MEDIA DAN JURNALISME

Curhat di medsos jadi berita

|

OTOKRITIK | Apa itu wilayah privat dan apa pula publik, bisa bersua di media sosial. Sebuah akun, tampaknya milik seorang gadis, pekan ini membahas eks-pacar yang menghitung semua pengeluaran. Cuitan di Twitter itu kemudian jadi berita.

Bagi khalayak, dan kemudian media, setiap konten personal yang dapat diakses publik berarti bukan urusan privat. Media pun boleh menggemakannya. Atas nama minat insani.

Tentulah akan lebih bagus jika media melakukan verifikasi. Apakah itu kasus beneran? Misalnya tentang foto kertas berisi coretan harga? Tapi, ehm, jika pun ada verfikasi, seberapa penting bagi pembaca?Seberapakah dampaknya dalam merawat kehidupan bersama? Uh, mungkin terlalu serius.

Lantas media siber yang punya komik pun ikutan mengangkat. Alasannya: menyodorkan jawaban kenapa banyak warganet meluapkan persoalan pribadi ke media sosial. Yang penting ada dalih yang tampak serius dan bertolak dari apa yang diyakini sebagai "fakta" — padahal belum teruji.

Padahal kalau diringkas, masalahnya cuma satu. Banyak orang, termasuk pekerja media, menyukai gibah — bahkan termasuk gunjing terhadap orang biasa, bukan pesohor. Terutama jika kasusnya lucu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR