Tertawalah meski pelawak menangis

Ilustrasi:  gambar budaya pop tentang tertawa.
Ilustrasi: gambar budaya pop tentang tertawa. | durantelallera /Shutterstock

Tawa adalah bagian dari masa lalu. Kita tak pernah tahu akankah kita tertawa lagi pada masa mendatang.

Bahkan, pelawak pun tak pernah tahu kelakarnya akan berhasil atau tidak mengocok perut pemirsa. Ia merasa perlu mematangkan materi sebelum naik ke panggung. Tidak ada yang betul-betul selalu berhasil. Kita tak pernah bisa mengandalkan kesuksesan sebelumnya untuk sesudahnya.

Deretan gigi menyeringai di balik tawa pun tak selalu bermakna bahagia. Ya, kita lebih mengharapkan kebahagiaan daripada tawa. Sekadar tawa.

Tapi adakah tawa yang cuma sekadar? Ada. Banyak.

Tatkala sesi berfoto bersama, juru potret akan mengarahkan kita agar bergaya bebas, bahkan bersorak sorai dan mengumbar tawa, seusai sesi rapi jali dan formal. Tawa dipasang untuk dikenang.

Komika, sebutan untuk pelawak tunggal, kini bak jamur di musim penghujan. Bahkan, ia sudah menjelma kemungkinan profesi baru. Para komika berikhtiar untuk melawak satu per satu di depan audiens yang sejak mula sudah tahu bahwa mereka akan menonton monolog lucu. Ada yang tergelak, ada pula yang bengong, ada yang gagal samasekali menangkap sense of humor yang diumpan.

Stand up comedy ini tidak hanya ditonton khalayak, tapi juga oleh para komika yang didudukkan sebagai senior di kursi penilai. Mereka masih harus memberi pandangan plus-minus dari lawakan pengendali mik di atas panggung. Dunia lelucon profesional memasuki babak baru: pelawak harus siap dinilai tidak lucu pada saat itu juga di depan publik. Yang paling luculah yang menang.

Kompetisi mengundang tawa menjadi hal yang dianggap penting sekarang. Era ketika pelawak berkelompok diperlombakan pun sudah kita tapaki.

Lahirlah grup-grup yang semakin lama semakin besar di tayangan-tayangan televisi nasional. Grup-grup lama, yang lahir, tumbuh, melegenda, dan menua di tobong-tobong telah lama ditinggalkan oleh masa dan massa. Lambat laun hilang.

Ada saja pelawak tradisional yang berhasil menyelamatkan diri dari jebakan zaman. Tak ingin mati muda setelah lama mengabdi di balik layar ketenaran para senior, pelawak-pelawak ini segera meloncat ke balik pintu studio berhawa dingin ekstra. Rela berlama-lama di dalamnya demi poin baru bernama rating. Tawa masih menjadi alat ukur utama, dan oleh karena itu ia harus selamanya lucu.

Siapa yang tak lucu, ia tergeser dari remote penonton di rumah. Orang-orang bisa diberi apa pun untuk mau tertawa, namun ini tidak berlaku di rumah. Tawa di studio televisi tak menggambarkan tawa di seringai masing-masing kita.

Inilah yang menjadikan ikhtiar mati-matian pelawak semakin lama semakin mematikan diri mereka sendiri. Jika materi humor tak cukup, slapstick menjadi pilihan.

Entah bagaimana caranya untuk menjadi selalu lucu. Entah bagaimana pula caranya untuk mampu selalu melucu, dan lucu.

Kita terlanjur dididik bahwa pelawak pasti lucu. Mereka tidak punya airmata. Tidak boleh menangis. Kalau pun harus menangis, tetap saja tangisan pelawak untuk ditertawakan. Sesenggukan pun lucu. Jika sudah tak lagi lucu, maka berhentilah menjadi pelawak.

Sampai pada titik ini, menjadi pelawak itu entah anugerah entah kutukan. Menjadi sosok pengundang tawa bikin serbasalah. Sedang serius, sedang marah, pun harus siap dianggap sedang melucu. Memiliki persoalan hidup pun dianggap mendapat bahan-bahan baru untuk digodok menjadi kelucuan berikutnya. Mungkin ini risiko dari idiom berhasil menertawakan diri sendiri.

Terlalu sering kita membahas betapa kita tidak pernah tahu raut wajah sesungguhnya dari seorang badut. Dari polesannya, kita hanya menyaksikan sungging bibir yang teramat lebar, yang telah disepakati sebagai simbol tawa.

Kita tak pernah tahu apakah hatinya hancur berkeping-keping lantaran yang kita tahu ia selalu berusaha mengajak tertawa. Pelawak bahkan tak berias begitu.

Pada akhirnya, kita tidak hanya menjadi penonton yang setia hanya pada lawakan tapi tidak pada pelawaknya. Lawakan-lawakan baru harus terus mengalir, entah dari pelawak lama atau baru.

Kita teramat butuh tertawa hari ini dan hari-hari yang akan datang. Kita tidak ingin tawa benar-benar menjadi masa lalu. Biarlah pelawak saja yang menjadi itu, tapi bukan kita.

Hidup sudah terlalu penat. Multivitamin untuk penyegaran saja tidak cukup.

Tawa menjadi penting tanpa perlu kita tahu bahwa pelawak butuh stamina teramat ekstra dalam kondisi apa pun demi kita. Juga demi diri mereka sendiri dengan carut-marut perkara hidup yang harus bisa dijadikan anekdot.

Diam-diam kita sepakat, biar saja pelawak mati muda asal tawa kita berumur panjang.

Candra Malik, budayawan sufi
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR