Tentang sekularisasi kurban

Ilustrasi: Umat muslim memberikan daging kurban kepada warga non muslim saat Hari Raya Iduladha 1438 H di kawasan Padangsambian, Denpasar, Bali, Jumat (1/9). Daging kambing dan sapi kurban tersebut dibagikan kepada masyarakat baik yang beragama muslim maupun non muslim sebagai wujud persatuan dan kerukunan antar umat beragama yang ada di Bali.
Ilustrasi: Umat muslim memberikan daging kurban kepada warga non muslim saat Hari Raya Iduladha 1438 H di kawasan Padangsambian, Denpasar, Bali, Jumat (1/9). Daging kambing dan sapi kurban tersebut dibagikan kepada masyarakat baik yang beragama muslim maupun non muslim sebagai wujud persatuan dan kerukunan antar umat beragama yang ada di Bali.
© Fikri Yusuf /ANTARA FOTO

Tampaknya ekonomi warga RT (rukun tetangga) tempat saya tinggal--sebuah gang yang dijepit oleh jalan tol dan lahan-lahan milik pengembang--makin membaik. Dan itu bisa ditunjukkan dengan hewan kurban yang terkumpul di masjid kami.

Tahun ini terkumpul empat ekor sapi dan lebih dari lima ekor kambing. Tahun lalu, seingat saya, hanya satu ekor sapi dan tiga belas ekor kambing.

Namun, mohon maaf, soal ekonomi yang membaik itu saya mesti mengoreksinya segera. Bahwa kemampuan berkorban itu meningkat, itu sudah pasti. Daya beli terhadap sapi peranakan Australia yang harganya tidak kurang dari 20 juta rupiah per ekor, meningkat.

Namun, sekali lagi, peningkatan daya beli sapi itu hanya terjadi di kalangan orang-orang tertentu. Yakni, mereka yang pernah berkorban pada tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Belum banyak pemain baru.

Sapi pada akhirnya adalah sebuah siasat juga. Mereka yang sudah sanggup berkurban kambing di tahun-tahun sebelumnya, hendak naik kelas dengan membeli sapi. Misalnya, lima-tujuh orang akan berpatungan untuk membeli seekor sapi seharga 20 juta rupiah.

Bandingkan jika satu orang harus membeli seekor sapi seharga itu, belum tentu yang bersangkutan sanggup. Artinya, untuk "patungan kurban" sapi, satu orang mesti merogoh kecek sebesar empat juta rupiah. Tentu saja, uang sejumlah ini bisa digunakan untuk membeli seekor kambing dengan kualitas yang sangat bagus.

Namun, dengan berpatungan mereka bisa mencapai harkat yang lebih tinggi. Secara tampilan, seekor sapi bisa menjadi "simbol status" yang lebih mengejutkan ketimbang kambing yang tampak kurus dan diberi makan seadanya itu. Sapi adalah lambang kemapanan ekonomi, sementara kambing baru menuju ke arah itu.

Ihwal siapa yang berhak menerima daging kurban, seperti biasa, panitia kurban di RT saya mencoba berlaku lebih inklusif. Tidak melulu untuk kaum fakir-miskin sebagaimana dalam zakat fitrah, tetapi untuk hampir seluruh warga.

Jadi, kaya atau miskin, mereka akan tetap menerima daging kurban--sepanjang mereka memiliki kupon yang diberi cap stempel masjid. Namun, seiklusif-inklusifnya pembagian daging kurban di lingkungan saya, tetaplah ada diskriminasi di dalamnya. Warga yang non-muslim, mohon maaf, sebisa dicoret dari daftar penerima daging kurban.

Mengapa begitu?

Saya kira, semua ini ada kaitannya dengan pemahaman akan kurban itu sendiri. Meskipun kurban diperintahkan oleh Allah, memberikan daging kurban kepada kaum fakir-miskin adalah termasuk sedekah. Mayoritas kaum fukaha menyatakan tidak boleh memberikan daging hewan kurban kepada umat non-muslim.

Meskipun, ada pula yang membolehkannya, khususnya ketika daging kurban itu diberikan kepada kaum kafir dzimmi (yang tidak memerangi kaum muslim)--Mohon maaf, jika paragraf ini menyerupai petikan khutbah Jumat.

Hari ini, bagi saya, soalnya bertambah lagi dengan intoleransi yang berkembang di sekitar kita. Lebih-lebih ketika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menggantikan Jokowi selaku Gubernur DKI Jakarta dan kemudian maju ke pilkada DKI Jakarta.

Kebencian terhadap kaum non-muslim, termasuk kecaman dan ancaman neraka bagi mereka yang mendukung Ahok, sudah menjadi pemandangan biasa dalam ceramah agama dan khutbah Jumat. Termasuk dalam khutbah Idulfitri di masjid kami tempo hari.

Namun, ketika Ahok tersangkut kasus "penistaan agama" dan membuatnya dijebloskan ke penjara, intoleransi itu tidak serta-merta surut. Intoleransi itu mengendap dalam bawah sadar kaum muslim kebanyakan hingga hari ini.

Bagi saya, salah satu cara bersahaja untuk mengikis intoleransi itu adalah bagaimana kita bersikap lebih toleran dan inklusif dalam soal pembagian daging kurban ini.

Sesekali, kita perlu juga bersikap lebih kritis terhadap sikap beragama yang seperti itu. Bagi saya, memberikan daging kurban untuk warga non-muslim bukan dalam rangka menyanggah atau mengingkari perintah Allah itu. Tetapi lebih kepada mengukur dan memeriksa kembali efektivitas kurban bagi kemaslahatan umat hari ini.

Sebagaimana zakat fitrah, kita menerima kurban sebagai ibadah/ritual tahunan yang memberikan kesempatan kepada kita untuk peduli pada kaum duafa dan sesama muslim. Kita menunggu momen itu setahun sekali.

Apakah tidak terpikir oleh kita untuk memperluas jangkauan atau memperkerap frekuensi ritual kurban dalam hidup kita. Katakanlah, kurban menjadi ibadah kita setiap hari, tidak lagi tergantung kepada dua hari raya.

Dengan menjadikannya sebagai peristiwa sehari-hari sebenarnya kita telah menubuhkan perintah berkurban itu sebagai bagian dari prinsip hidup kita yang asasi. Ia telah menjadi dasar perhitungan kita untuk membantu kaum duafa, baik yang tergolong saudara seagama maupun saudara sebangsa dan se-Tahan Air, bahkan saudara sedunia.

Ringan tangan membantu orang lain adalah salah satu cara praktis menyelesaikan banyak masalah di antara kita. Jika ada warga atau tetangga yang kesusahan, kita tidak perlu menunggu perintah Tuhan atau membayangkan pahala yang akan kita dapatkan kemudian, tetapi segera membantu mereka sebagai sesama manusia.

Alasan kemanusiaanlah yang menjadikan kita membantu orang lain atau membebaskan mereka dari segala penderitaan.

Inilah inti "sekularisasi kurban". Kita menggesernya dari peristiwa keagamaan menjadi peristiwa kemanusiaan, dari yang setahun sekali menjadi peristiwa sehari-hari, dari perintah Tuhan menjadi dorongan cinta akan sesama manusia, dari harapan akan sorga menjadi sejenis keadilan sosial.

Jika kebutuhan berkurban dan berzakat sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, saya kira akan lebih banyak lagi masalah kemiskinan yang bisa kita selesaikan. Jika selama ini kita dihantui oleh angka kemiskinan yang meningkat, maka sebenarnya kita tengah mencemaskan sikap kita yang kurang bisa berbagi kepada sesama.

Prinsip "sharing is caring" (berbagi berarti peduli) yang populer belakangan ini adalah sejenis sekularisasi atas perintah kurban dan zakat, sebab di dalamnya terkandung aspek kurban dan zakat yang dahulu hanya bisa dilakukan karena perintah Allah.

Zen Hae, penyair dan kritikus sastra
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.