TOLERANSI BERAGAMA

40 tahun Kemenag mengatur pengeras suara masjid

| Antyo / Salni Setyadi / Beritagar.id

SUARA | Ketika loudspeaker bersuara melebihi orang berbicara berarti alat itu berfungsi sesuai namanya. Baik untuk kegiatan profan maupun ibadah, pelantang suara selalu dibutuhkan -- kecuali untuk acara tertentu yang menuntut keheningan.

Alat berbentuk terompet itu menjadi masalah jika volume suaranya, dengan bantuan alat penguat, mengganggu batas daya tahan telinga orang. Lalu gara-gara keluhan Meiliana di Tanjungbalai, Sumatra Utara, terhadap pengeras suara masjid, pecahlah kerusuhan Agustus 2016. Meiliana pekan lalu divonis satu setengah tahun terungku.

Padahal Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama sejak 40 tahun lalu punya aturan penggunaan pengeras suara. Negeri lain juga punya aturan.

Jumat 24 Agustus lalu Dirjen Muhammadiyah Amin membuat surat edaran, mengingatkan instruksi pada 1978.

Dalam Instruksi Kep/D/101/'78 termaktub amar kepada para birokrat urusan keagaman (Islam) untuk berkoordinasi dengan kantor dinas agama setiap wilayah untuk "memberikan tuntunan, bimbingan dan petunjuk kepada pengurus masjid/musala..."

Lalu kenapa masih ada loudspeaker mengganggu telinga?

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR