 'melampaui' teori-teori yang pernah ada atau pernah dibacanya sehingga karya-karyanya berada di atas teori-teori itu.

Dengan memahami teori yang pernah ada, karya-karya seni kita justru menjadi mungkin melangkah ke depan; atau setidaknya, menjadi tahu di mana kita sedang berada hingga bisa menentukan langkah berikutnya.

Demikianlah alamiahnya hukum kehidupan seni dan teori. Seni akan selalu satu atau dua langkah lebih maju, baru kemudian teori merumuskan, mengartikan, memaknai, atau mewacanakannya.

Seperti pada awalnya adalah drama-drama Sophocles, baru kemudian ada Aristoteles yang merumuskan ars simia naturae. Karena sebelumnya terdapat karya-karya seni yang mengandung sistem tanda dan simbol, Susanne K. Langer menulis Philosophy in a New Key, yang kemudian dikembangkan oleh Saussure dan pengikut-pengikutnya menjadi semiologi atau ilmu semiotika.

Di sini seni dan teori saling memperkaya. Seni mendahului. Namun berkat teori maka seni menjadi nyata penting bagi kehidupan.

Herry Dim, pelukis, pengamat kebudayaan, penulis, tinggal di Cibolerang, Bandung
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.