PROSTITUSI

Ehm, prostitusi online

| Salni Setyadi /Beritagar.id

BISNIS | Bukan salah platform media sosial kalau juga dimanfaatkan pekerja seks komersial (PSK) untuk menjajakan jasa. Memang sih, perubahan media promosi memberikan keleluasaan lebih bila dibandingkan iklan baris terselubung pada era koran. Dengan medsos ongkosnya lebih murah bahkan gratis

Di Twitter, misalnya, para PSK yang menyebut diri angels itu leluasa menawarkan variasi jasa berikut tarif — termasuk uang muka — bahkan ada yang tak menyamarkan wajah. Nomor WhatsApp untuk bertransaksi pun mereka umumkan. Malah bukti transfer uang oleh konsumen dan testimoni konsumen pun mereka publikasikan. Namanya juga bisnis. Tak beda dari promo restoran.

Para angels itu juga menyiarkan rencana kunjungan ke sejumlah kota. Seperti tur pemusik. Antarkota dan antarprovinsi alias AKAP. Pemesanan tiket kereta api dan pesawat terbang, serta pemesanan hotel, secara daring mempermudah mereka menata jadwal.

Lalu benarkah mereka mandiri, bisa memilih kapan bekerja dan bilamana tidak — tak sebatas dalam periode kodrati bulanan — tanpa diatur muncikari?

Hanya mereka yang bisa menjelaskan. Yang pasti mereka sangat terbantu oleh para promoter di Twitter, yang sebagian besar berbayar.

KUHP sulit menjerat mereka. UU Perdagangan Orang lebih berpeluang menjerat germo dan sejenisnya. Sejumlah peraturan daerah mungkin bisa menjerat kalau ada pasalnya dan kebetulan si bidadari bisyar (=bisa dibayar) sedang bekerja di kota tersebut dalam tur AKAP.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR