Tahun baru dan hal-hal yang belum tentu

Ilustrasi: Jam
Ilustrasi: Jam | Mikhail Leonov /Shutterstock

Selamat tahun baru 2019.

Sebagaimana ketika mengucap selamat ulang tahun kepada teman, saya suka berkata, ”Ulang tahun itu tidak setiap tahun. Oleh karena itu, syukurilah dengan baik.”

Tentu, teman saya tertegun. Syukurlah, ia tidak lama kemudian tersadar perkataan saya itu tak keliru. Ya, siapa tahu tahun ini ulang tahunmu yang terakhir? Siapa tahu juga, tahun baru kita kali ini adalah yang pungkasan.

Lagi pula, 2019 hanya datang sekali. Tahun depan sudah 2020.

Siapa yang berani menjamin dirinya akan kekal? Hidup selama-lamanya -abadan abada seperti yang pernah didengungkan Fir’aun, raja zalim di Mesir pada era Nabi Musa alaihissalam, yang ternyata mati juga?

Satu-satunya kepastian di dalam kehidupan adalah kematian. Selain itu, ah, ya, benar: jodoh dan rezeki pun pasti. Bukankah memang begitu?

Empat takdir yang telah Tuhan tulis bagi setiap manusia dalam Lauhi ‘l-Mahfudz adalah kelahiran, kematian, jodoh, dan rezeki.

Namun demikian, kita ternyata tak benar-benar percaya empat perkara itu telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Kita suka membeda-bedakan antara usaha dan doa.

“Segala sesuatu masih bisa diusahakan, kok,” begitu dalih kita.

“Kalau mau berdoa, siapa tahu Tuhan memberi jalan,” demikian pula kata yang lain.

Ada yang berujar, usaha tanpa doa adalah sia-sia dan doa tanpa usaha adalah percuma. Padahal, usaha bisa jadi wujud dari doa dan doa juga bagian dari usaha.

Kita juga suka meragukan Tuhan akan memberi rezeki esok hari, jika bukan bahkan kita berani mempertanyakan dan menggugatnya. Padahal Tuhan saja tak pernah mempertanyakan ibadah kita esok hari. Sebab, siapa tahu tidak ada hari esok bagi kita.

Yang sudah pasti ada adalah hari ini. Sekarang. Masa lalu telah berlalu dan masa depan belum tentu sesuai harapan, maka masa kinilah yang jelas-jelas telah menjadi kenyataan. Menerima dan bersyukur niscaya pilihan terbaik.

Tentang jodoh, ah, ini sangat sensitif. Ada yang beranggapan bahwa suami dan istri, pasangan yang telah dinikahi, adalah jodoh. Ada pula yang berpendapat, jodoh tak selalu menyatu.

“Jatuh cinta itu takdir. Menikah itu nasib,” begitu kira-kira celoteh Sujiwo Tejo, dalang edan yang kini telah menjelma selebritas di dunia maya.

Tapi, faktanya, pertanyaan paling abadi adalah, ”Kapan nikah?”

Seolah, menikah itu satu-satunya jalan menuju kebahagiaan. Padahal, belum tentu, ternyata.

Mereka yang telah mempunyai pasangan, yang mengunggah potret-potret kemesraannya ke media sosial justru dianggap sedang menutupi ketidakmesraannya di dunia nyata. Seseorang yang menulis puisi-puisi murung ditengarai tak senang hidupnya.

Kita menjadi makhluk amfibi yang hidup di dua dunia. Yakni dunia nyata dan dunia maya. Padahal kehidupan di dunia nyata saja fana, apalagi kehidupan di dunia maya. Tapi, kita menikmati itu. Kita suka menjadi akun.

Sejak memasuki era dunia dalam genggaman, kita gemar menghabiskan waktu lebih lama di depan layar gawai. Berkumpul pun tak menjamin kita saling menatap mata ketika berbicara. Mahfum saja, kita juga sedang sibuk berbincang dengan seseorang atau sekelompok orang di seberang, di ruang percakapan digital atau linimasa.

Teknologi komunikasi berhasil mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Kita berevolusi menjadi makhluk sosial yang sekaligus antisosial.

Namun ada yang ternyata tak pernah bisa ada dalam genggaman. Ia adalah waktu. Waktu adalah anugerah Allah yang tidak dapat dipegang. Sekali datang, seketika pergi.

Tiap kali tiba, waktu selalu tiba-tiba. Namun, waktu tidak pernah terlambat. Ia selalu tepat, dan oleh karena itulah kita sebut tepat waktu.

Pada rentang waktu tertentu itulah, umur kita berada, pun angka-angka tahun dalam hidup kita. Sejauh ini, kita sudah sampai tahun 2019. Akankah kita sampai tahun 2020? Entah.

Dikarenakan waktu terus berjalan, bahkan ketika kaki kita tidak, alangkah baiknya kita ikhtiarkan kaki-kaki ini berhenti di zona kebaikan ketika tak berjalan dan melangkah ke zona kebaikan pula setiap bergerak.

Waktu memang pedang, seperti sabda Sayyidina Ali, dan semoga umur adalah tangan kita yang mengendalikan pedang itu.

Tak perlu hidup selamanya untuk menjadi manusia yang baik. Cukup hadirkan saja momen-momen terbaik setiap waktu sepanjang usia hayat kita.

“Sekali seumur hidup” bisa mewujud spiritualitas teramat luhur jika kita berkenan memperjuangkan kebaikan.

“Berbuatlah yang terbaik, cukup sekali saja seumur hidup. Siapa tahu, ini perbuatanmu yang terakhir. Siapa tahu, sesudah itu kau mati,” tutur seorang kiai pada saya.

Sulit, memang. Tapi, lebih sulit lagi berbuat baik setelah kita tidak lagi bernyawa, bukan?

Nah, jika setelah berbuat baik sekali seumur hidup itu ternyata kita masih hidup, berbuat baik lagi saja. Begitu terus sampai mati.

Saya pernah bertemu dengan seorang kakek 125 tahun di Badui Dalam dan seorang Nyai 120 tahun di Banyuwangi. Keduanya sehat wal ‘afiat dan masih kuat beribadah dan berbuat baik.

Bahkan, saya pernah bertemu dengan seseorang yang jauh lebih sepuh dari mereka di Blitar. Saya tak bisa membayangkan seberapa panjang umurku, juga umur anda. Namun, setiapkali tahun baru datang padahal belum berbuat apa-apa untuk memberi arti pada hidup, saya merasa gagal.

Percayalah, Januari pada setiap tahun baru, juga tahun baru 2019 ini, takkan berlangsung lama. Kita akan kembali berujar, ”Tidak terasa, sudah tahun baru lagi, ya.”

Tidak terasa, tubuh menua. Tidak terasa, pandangan memudar. Tidak terasa, punggung membungkuk. Tidak terasa, waktu semakin dekat pada ajal. Tidak terasa, kita sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

Selamat tahun baru 2019. Meski belum tentu kita bertemu lagi, semoga perjumpaan ini membahagiakan.

Candra Malik, budayawan sufi.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR