MEDIA SOSIAL

Dari mana datangnya cinta apalagi jodoh

Jodoh bisa bermula dari kerap bersua. Ada juga yang membidik sepupu. Padahal via kontak jodoh di koran juga bisa ketemu saudara.
Jodoh bisa bermula dari kerap bersua. Ada juga yang membidik sepupu. Padahal via kontak jodoh di koran juga bisa ketemu saudara. | Tito Sigilipoe /Beritagar.id

OHHHH.... | Banyak jalan untuk bersua pasangan hidup, bukan cuma pacar. Internet mempermudah kontak, yang diawali dengan perkenalan. Jalurnya bisa berupa aplikasi perpesanan sampai platform media sosial, dan bisa pula gim daring (online game).

Pepatah Jawa mengatakan, "witing tresna jalaran saka kepeksa" (cinta bermula dari keterpaksaan) dan "witing tresna jalaran ora ana liya" (cinta bermula dari ketiadaan pilihan".

Ada juga "witing tresna jalaran saka megilan" (cinta bermula dari ketakutan bahkan kengerian), sehingga apa pamungkas "gething nyandhing" (mulanya benci, tapi akhirnya hidup bersama).

Yeah, banyak cara mendapatkan jodoh. Zaman prainternet, yang terbawa hingga 2015, adalah kontak jodoh di koran, misalnya Kompas Minggu, yang hadir selama 37 tahun sejak 1978. Perkenalan dilakukan melalui surat pos, dengan perantaraan Kompas.

Jodoh juga bertaut dengan Lebaran. Kaum jomlo kesal jika ditanya siapa pasangannya. Ada juga jomlowan dan jomblowati yang gigih, dan optimistis, menjadikan Lebaran sebagai kesempatan berkenalan dengan lawan jenis — siapa tahu cocok, lantas membuktikan kisah when a date becomes a mate.

Dalam Lebaran, membidik saudara sepupu pun mungkin dianggap peluang. Padahal itu bukan hal yang dianjurkan, antara lain karena alasan medis.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR