Teater kekuasaan bernama Gerhana

Dua orang anak melihat refleksi proses gerhana matahari dari kolam di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (9/3/2016).
Dua orang anak melihat refleksi proses gerhana matahari dari kolam di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (9/3/2016). | Aloysius /Antara Foto

Kepada yang bersikeras meyakini Orde Baru adalah pemerintah terbaik sepanjang sejarah, simaklah apa yang terjadi di sekitar berlangsungnya gerhana matahari total (GMT) pada 11 Juni 1983. Dalam peristiwa alam yang begitu menakjubkan itu, Orde Baru memperlihatkan dirinya dengan terus terang: rezim teror.

Orde Baru menyiapkan diri dengan sangat serius untuk menyambut GMT yang sangat dinantikan dunia itu. Di akhir tahun sempat muncul perkiraan akan ada satu juta lebih orang asing yang akan datang ke Indonesia khusus untuk menyaksikan GMT, baik para peneliti hingga turis biasa.

Untuk menyukseskan hajat istimewa itulah, muncul operasi yang kelak masyhur dengan sebutan "penembakan misterius" atau petrus: eksekusi mati (tanpa pengadilan) kepada mereka yang ditengarai sebagai preman, bromocorah, gali, begal, jegger--kebanyakan di antaranya dicirikan oleh, atau disederhanakan cirinya, tatto di tubuh.

Operasi itu dilakukan secara setengah terbuka, tidak rapi-rapi amat, seakan dibiarkan diketahui orang. Amat banyak korban yang diambil dalam keadaan tidak sedang sendirian; meninggalkan saksi mata yang lantas mengabarkannya ke mana-mana, dari mulut ke mulut. Mayat korban pun tidak dibuang ke tempat sepi, melainkan dibuang begitu saja ke tempat-tempat terbuka.

Dimulai di Yogyakarta, pantaslah jika komandan militer di sana kala itu, tepatnya Komandan Distrik Militer 0734 Yogyakarta, Letkol M. Hasbi, didengar kesaksiannya. Kepada reporter Tempo (edisi 16 April 1983), ia dengan benderang berkata:

"Terus terang, operasi ini untuk meratakan suasana aman menjelang gerhana matahari 11 Juni mendatang. Kalau tamu dari luar negeri nanti diganggu, mereka akan berkata: 'Jangan pergi ke Indonesia. Di sana banyak copet, garong...' Kan kita rugi. ... Pokoknya operasi akan jalan terus entah sampai kapan. Jadi, sebaiknya mereka menyerah saja. Kalau tidak, akan kami jemput."

Operasi ini sebenarnya tidak muncul tiba-tiba. Dipicu oleh maraknya kriminalitas, terutama di kota-kota besar. Peristiwa perampokan bersenjata di sebuah toko emas dan sebuah bank di siang bolong yang terjadi di Bandung, kala itu, diberitakan besar-besaran. Peristiwa itu, juga maraknya pembajakan bus di Jakarta, diolah sedemikian rupa untuk memperlihatkan kepada publik: kejahatan bukan lagi dunia gelap karena sudah dilakukan terang-terangan di siang bolong.

Soeharto, pada 1982, secara terbuka sudah meminta ABRI untuk "mengambil langkah pemberantasan kejahatan secara efektif". Para pejabat teras Orde Baru tidak mengakui secara terbuka operasi ini, kendati mereka juga tak pernah menyangkalnya. Soeharto jelas mengetahuinya. Dan dengan demikian: mengizinkannya.

Dalam Bab 69 buku Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, ia menganggap operasi itu bukanlah sesuatu yang misterius. Biasa saja. Katanya: "Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi, kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan.. dor.. dor.. begitu saja, bukan! Yang melawan, mau tidak mau, harus ditembak. Karena melawan, mereka ditembak."

Kesaksian beberapa orang yang menyaksikan beberapa kasus petrus menyebutkan itu berlebihan. Mungkin memang ada yang melawan, tapi tidak sedikit yang tak cukup tenaga atau kesempatan untuk melawan.

Saksi mata yang ditemukan Tempo (edisi 18 Juni 1983) untuk kejadian di Warakas (Jakarta Utara) dan Kebon Kalapa (Jakarta Timur) menyebutkan, korban sudah tidak berkutik sejak ditangkap dan bahkan sudah meminta ampun. Toh eksekusi tetap dilakukan.

Operasi berlanjut jauh setelah GMT. Diperkirakan ada ribuan orang tewas di berbagai kota, bahkan ada yang memperkirakan mencapai kisaran 10 ribu orang (Joshua Baker, "State of Fear", dalam buku Violance and the State in Suharto's Indonesia, hal. 30).

Para pejabat teras Orde Baru tidak mengakui secara terbuka operasi ini, kendati mereka juga tak pernah menyangkalnya

Teror tak hanya melalui pelor kepada mereka yang dianggap sebagai kriminil (kata dianggap perlu ditandai karena mereka tak pernah diberi kesempatan membela diri di pengadilan). Melalui berbagai aparatusnya, Orde Baru menyebarkan ketakutan. GMT dilarang disaksikan langsung karena akan mengakibatkan kebutaan total.

Alih-alih memberikan informasi yang memadai tentang cara menyaksikan gerhana secara aman, pemerintah kala itu ambil cara paling gampang: dilarang menyaksikan gerhana secara langsung.

Media massa (televisi, radio, surat kabar), sekolah, institusi pemerintah di setiap tingkatan, militer dan kepolisian dan berbagai organisasi massa dimaksimalkan untuk menyebarkan bahaya menyaksikan GMT. Rakyat dilarang berkeliaran pada 11 Juni 1983 kala berlangsung GMT.

Semua harus di dalam rumah dan hanya boleh menyaksikannya melalui TVRI. Polisi, tentara, hansip dan aparat pemerintah lainnya berpatroli untuk memastikan tidak ada yang berkeliaran di jalan atau udara terbuka pada jam berlangsungnya GMT.

Ketakutan yang dirancang itu, mudah ditebak, akhirnya melebar ke mana-mana dan memunculkan berbagai sas-sus yang menggelikan: sumur harus ditutup karena GMT bisa menghasilkan racun, debu-debu bisa bikin kulit luka, bahkan ternak pun bisa mati. Tidak heran jika bukan hanya rumah-rumah saja yang ditutup, bukan hanya oleh korden tapi juga kertas koran, bahkan kandang kambing, sapi atau ayam pun diselubungi sebisanya.

Pemerintah tentu saja mengizinkan rakyat untuk menyaksikannya langsung, hanya saja itu bisa dilakukan di tempat-tempat tertentu (seperti observatorium, laboratorium di kampus, dan tempat semacam itu). Jelas hanya segelintir saja yang bisa menikmatinya. Jutaan orang lainnya hanya bisa menikmatinya melalui layar kaca.

Ketika GMT itu terjadi, jalanan di kota maupun di desa sangat sepi. Ketika langit mulai redup, semuanya terjadi menjelang tengah hari bolong, kesunyian yang aneh menyeruak tiba-tiba. Keheningan mencuat. Suasana mencekam seperti meloncat ke hadapan mayapada. Jutaan orang melewatkan detik demi detik dalam ketakutan, sekaligus ketakjuban, yang nyaris tak terkatakan. "Seperti lagi perang," kata seorang peneliti (Tempo, 18 Juni 1983).

Saya yang masih bocah dipeluk seerat-eratnya oleh ibu yang sehari sebelumnya sudah membelikan mainan baru agar saya jenak di rumah. Kata ibu, "Kami berdoa dan bertakbir, dengan jantung yang tak henti berdegup kencang."

Tapi ada ribuan orang nekat, yang tersebar di seantero nusantara (yang jumlahnya tetap tak seberapa dibanding mereka yang ketakutan dan memilih tinggal di dalam rumah), yang sempat menyaksikan GMT. Sebagian di kampus, sebagian lebih kecil di observatorium, sebagian berkerumun di sekitar orang-orang asing yang mendatangi berbagai titik di Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi.

Merekalah yang mendapatkan berkah tak terkira menyaksikan penampilan semesta yang paling mengesankan. Mula-mula mereka menyaksikannya dengan mengintip, ada yang menutupinya dengan kertas perak, lalu akhirnya... setelah menyaksikan orang-orang asing menatap langit dengan mata telanjang, mereka pun ikut menikmatinya dengan mata kepala sendiri.

"Gila, gila, keindahan yang teramat langka begini kok dilarang dinikmati," seru seorang pemuda di lokasi pengamatan di Tambakboyo, Boyolali. "Luar biasa, saya terharu," ujar Bill Thuem, peneliti dari Cyress Club, Texas, sambil menangis. "Fantastis, sungguh fantastis," komentar Dr. Gunn Akerlindh dari Swedia yang meneliti di Tuban.

Pengamat asing di Cepu mengangkat toast meluapkan rasa gembiranya. "Astaga, orang Indonesia kok sembunyi dari keindahan tata surya," kata tiga turis Selandia Baru yang menjadi pengamat amatir di Surabaya.

Tempo edisi yang sama melaporkan bagaimana RRI menyiarkan detik demi detik menjelang GMT. Diiringi musik karya Jean Michael Jarre, Oxygene, penyiar RRI berkata di ujung mikrophone: "Saudara pendengar, kontak kedua hampir terjadi, tiga, dua, satu, saudara, Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar! Saudara pendengar, bulu kuduk kami berdiri, begitu mencekam...". Lalu suara penyiar itu hilang sekejap.

Dan di hadapan alam raya yang sedang memperlihatkan keindahannya yang paling sempurna, akhirnya, rezim yang paling terobsesi dengan kendali pun tak berkutik. Di Pantai Losari, Makassar, polisi tak kuasa melarang orang-orang (kebanyakan para tukang becak) yang, akhirnya, berhasil diyakinkan peneliti asing untuk menyaksikannya langsung. Mereka berlarian sambil meneriakkan keagungan Tuhan.

Merekalah, segelintir orang dibanding jutaan yang lain, beruntung bisa menyaksikan kenyataan yang agak lain itu.

Inilah teater kekuasaan, sebagaimana diungkapkan Clifford Geertz dalam studinya tentang Nagara di Bali

Bayangkan saja, menjelang tengah hari, kisaran pukul 11 siang WIB, hari yang sedang terang-terangnya, nyaris tanpa awan, pelan-pelan meredup - mungkin seperti dian yang menuju minyak penghabisan.

Matahari yang tadinya panas seperti menjadi hangat, lalu sedikit agak dingin, sementara angin nyaris tak berhembus. Langit siang hari yang terang dan bersih itu, bersalin secara perlahan menjadi seperti senja, atau malah seperti subuh. Lalu kegelapan menyeruak, dan... beberapa cercah bintang sempat menampakkan cahayanya.

Peristiwa luar biasa indah dan menakjubkan itu, yang bisa saja menggetarkan jiwa dan karenanya dapat dianggap sebagai revelasi sebuah iman. Atau dapat juga diperlakukan sebagai momen saintifik guna--hingga batas tertentu--kepentingan pendidikan, terlewatkan atau dilewatkan oleh rezim yang sejak awal didirikan di atas tumpukan mayat dan aliran darah ratusan ribu hingga jutaan orang korban-korban pasca 1965.

GMT pada 1983 menjadi penting, terutama, karena sepertinya tak akan ada lagi presedennya di masa mendatang. Mungkin itulah terakhir kalinya, di Indonesia, terjadi peristiwa ketika mayoritas rakyat diinterupsi kesehariannya dengan ajaib: rakyat menarik diri ke dunia dalam, mengundurkan diri ke ruang-ruang aman, dan semua dilakukan dengan keikhlasan yang aneh -- campuran antara kecemasan dan ketakutan yang kawin mawin dengan ketundukkan.

Inilah teater kekuasaan, sebagaimana diungkapkan Clifford Geertz dalam studinya tentang Nagara di Bali. Dunia di luar rumah tak ubahnya panggung yang memperagakan seperti apa kekuasaan dan rakyat yang berada di dalam rumah, dalam ngungun yang tak sepenuhnya dapat dipahami, akhirnya menjadi saksi: bukan saksi keagungan alam raya yang menakjubkan, namun kedahsyatan kekuasaan yang mengubah siang menjadi malam.

Setelah teater itu kelar, ketika kelir ditutup dan kayon dicabut, rakyat dengan segera merasakan kelegaan karena merasa telah selamat dan diselamatkan dari bencana (entah kebutaan entah yang lain). Dan untuk itu, lagi-lagi, rakyat akhirnya menghaturkan terima kasih kepada pemerintah yang telah menghadirkan slamet.

Konsep slamet inilah yang dipakai John Pemberton, dalam disertasi untuk Cornell University, On the Subject of "Java", untuk memahami bagaimana Orde Baru mentransmutasikan kode-kode kebudayaan Jawa dalam menegakkan kekuasaannya.

Pemberton mengajukan konsep slamet ala Jawa sebagai titik pijak menggeledah Orde Baru yang membangun hegemoni tentang pentingnya negara sebagai pengayom dan pelindung masyarakat dari berbagai ancaman, termasuk bahaya kebutaan massal dan permanen akibat GMT maupun dari para penjahat bertatto.

Eksekusi para penjahat tanpa pengadilan dan larangan menyaksikan GMT, akhirnya, bersua di hilir yang sama.

Jika petrus merupakan metode brutal pertunjukkan kekuasaan, maka operasi "politik-kebudayaan" dalam soal GMT memperlihatkan rezim itu membangun hegemoni yang membuat kekuasaan tampak sebagai hal normal, bahkan sudah seharusnya, juga sewajarnya, sebagai pengejawantahan negara sebagai "bokap", sebagai "babe", yang mengayomi, yang melindungi.

Dia melakukannya dengan, setidaknya dalam foto yang masyhur itu, sembari tersenyum....

BACA JUGA