TEKNOLOGI INFORMASI

Email di kalangan pemerintah

| Tito Sigilipoe /Beritagar.id

SUREL | Banyak hal lucu seputar email. Yang terbaru adalah kasus Ivanka Trump: menggunakan email pribadi untuk urusan pemerintahan.

Dari sisi kebahasaan dan adopsi, electronic mail terlalu panjang untuk diucapkan dan ditulis. Pada mulanya jadilah e-mail, sama seperti "e" lain dalam "electronic" yang harus ditulis dengan menyisipkan "-" (strip, dash) di depan kata berikutnya. Lalu akhirnya menjadi lebih simpel dengan membuang strip dan jadilah kata, yakni email. Serupa nama lapisan pada gigi.

Kemudian bahasa Indonesia menerjemahkan electronic mail menjadi surat elektronik, dan mengakronimkannya menjadi surel. Namun kurang laku. Kalah dari email.

Meski email sudah lama hadir, belum atau malah tidak semua pengguna internet merasa berkepentingan dengan email. Ketika email masih merajai, penetrasi internet belum meluas di Indonesia. Apalagi dulu internet berarti desktop dan koneksi via telepon (dial-up).

Ada masa ketika free web-based email yang dipelopori Hotmail menjadi berkah bagi orang yang bukan pelanggan ISP atau bukan anggota "sivitas akademika" (istilah yang sangat mengindonesia) maupun pegawai kantor yang punya akun dinas.

Meskipun begitu, dulu bagi banyak orang, email tetap membingungkan. Antara perlu dan tak perlu. Maka soal alamat pun bisa disepelekan oleh DPR. Sampai tujuh tahun lalu, Badan Anggaran DPR pakai alamat YahooMail. Akhirnya pemerintah pun membenahi, menyediakan mail server untuk birokasi dan domain alamat email untuk PNS.

Kini ketika internet berada dalam genggaman, karena ada dalam ponsel, email hanya diperlukan untuk mendaftarkan diri ke layanan daring.

BACA JUGA