Teknik membaca cerita pendek

Ilustrasi: Membaca
Ilustrasi: Membaca | Rattana. R /Shutterstock

Dalam beberapa minggu belakangan, saya tergila-gila pada sembarang cerpen yang dimuat di koran-koran hari Minggu. Hampir tiap malam saya membuka websiteatau blog yang memuat ulang cerpen-cerpen koran dan membaca banyak cerpen yang ada di sana. Itu pengalaman mendebarkan.

Sebagai pembaca, saya berterima kasih kepada situs dan blog tersebut. Berkat mereka, saya bisa menemukan cerpen-cerpen yang dimuat di berbagai koran pada Minggu kapan pun, baik Minggu kemarin maupun Minggu sepuluh tahun lalu.

Kemewahan semacam ini tak mungkin saya nikmati tiga puluh tahun lalu ketika hasrat untuk membaca dan menulis cerpen sedang berkobar-kobar. Tentu saja yang paling berkobar pada waktu itu adalah hasrat mengirimkan cerpen ke mana-mana.

Untuk hasrat terakhir itu, saya beruntung memiliki teman yang rajin mencatat alamat kantor redaksi koran-koran di Indonesia. Ia dua tahun lebih tua dan, dengan wibawa seorang senior kepada remaja plonco, pada suatu hari ia memberi tahu: “Putu Wijaya punya tekad bahwa semua koran di Indonesia harus pernah memuat cerpennya.”

Saya menyalin semua alamat redaksi dari buku catatannya dan diam-diam ingin seperti Putu Wijaya, tetapi itu keinginan yang muskil. Kecepatan menulis saya seperti gerak siput kebun. Karena itu, sekarang, saya sebetulnya lebih suka membaca saja ketimbang menulis.

Karena membaca banyak cerpen tiap malam, pada akhirnya saya menjadi tahu bagaimana cara membaca cepat cerpen-cerpen itu. Dan, demi mengamalkan prinsip mulia bahwa hidup adalah saling berbagi hal-hal baik, saya ingin menyampaikan bagaimana saya melakukannya. Tulisan ini dibuat memang untuk tujuan itu, ialah berbagi kepada pembaca tentang teknik membaca cepat cerpen-cerpen koran.

Ada empat hal penting yang bisa membuat anda menyelesaikan setiap cerpen sesegera mungkin.

Pertama, perhatikan nama pengarangnya. Perlu diingat bahwa setiap pengarang, entah ia lahir di desa atau di kota, selalu memiliki keunikan tersendiri. Bagi mereka berlaku pepatah tidak ada satu lemur yang sama di muka bumi. Beberapa di antara keunikan itu adalah sebagai berikut:

Ada pengarang yang senang membaca karyanya sendiri dan akan membaca berulang-ulang cerpennya yang baru dimuat. Lazimnya ia membaca ketika sedang sendirian; ketika sedang bersama teman-temannya, ia akan berbuat seolah-olah tidak membaca sama sekali cerpen itu.

Ada pengarang yang mengagumi gagasan-gagasannya sendiri dan punya obsesi berlebih pada orisinalitas. Mengenai hal ini, ingatlah anekdot tentang Dr. Samuel Johnson dan anak muda yang ingin menjadi pengarang. Kata Johnson kepada anak muda itu: “Saya menemukan beberapa hal yang orisinil dan bagus pada karanganmu. Masalahnya, bagian yang orisinil tidak bagus, dan bagian yang bagus tidak orisinil.”

Ada pengarang yang suka mohon doa restu dan memberi warna baru dalam kesastraan dengan kebiasaannya itu. Dengan kata lain, ia membawa perangai orang hajatan ke dalam pergaulan sastra Indonesia: “Mohon doanya, ya…!”

Dan ada pengarang yang senang membawa koran lama ke mana-mana. Dulu, pada suatu hari di bulan Mei 1990, saya sedang gentayangan sendirian di halaman kampus dan seorang teman tergopoh-gopoh mendekati saya dan menanyakan: Baca Jawa Poshari Minggu ketiga bulan Maret?

Saya tidak membacanya. Ibu kos hanya berlangganan koran Kedaulatan Rakyat.

“Ada kejadian penting?” tanya saya.

Ia mengeluarkan dari tasnya koran Jawa Pos yang sudah lusuh dan menyodorkan kepada saya.

“Cerpen saya dimuat,” katanya.

Dengan dalih ingin mendengar pendapat saya, ia meminta saya membaca cerpennya.

Jenis terakhir inilah menurut saya yang paling unik. Ia suka menyimpan koran lama di dalam tasnya dan menanyakan kepada teman-teman apakah mereka membaca koran edisi dua bulan lalu.

Jadi, dengan memahami keunikan masing-masing pengarang, anda sudah bisa memutuskan apakah akan membaca sebuah cerpen sampai rampung atau cukup membaca nama pengarangnya.

Kedua, baca paragraf pertama dan segera ambil keputusan. Jika paragraf pertamanya buruk, yakinlah bahwa cerita itu tidak memiliki kemungkinan bagus. Paragraf pertama yang buruk mengandung makna bahwa si pengarang tidak tahu bagaimana penulis bagus bekerja.

Setiap pengarang yang bagus, anda tahu, akan bertarung untuk merebut perhatian pembaca sejak paragraf pertama, atau bahkan sejak kalimat pertama. Seorang pengarang yang tidak tahu bagaimana membuat paragraf pertama, kemungkinan besar ia tidak tahu bagaimana membuat paragraf kedua, ketiga, dan seterusnya.

Ketiga, periksa dialognya. Beberapa pengarang menggunakan dialog sebagai alat untuk berpidato atau berpetuah atau menyampaikan renungan-renungan hidup. Beberapa yang lain mengira bahwa dialog harus secerewet induk ayam yang sedang bertelur. Ada juga pengarang yang suka mengkritik melalui dialog lugu seperti di bawah ini:

“Apa profesi anda?”

“Saya seorang pengusaha.”

“Di bidang apa?”

“Di bidang apa saja. Semua saya sikat. Semua saya keduk. Tidak ada yang bisa menghentikan saya karena semua pejabat sudah saya suap.”

Keempat, perhatikan berapa banyak komentar yang diberikan untuk cerpen tersebut. Saya menyukai cerpen-cerpen yang mendapatkan banyak komentar. Tepatnya, saya menyukai komentar para pembaca atas sebuah cerpen.

Menurut saya, bagian paling mendebarkan dari cerpen-cerpen yang saya baca di internet adalah komentar pembaca atas cerpen-cerpen tersebut.

“Dalem banget….”

“Sarat akan kritik dan ditulis dengan ide yang unik. Mantap!”

“Gak harus pakai bahasa njelimet dan alur yang ribet untuk menjadi sebuah karya yang bagus.”

“Ditulis secara piawai, mengobok-obok emosi.”

“Bagus bingit. Endingnya tak terduga.”

Sekiranya anda hanya membaca komentar dan tidak membaca cerpennya, mungkin anda akan berpikir bahwa mereka sedang mengomentari cerpen Anton Chekhov, Dostoevsky, Hemingway, Jhumpa Lahiri, atau Gabriel Garcia Marquez.

Teknik paling menyenangkan untuk membaca cerpen yang mendapatkan banyak komentar adalah seperti ini: Jangan buru-buru membaca cerpennya. Anda baca semua komentar lebih dulu, setelah itu baru cerpennya. Dengan cara ini, anda akan mendapatkan ketegangan di level maksimum.

Paling tidak, itu yang saya alami. Sampai sekarang saya masih deg-degan terhadap komentar “mengobok-obok emosi” dan “endingnya tak terduga”. Pikir saya, bagaimana mungkin ada orang mengizinkan emosinya diobok-obok oleh cerita buruk atau terpesona oleh endingyang kasar dan menyebutnya sebagai endingyang tak terduga?

Dan tak kalah menegangkan adalah komentar “dalem banget”—rasanya seperti mendengar orang mengomentari sumur bor. Mungkin komentar itu muncul karena dialog-dialognya penuh petuah, atau cerpen tersebut menyampaikan renungan hidup atau ucapan-ucapan falsafi melalui mulut tokoh utama: ia bisa seorang pengemis atau tukang mi ayam atau penjual gorengan atau orang desa yang datang ke kota atau berbagai jenis orang miskin lainnya.

Penulis Yusi Avianto Pareanom pernah menceritakan bahwa dipuji oleh orang-orang yang tidak paham itu bisa menerbitkan perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Ia mencontohkan seorang pembaca yang menyukai novel Raden Mandasia dan berupaya mendorong temannya untuk membaca juga. Mereka saling berbalas komentar di Facebook. Untuk meyakinkan temannya, orang itu mengatakan:

“Bagus sekali ceritanya.”

Temannya, yang kelihatannya memiliki trauma berat terhadap karya sastra, mengajukan pertanyaan:

“Sastra, ya?”

Si pendorong menegaskan:

“Tidak sastra-sastra amat, kok.”

Tentu saja itu pujian yang menerbitkan perasaan aneh; ia tak terjelaskan, setara dengan pengalaman ekstase para sufi.

Orang-orang dari fakultas sastra mungkin bisa menjelaskan hubungan antara bagus sekali ceritanya dan tidak sastra-sastra amat, atau sebuah novel yang “tidak sastra-sastra amat” itu artinya “bagus sekali”. Saya pikir fakultas sastra didirikan antara lain untuk membantu publik memahami karya sastra secara lebih baik, melalui telaah yang jernih terhadap karya-karya atau melalui kajian-kajian yang bisa meningkatkan pengetahuan khalayak untuk membuat penilaian.

Memang pembaca boleh berkomentar apa saja dan berhak mengembangkan selera pribadi terhadap bacaan yang mereka suka, tetapi pemahaman yang lebih baik niscaya menjernihkan pikiran dan pikiran yang jernih akan lebih mampu meningkatkan selera. Saya betul-betul deg-degan dengan komentar “dalem banget” atau “mengobok-obok emosi” yang ditujukan kepada karya-karya semenjana—atau dalam bahasa kaum yang sengit: jelek saja belum.

A.S. Laksana, jurnalis dan sastrawan.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR