Superioritas dosen dan posisi tawar mahasiswa

Ilustrasi: Superioritas
Ilustrasi: Superioritas | Tero Vesalainen /Shutterstock

Urusan akademik yang semestinya menjadi domain kampus, bisa saja menjadi urusan aparat kepolisian. Komala Sari (35) seorang mahasiswa yang mengambil program doktor bidang Ilmu Lingkungan di Universitas Riau (Unri) melaporkan perbuatan yang tidak menyenangkan dari salah satu pengujinya berinisial MR ke Polda dan Ombudsman Riau. MR merupakan Rektor di Universitas Islam Riau (UMRI) di Pekanbaru, Riau.

Komala terpaksa melaporkan rektor yang menjadi pengujinya itu karena mengaku dilempar disertasi miliknya sendiri yang tebalnya 250 halaman lebih. Komala yang kebetulan juga berprofesi sebagai dosen, mengaku tidak bisa menerima perkataan Rektor UMRI yang menyebutnya binatang tak bermoral.

Terlepas, apa yang menjadi pemicu hingga MR sampai melempar mahasiswa dengan disertasinya itu, tindakan seorang pendidik yang kehilangan kontrol dan kemudian melempar atau membuang disertasi mahasiswanya sama sekali bukanlah tindakan yang bisa dibenarkan.

Sebagai seorang dosen yang notabene pendidik, MR tentunya harus menjaga muruah kehidupan kampus dan tidak meluapkan ketidaksukaannya dengan cara membuang atau melempar disertasi mahasiswa yang diujinya.

MR sendiri telah membantah bahwa ia bukan melempar disertasi, tetapi hanya menjatuhkannya dari meja. MR juga ganti menuduh Komala sebagai mahasiswa tidak memenuhi ketentuan yang berlaku di lingkungan lembaga pendidikan tinggi. Yakni meminta tanda tangan persetujuan –tanpa mau memperlihatkan di mana ia telah melakukan revisi.

Mensubordinasi

Tindakan kasar yang dilakukan MR sebetulnya bukan hal yang baru. Meski tidak terekspos di media massa, tindakan seorang dosen yang mensubordinasi dan bahkan semena-mena kepada mahasiswa bimbingannya tidak sekali-dua kali terjadi di berbagai kampus –dalam berbagai gradasi.

Sebagai pendidik, bukan rahasia lagi jika dosen umumnya merasa memiliki hak prerogatif untuk menilai disertasi, tesis atau skripsi mahasiswa yang mereka uji atau bimbing. Tidak sekali-dua kali mahasiswa terpaksa drop-out atau bertahun-tahun terpaksa terus menunda menyelesaikan karya ilmiahnya karena tidak kuat menahan diri, dan tidak pula mau mereposisi dirinya ketika menghadapi dosen yang superior.

Ada sejumlah tindakan atau perilaku dosen yang kurang terpuji, semena-mena, atau paling-tidak mensubordinasi mahasiswa yang diuji atau dibimbing. Berikut ini beberapa di antaranya.

Pertama, mengarahkan karya ilmiah mahasiswa bimbingannya menurut selera dan kepentingannya sendiri hingga mahasiswa yang bersangkutan tidak lagi mengenali apa yang mereka teliti dan tulis sebagai karya pribadinya.

Alih-alih memberikan arahan dan bimbingan bagaimana mahasiswa dapat menghasilkan laporan terbaik sesuai keinginannya, yang terjadi kerapkali adalah tindakan dosen pembimbing yang serba mengatur arah penelitian mahasiswa seolah dalam dunia akademik hanya ada satu jalan kebenaran ilmiah.

Kedua, menguji dan menyalahkan apa yang ditulis mahasiswa tanpa memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk membela diri.

Bisa pula mahasiswa diberi kesempatan menjawab pertanyaan dan kritik dosen yang bersangkutan, tetapi kebenaran akhir tetap ada di tangan dosen yang bersangkutan meskipun mahasiswa yang bersangkutan telah memperlihatkan rujukan atau sumber yang valid. Bukan tidak mungkin terjadi, seorang dosen meski tanpa dasar rujukan, atau hanya berdasarkan opininya sendiri menyalahkan apa yang ditulis mahasiswa.

Ketiga, dalam gradasi yang lebih ringan, di berbagai kampus sering pula terjadi seorang dosen mengkritik substansi data dan ruang lingkup masalah yang diteliti mahasiswa, dan kemudian menyarankan kepada mahasiswa yang bersangkutan untuk meneliti masalah yang dinilai dosen yang bersangkutan lebih up to date dan menarik.

Tidak peduli apakah si mahasiswa harus mengganti teori atau mencari bahan-bahan lain untuk mengubah latar belakang masalah yang ditulisnya, seorang dosen memang terkadang dengan dalih demi kebaharuan dan kualitas penelitian meminta mahasiswa menulis ulang proposal maupun karya akademik mahasiswa yang diujinya.

Second opinion

Bagaimana ujung dari kasus Komala dan dosen pengujinya akan terselesaikan, tentu tergantung pada proses pembuktian di hadapan hukum. Kasus yang menimpa Komala ini tidak lagi sekadar masalah pelanggaran etika kepantasan dalam hubungan sosial dosen-mahasiswa, tetapi kasus ini kini telah menjadi domain hukum. Sidang di pengadilan dan keputusan hakimlah yang akan menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam kasus ini.

Bagi dosen dan mahasiswa lain yang mengalami problem yang sama, peristiwa di Universitas Riau adalah tempat untuk berkaca. Perbedaan pendapat antara dosen dan mahasiswa sesungguhnya sah-sah saja terjadi, karena kebenaran ilmiah memang tidak selalu menempuh rute tunggal yang sama. Dalam tradisi ilmu sosial, kebenaran bahkan bisa multitafsir –tergantung pada perspektif teori yang dijadikan kerangka analisis.

Untuk mencegah agar kasus yang dialami Komala dan MR tidak terulang kembali, ada baiknya jika di masing-masing PT tersedia forum atau media untuk menangani dan menyelesaikan persoalan yang sama jika timbul di sana. Sikap reaktif dan tindakan yang kasar, jelas bukan pilihan yang direkomendasikan ketika terjadi perbedaan pendapat antara dosen dan mahasiswa.

Pada titik di mana perselisihan akademik antara dosen dan mahasiswa muncul, maka akan lebih bijak jika pihak PT sudah menyelesaikan forum alternatif untuk mencari kebenaran terbaik. Posisi dosen yang cenderung lebih superior dan mensubordinasi mahasiswa harus didekonstruksi dan kemudian direkonstruksi ulang pola relasi yang benar-benar berimbang dengan melibatkan dosen lain sebagai pihak yang memberikan second opinion.

Di era perkembangan masyarakat yang makin kritis dan egaliter, sikap dosen yang arogan dan mensubordinasi sesungguhnya sudah bukannya jamannya lagi terjadi. Dosen adalah sebuah profesi yang menuntut sikap bijak, kearifan dan kepedulian kepada masa depan mahasiswa. Bagaimana pendapat anda?

Bagong Suyanto, Guru Besar FISIP Universitas Airlangga
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR