Tiga pelajaran dari Ratna Sarumpaet

Ilustrasi: Aktivis Ratna Sarumpaet tiba di Mapolda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan di Jakarta, Kamis (4/10). Ratna ditangkap oleh pihak kepolisian di Bandara Soekarno Hatta saat akan pergi ke luar negeri.
Ilustrasi: Aktivis Ratna Sarumpaet tiba di Mapolda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan di Jakarta, Kamis (4/10). Ratna ditangkap oleh pihak kepolisian di Bandara Soekarno Hatta saat akan pergi ke luar negeri. | Akbar Nugroho Gumay /ANTARA FOTO

Kasus “muka lebam” Ratna Sarumpaet memberi kita setidaknya tiga hal yang mungkin baik untuk diingat. Dan karena peristiwa ini penting sekali, saya memutuskan untuk menutup tiap-tiap bagian dengan menampilkan moral cerita.

Pertama, sebagian orang memperlihatkan keinginan besar agar penganiayaan itu benar-benar terjadi. Artinya, Ratna Sarumpaet benar-benar dipukuli orang sampai wajahnya hancur lebur dan kepalanya dijahit.

Itu keinginan yang wajar. Kebanyakan orang memang ingin melihat sesuatu seperti yang mereka harapkan. Ratna adalah anggota tim pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno dengan posisi juru kampanye nasional. Penganiayaan terhadapnya akan menjadi peristiwa dengan nilai politis yang tinggi. Ia bisa dikelola maksimum sebagai isu untuk menunjukkan satu lagi “dosa” pemerintahan Jokowi—jika bukan mengalamatkannya langsung sebagai tindakan brutal pemegang kekuasaan terhadap lawan politik.

Isyarat ke arah sana tersirat dari pernyataan Fadli Zon, wakil ketua DPR dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, setelah ia menjenguk Ratna. Ia menyampaikan kepada wartawan cerita penganiayaan yang menurutnya biadab dan keji, memajang foto dirinya bersama “korban” di media sosial, dan mengajukan pertanyaan retoris: “Di hari-hari seperti sekarang, mana ada yang tidak terkait dengan politik?”

Ketika Tompi, musisi dan dokter bedah plastik, menyampaikan kemungkinan bahwa memar pada wajah Ratna Sarumpaet adalah efek pasca-operasi plastik, akun media sosialnya segera digeruduk sumpah serapah dan caci maki. Orang-orang ini tidak sudi mendengar kemungkinan lain. Mereka hanya menginginkan satu hal: Ratna benar-benar dianiaya orang.

Saya membaca linimasa akun twitter Tompi. Fadli Zon meledeknya sebagai dokter produk revolusi mental. Fahri Hamzah bersemangat memeranginya dalam twitwar. Di antara kalimat-kalimat kasar para penyerang, ada pula yang mendoakannya: Jika benar terjadi pemukulan terhadap beliau, semoga anda, anak anda, dan istri anda mendapatkan azab yang sangat menyakitkan. Amin.

Memang ada orang-orang yang, jika tidak senang pada pendapat orang lain, akan buru-buru mendoakan agar orang itu mendapatkan azab. Mereka seperti ibu Malin Kundang yang mengutuk anaknya.

Dalam satu gerbong dengan orang-orang yang tidak sepakat pada opini lain adalah Rizal Ramli. “Buat saya aneh tiba-tiba polisi menyimpulkan itu operasi plastik. Kalau operasi plastik hasilnya seperti itu, rumah sakitnya pasti bangkrut,” katanya.

Rizal adalah seorang ekonom dan bekas Menko Kemaritiman; ia tidak pernah menjadi pasien bedah plastik dan tidak menaruh perhatian terhadap urusan tersebut. Kita bisa memaklumi bahwa ia tidak mengerti sedikit pun mengenai operasi plastik dan lebam-lebam pasca-operasi. Saya pun tidak tahu-menahu soal ini sebelum ada kasus Ratna Sarumpaet.

Yang sulit diterima adalah Rizal Ramli cepat menuduh ada upaya pembelokan dari peristiwa penganiayaan seorang aktivis menjadi sekadar bedah plastik. Rupanya ia juga ingin melihat Ratna Sarumpaet benar-benar dianiaya orang.

Pertanyaannya, kenapa mereka ingin melihat Ratna Sarumpaet benar-benar dipukuli?

Ada dua istilah yang bisa menjelaskan keinginan mereka, ialah motivated reasoning (penalaran termotivasi) dan confirmation bias (bias konfirmasi). Penalaran termotivasi adalah mekanisme penalaran yang dilakukan untuk mendukung apa yang sudah diyakini sebagai kebenaran. Bias konfirmasi adalah kecenderungan orang untuk mencari apa saja yang bisa memperkuat keyakinan mereka sembari mengabaikan segala yang bertentangan dengan apa yang mereka yakini.

Dalam kasus Ratna Sarumpaet, motivated reasoning terjadi karena mereka terus-menerus memupuk keyakinan—dan sekaligus berusaha meyakinkan orang-orang lain—bahwa pemerintahan Jokowi ini terlampau buruk dan para pendukungnya tidak segan berlaku keji terhadap lawan politik. Karena itu Ratna Sarumpaet harus benar-benar dianiaya untuk membenarkan keyakinan mereka. Mereka melakukan bias konfirmasi dengan hanya memilih versi Ratna Sarumpaet dan menolak versi Tompi atau versi siapa pun yang berbeda. Itu kesalahan mereka sendiri.

Mereka juga tidak mau tahu bahwa Ratna Sarumpaet, yang mereka kabarkan babak belur dan sedang mengalami trauma berat sehingga tidak berani bicara, sesungguhnya tetaplah orang yang rajin menyerang dan berkicau melalui akun twitternya. Pada 21 September, yang dikabarkan sebagai hari penganiayaan, ia berkicau. Besoknya ia masih berkicau, besoknya lagi tetap berkicau, dan seterusnya. Dari kicauan-kicauannya, tidak tampak tanda-tanda ia trauma.

Moral cerita: Memang sulit berhadapan dengan para pengamal motivated reasoning dan confirmation bias. Sebaiknya hindari berdebat dengan mereka, kecuali anda memiliki daya tahan untuk mendebat bongkahan batu. Kalaupun terpaksa berdebat dengan mereka, jangan pernah berharap bahwa penjelasan anda akan membuat mereka berubah pikiran.

Kedua, para pembenci tak ada matinya. Mereka hanya pingsan sementara waktu, atau linglung sesaat seperti orang kena setrum listrik, tetapi akan segera bangkit lagi untuk melakukan serangan balasan. Ketika Ratna Sarumpaet tidak mungkin mengelak lagi dan hanya bisa meminta maaf karena telah membuat cerita karangan, para pembenci kaget, tetapi hanya sebentar. Setelah itu mereka membuat gerakan salto dan mengeluarkan pernyataan heroik: “Lebih baik calon presiden yang dibohongi dibandingkan calon presiden pembohong.”

Menurut saya dua kualitas itu sama-sama buruk. Calon presiden yang gampang dibohongi, jika ia memenangi pemilihan, tentu akan menjadi sasaran empuk bagi para politisi berwatak Sengkuni. Sedangkan calon presiden pembohong sudah pasti tidak pantas dipilih. Seorang pembohong bahkan tidak pantas menjadi calon presiden, anggota DPR, maupun ketua karang taruna.

Karena itu frase “calon presiden pembohong” saya pikir adalah tuduhan serius yang perlu dipertanggungjawabkan oleh siapa pun yang menyampaikannya. Jika tidak, ia hanya akan menjadi pamflet berisi cerita horor—atau sekadar pameran perangai kekanak-kanakan yang diwujudkan antara lain dengan memproduksi lagu-lagu dengan lirik yang berselera rendah. Kreativitas terakhir yang menunjukkan perangai kekanak-kanakan mereka adalah mengganti lirik lagu anak-anak Potong Bebek Angsadan menjadikannya sebuah provokasi.

“Potong bebek angsa masak di kuali

Gagal urus bangsa maksa dua kali

Fitnah HTI fitnah FPI

Ternyata merekalah yang PKI”

Moral cerita: Diperlukan operasi plastik untuk mempercantik otak orang yang sudah tega mengganti lirik sebuah lagu anak-anak menjadi seburuk ini.

Ketiga, jangan mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Dalam permintaan maafnya, Ratna Sarumpaet menyampaikan bahwa ia berbohong tentang penganiayaan itu kepada anak-anaknya karena mereka bertanya kenapa mukanya menjadi lebam. Itu urusan keluarga. Dan perbuatan membohongi keluarga sendiri bukan hanya Ratna yang pernah melakukannya.

Banyak juga orang lain yang melakukan kebohongan kepada keluarga: suami berbohong kepada istri atau sebaliknya, orang tua berbohong kepada anak atau sebaliknya, kakek berbohong kepada cucu atau sebaliknya, dan sebagainya.

Sikap yang tepat adalah membiarkan urusan-urusan semacam itu tetap menjadi urusan keluarga masing-masing. Tetangga kiri-kanan tidak perlu ikut campur, apalagi para politisi. Tampaknya para politisi pendukung Prabowo-Sandi terlalu bersemangat mencampuri urusan keluarga Ratna Sarumpaet dan anak-anaknya. Merekalah yang gencar membuat pernyataan publik tentang penganiayaan dan mereka menyerang dokter bedah plastik yang menyampaikan kemungkinan lain berbasis pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.

Kesalahan Ratna adalah ia tidak menyadari kebohongannya mudah dideteksi. Mungkin ia akan lebih selamat jika mengakui bahwa mukanya menjadi lebam-lebam karena disengat ribuan serangga beracun dari hutan Amazon, tetapi tidak mungkin ia akan mengarang cerita tentang sengatan serangga beracun: itu tidak menarik dan jika dibocorkan keluar akan terdengar seperti lelucon.

Moral cerita: Jangan mempolitisir urusan keluarga orang lain. Itu berisiko menurunkan tingkat elektabilitas.

Sebagai penutup, saya pikir para pendukung Jokowi tidak perlu bertingkah lebaymelapor-laporkan siapa pun. Ratna sudah meminta maaf untuk kebohongannya, yang ia akui ditujukan kepada anak-anak tetapi kemudian disiarkan luas oleh para politisi. Jika ada kasus lain, biarlah polisi menanganinya tanpa ada tekanan publik.

Tidak perlu sama sekali melapor-laporkan mereka yang bergairah mengelola “penganiayaan Ratna Sarumpaet” menjadi isu politik. Mereka sudah terhukum oleh tindakan mereka sendiri: mereka mempermalukan diri sendiri. Sungguh tidak elegan memukuli lawan yang sudah jatuh.

Selain tidak elegan, tindakan lebay hanya akan mengekalkan perasaan saling-benci satu sama lain. Tetapi ini urusan Pak Jokowi untuk meredam tindakan-tindakan yang berpotensi mengekalkan kebencian. Presiden negara ini dia, bukan saya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR