Seno, Betawi, Sukab

Ilustrasi: Sektsa urban
Ilustrasi: Sektsa urban | MadPixel /Shutterstock

Esai adalah jenis tulisan yang paling jarang dikerjakan oleh sastrawan kita. Jika kita memeriksa bibliografi mereka yang paling banyak akan kita temukan adalah kumpulan puisi, cerpen dan novel—naskah drama, itu soal yang lain lagi.

Saya yakin itu terjadi karena menulis esai jauh lebih sulit daripada menulis fiksi dan puisi.

Namun, masih beruntung, dalam jumlah yang sedikit itu kita masih bisa menikmati esai-esai bermutu baik.

Kita bisa menemukan analisis yang tajam dan puitik pada esai-esai Asrul Sani. Pada Goenawan Mohamad, esai menjelma karya sastra dengan gaya tersendiri, yang bukan hanya indah, tetapi juga tidak mudah dipahami awam. Pada Mahbub Djunaidi kita menemukan humor orang Betawi yang tiada banding, sementara pada Umar Kayam humor yang njawani berkelindan dengan komentar sosial tentang dunia keseharian orang Jawa.

Dua yang terakhir ini, masih perlu catatan tambahan. Di samping menyajikan amatan yang tajam dan humor yang menjadi ciri khas masing-masing dalam bentuk esai atau kolom, baik Mahbub Djunaidi maupun Umar Kayam juga adalah penutur kisah yang piawai. Mereka juga menulis karya fiksi. Di samping kumpulan Kolom Demi Kolom dan Asal-Usul, Mahbub menulis novel Dari Hari ke Hari. Umar Kayam menggubah novel Para Priayi danJalan Menikung—selain himpunan kolom Mangan Ora Mangan Kumpul dan Sugih Tanpa Banda.

Orang kerap menyebut tulisan berkisah yang ringkas sebagai “sketsa”, lengkapnya “sketsa masyarakat”.

Pada masa dasawarsa 1950-an sketsa tentang orang Betawi atau warga Jakarta dikerjakan oleh Firman Muntaco dan terhimpun dalam Gambang Jakarte. Baik Mahbub maupun Muntaco, boleh dibilang, menulis dari sudut pandang yang sama: orang Betawi menceritakan orang Betawi, atau, dari sudut pandang “orang dalam”. Bedanya adalah jika Muntaco mengutamakan cerita, Mahbub memuliakan esai yang sesekali diberi ilustrasi tentang kehidupan orang Betawi.

Jika ada sketsa tentang kehidupan orang Betawi dan warga urban Jakarta hari ini yang ditulis dari pandangan orang luar Betawi, itulah esai-esai Seno Gumira Ajidarma yang dikumpulkan dalam buku berjudul Obrolan Sukab (2019).

Sebagaimana judulnya, esai-esai Seno dalam buku ini menampilkan tokoh utama bernama Sukab, tokoh yang juga pernah digunakan Seno untuk cerpen-cerpennya—pernah pula Agus Noor memasangnya sebagai tokoh cerpennya.

Sebagaimana karya fiksinya yang telah beroleh tempat terhormat dalam khazanah sastra Indonesia mutakhir, dalam sketsa seperti ini Seno kembali mempertaruhkan kemahiran berbahasanya—dalam hal ini bahasa Betawi dan urban Jakarta—dan kepekaan serta analisis yang tajam dan penuh humor mengenai kondisi budaya, sosial dan politik masyarakat Jakarta.

Dalam fiksi Seno telah mencapai satu gaya yang khas. Dan kali ini ia menguji coba bentuk “sketsa masyarakat” tentang orang Betawi dan warga urban Jakarta. Ia menyebutnya sebagai “menguji keberhinggaan wacana”. Kendati demikian, ia segera membedakan dirinya dari Firman Muntaco atau Mahbub Djunaidi.

Pada Muntaco bahasa Betawi menjadi sangat hidup dalam melukiskan romantika kehidupan masyarakat Jakarta setelah Kemerdekaan; pada Mahbub Djunaidi daya humor terasa sangat subversif, baik yang menyangkut orang Betawi maupun kondisi sosial politik Indonesia pada masa Orde Baru; sementara Seno menetapkan pilihannya pada Sukab dan kawan-kawannya yang segera bisa ditunjuk sebagai “masyarakat pinggiran” atau “wong cilik” setelah Reformasi.

Yakni, mereka yang tersisih dari gegap gempita pembangunan Jakarta dan Indonesia, tetapi mencoba tetap bertahan hidup, riang dan yang juga penting: kritis—dalam dua makna: terancam jiwanya dan gemar mengkritik keadaan.

Latar kisahnya yang mutakhir membuat Seno tidak melulu bertahan pada bahasa Betawi atau Melayu Dialek Jakarta yang konvensional, tetapi mendayagunakan juga “dialek urban Jakarta”. Seno menggunakan bahasa Betawi, tetapi nalar kalimatnya tetaplah nalar kalimat bahasa Indonesia. Tidak jarang bentukan kata yang ia gunakan menabrak aturan morfologi bahasa Betawi.

Singkat kata, bahasa esai Seno adalah “bahasa Indonesia yang dibetawiin” atau “bahasa Betawi semau gue”.

Acuan kebetawian Seno dalam bahasa adalah kamus gubahan Abdul Chaer, Kamus Dialek Jakarta, ditambah sejumlah kosa kata yang ia serap dari Firman Muntaco dan “dialek urban Jakarta” tadi, di mana bahasa gaul dan slang anak muda Jakarta hari ini menyerbu masuk dan mendapat tempat yang lebih dari cukup.

Dengan adukan seperti itu bahasa Sukab dan kawan-kawannya kampungan sekaligus kota, tradisional sekaligus modern. Subversif!

Unsur rekayasa bahasa menjadi penting dalam sketsa-sketsa Seno. Seorang penulis menciptakan sendiri variasi bahasa yang dia inginkan—dalam hal ini bahas Betawi dengan nalar bahasa Indonesia—bahkan sampai pada taraf neologisme: menciptakan kata baru yang tidak ada di dalam kamus dan percakapan sehari-hari orang Betawi.

Tokoh utamanya Sukab sudah jelas bukan orang Betawi tetapi mencoba dan tetap konsisten ngomong Betawi. Yang lain juga tidak jelas atau samar-samar asal-usul etnis mereka, tetapi semua mencoba ngomong Betawi juga. Mereka adalah warga Jakarta yang mencoba meleburkan diri dalam kesemestaan Betawi mutakhir.

Jika pembaca dengan bahasa ibu bahasa Betawi mendengar tuturan si narator atau percakapan Sukab dengan tokoh-tokoh lainnya, bisa jadi ia akan merasakan hal aneh dan bertanya, “Bahasa Betawi apaan nih begini?”

Namun, sekali lagi, esai adalah sebuah upaya—Subagio Sastrowardoyo pernah menyebut esai sebagai “surat upaya”.

Bukan hanya perkara ide yang dikembangkan dalam esai semacam ini, tetapi juga soal bahasa yang menjadi media penyampaiannya. Bahasa Indonesia yang baik dan benar sudah pasti tidak lagi mendapat tempat. Sebaliknya, Seno mengambil alih ragam cakapan bahasa Betawi dan merekayasanya sedemikian rupa demi mencapai sebuah situasi baru berbahasa “ala Sukab”.

Tentu saja, bentuk esainya yang ringkas membuat perhatian Seno berkisar di permukaan saja. Tokoh-tokoh sketsanya berkomentar, bukan menganalisis. Sebab, jika ia kelewat mendalam membahas satu hal, akan terasa sangat serius dan membosankan. Aspek spontanitas menjadi tidak ada lagi. Keriangan bakal terdesak ke pinggiran.

Di sinilah nilai penting humor dalam kehidupan Sukab dan kawan-kawannya. Humor bisa membuat kritik terasa tidak langsung melukai. Atau, ia menusuk pelan-pelan sebelum akhirnya menggedor pusat kesadaran mereka yang kena kritik. Humor mampu membuat Sukab dan kawan-kawannya mengecap ironi sebagai masyarakat urban Jakarta.

Esai-esai dalam Obrolan Sukab adalah jenis tulisan yang hanya cocok dinikmati dalam waktu senggang: saat menunggu kereta atau bus, di Minggu pagi sembari minum kopi, atau di kala kita hendak mencari sesuatu yang bisa menghibur—meski hanya sebentar saja. Lebih dari itu, orang harus mencari makalah atau buku. Dan sudah lain lagi situasi dan konsekuensinya.

Dalam sketsa seperti ini, kisah menjadi tidak terlalu penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah aliran atau lompatan topik di dalamnya. Cerita mungkin tidak bergerak ke mana-mana dan selalu berlangsung di warung Mang Ayat, tetapi pembahasan tentang topik atau isu yang sedang hangat, bisa bergerak ke sana kemari.

Sukab dan kawan-kawannya telah memindahkan meja diskusi di forum-forum yang terhormat sekaligus polutif ke warung Mang Ayat, ke pinggir jalan, yang terancam oleh banyak hal: dari penertiban Satpol PP hingga serudukan Lamborghini, dari penyakit ISPA hingga dipteri.

Mereka yang di pinggiran tadi kemudian bergerak ke pusat dengan cara menjadi komentator budaya, sosial, politik Jakarta, Indonesia dan dunia. Mereka tak ubahnya pada analis politik di layar televisi—yang kerap membingungkan dan penuh derau. Atau, sebagaimana yang disebut Seno: “anabel” (analisis gembel).

Obrolan Sukab mengajak kita melihat problematika Jakarta dan Indonesia dari pinggiran. Jika sudut pandang itu dianggap sudah kelewat jamak, bolehlah kita bisa menceburkan diri ke dalam permainan bahasa sang pengarang. Konon, itulah cara jitu dalam menikmati tulisan.

Zen Hae, penyair, cerpenis, dan penelaah sastra
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR