Setan bernama surplus dana tunai

Ilustrasi: Seorang pria mengamati layar elektronik pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (10/8).
Ilustrasi: Seorang pria mengamati layar elektronik pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (10/8). | Dhemas Reviyanto /ANTARA FOTO

Biang dari kemerosotan nilai tukar banyak negara melawan dolar Amerika sebenarnya berasal dari kepanikan para hedge fund manager yang mengelola miliaran dolar surplus korporasi raksasa, dana pensiun, dan perusahaan asuransi.

Mereka panik melihat perang dagang Amerika meluas dari Cina hingga Eropa. Apalagi ditambah dengan rencana Bank Sentral Amerika untuk melanjutkan kenaikan suku bunga acuan hingga 2,5 persen pada 2018.

Para pengelola dana surplus itu bisa masuk dan keluar sesuka hatinya ke negara yang bisa memberikan imbal hasil (return) di atas rata-rata bunga bank. Dana panas ini dibutuhkan sejumlah negara untuk menutup defisit pada transaksi berjalannya (penjumlahan neraca perdagangan dan neraca jasa-jasa). Tidak terkecuali Indonesia, yang membutuhkan dana panas itu untuk menutup defisit transaksi berjalannya yang menganga sejak Orde Baru.

Dana asing itu seperti diketahui masuk melalui penjualan surat berharga negara (SBN) di pasar uang. Sebagian dana itu bahkan juga mengalir ke pasar modal untuk membeli saham perusahaan yang dianggap baik prospeknya. Selama return yang diberikan cukup tinggi, dan investasi pada portfolio (SBN dan saham) aman, dana asing itu akan menetap cukup lama di suatu negara.

Pemerintah mana pun sadar, jika portfolio dana asing di pasar uang dan modal cukup tinggi, maka penarikan (likuidasi aset itu) secara bergelombang atau mendadak, pasti akan menghempaskan harga saham dan SBN, hingga pada akhirnya akan meremukkan nilai tukar mata uang setempat. Sebab likuidasi saham dan SBN dalam jumlah besar dan mendadak membutuhkan banyak devisa (dalam satuan dolar Amerika).

Sepanjang tahun ini dana asing keluar bergelombang dari SBN sehingga BI sebagai pembeli siaga harus menguras devisa hingga Rp89,76 triliun. Sampai Kamis 6 September 2018 kepemilikan SBN tercatat Rp841,57 triliun atau turun Rp12,2 triliun dalam tiga hari. Pembelian SBN oleh BI ini menjadi salah satu sebab mengapa cadangan devisa yang semula pada Januari masih US$131 miliar dengan cepat turun ke US$118,3 pada akhir Juli.

Jika perdagangan luar negeri bagus, pasok dolarnya bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan devisa untuk penarikan SBN itu. Pada akhirnya cadangan devisa sebuah negara, tidak terkecuali Indonesia, justru terkuras bukan untuk membiayai kebutuhan impor sebuah negara atau mencicil utang luar negerinya. Bayangkan, jika sebagai pembeli siaga SBN, pada 2-5 September saja BI harus menguras Rp10,68 triliun devisanya untuk mencegah agar harga SBN RI tidak makin remuk.

Sementara penjualan bersih asing di pasar modal mencapai Rp53,05 triliun. Tingginya net sell asing ini menunjukkan besarnya devisa yang juga keluar (capital ouflow) dari pasar modal.

Jika net sell dari pasar modal ditambah dengan likuidasi SBN milik asing maka angkanya akan mencapai Rp142,81 triliun dana asing yang keluar dari Indonesia. Usaha BI menaikkan suku bunga acuan rupanya belum cukup menjinakkan pelarian modal itu.

Rupiah akhirnya pernah menembus Rp15.000 sebelum kemudian menguat setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan di bidang fiskal : menunda sejumlah proyek senilai US$25 miliar dan menaikkan pajak ribuan item barang konsumsi impor. Serangkaian langkah itu dilakukan untuk menekan defisit transaksi berjalan yang cenderung bengkak. Sekalipun agak lambat, para fund manager melihat langkah itu merupakan sinyal positif sehingga rupiah menguat meninggalkan angka Rp15.000

Tapi pelarian modal dari likuidasi aset di pasar uang dan saham oleh asing tetap perlu diwaspadai. Sebab menurut taksiran kasar, jumlah uang tunai yang ditimbun seluruh korporasi Amerika pada tahun 2016 mencapai US$1,9 triliun. Dari jumlah itu sekitar US$80 miliar milik Alphabet -induk perusahaan Google (The New York Times Magazine 20 Januari 2016).

Yang mencengangkan adalah surplus uang tunai Apple yang di tahun 2017 mencapai US$246,1 miliar –lebih besar daripada GDP Finlandia yang US$239 miliar atau Bangladesh yang US$226 miliar. Tumpukan uang tunai Apple sebesar itu nilainya lebih besar dibandingkan nilai pasar Chevron, Procter and Gamble, atau BankAmerica. Menurut CNN, hampir US$230,2 milyar ( 94%) uang tunai Apple itu ditanamkan pada pelbagai instrumen pasar uang di luar negeri.

Setahun kemudian surplus Apple mencapai US$ 280 milyar (Moody’s Investor Service, 2018). Sekalipun Presiden Donald Trump sudah menjanjikan pemotongan pajak atas repatriasi laba korporasi Amerika dari 35 persen jadi 15,5 persen, dolar Apple belum terdengar mau pulang kandang, meskipun dengan insentif itu Apple bisa hemat hampir US$52 miliar.

Apple rupanya masih ingin merasakan nikmatnya memperoleh laba dengan menanamkan dananya di instrumen pasar uang dan modal. Secara tidak langsung korporasi Amerika -termasuk dana pensiun dan perusahaan asuransi ini, dengan membeli SBN, sesungguhnya menjadi kreditur banyak negara berkembang untuk membiayai pembangunan mereka.

Namun surplus ini bisa menjadi bola panas jika Bank Sentral Amerika terus menerus menaikkan suku bunga, dan Trump meluaskan perang dagangnya. Ekonomi negara penerima kredit (debitur) akan terhempas bila mereka menarik keluar dananya.

Besarnya aliran surplus uang tunai yang makin bengkak ini sudah dicium Peter Drucker sejak tahun 1980-an saat Sonny Corp. mendadak kaya setelah sukses memasarkan Walkman. Uang menjadi komoditi saat surplus dari sektor ril (industri dan perdagangan) mengalir dalam jumlah lebih besar ke sektor finansial.

Awal tahun 1980-an itu, Peter Drucker yang menyebut gejala itu sebagai decoupling economy memperkirakan perputaran uang tunai itu nilainya dua kali lebih besar dari nilai barang yang diperdagangkan.

Jika tahun 1980-an itu, nilai uang yang “diperdagangkan” dalam berbagai bentuk instrumen keuangan baru dua kali dari nilai barang yang diperdagangkan, tahun lalu nilainya diduga sudah mencapai 40 kalinya. Korporasi besar semacam Apple masih akan terus menumpuk suplusnya, apalagi kuartal ketiga 2018 pendapatan Apple sudah mencapai US$53,3 miliar.

Yang jadi pertanyaan mengapa korporasi besar semacam Apple, Microsoft, atau Sony lebih suka menumpuk uang mereka pada surat-surat berharga di luar negeri atau Amerika sendiri?

Jika surplus tadi digunakan untuk membangun pabrik baru, atau menyehatkan perusahaan yang sakit, jutaan lapangan kerja akan tercipta. Pajak juga bisa diperoleh dari situ. Pertumbuhan ekonomi akan lebih kokoh.

Pemerintah Indonesia rasanya sudah cukup jauh memberi kelonggaran dan insentif di bidang perpajakan untuk menarik investasi asing itu, sekaligus membangun infrastruktur baru. Tapi hati korporasi raksasa itu belum juga goyah.

Surplus dana tunai ini pada akhirnya seperti setan berwajah rahib, yang akan menghempaskan nilai tukar negara berkembang, hingga meremukkan penduduk miskinnya.

Eddy Herwanto, wartawan pernah bekerja di koran Pedoman, Majalah Tempo, dan Editor
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR