PILPRES 2019

Entah sampai kapan gaduh ihwal quick count

Untuk pileg belum ada pro-kontra suara menonjol. Dalam PIlpres 2019 kubu Prabowo menolak hitung cepat. Tapi dalam Pilkada DKI 2017 tidak.
Untuk pileg belum ada pro-kontra suara menonjol. Dalam PIlpres 2019 kubu Prabowo menolak hitung cepat. Tapi dalam Pilkada DKI 2017 tidak. | Antyo® /Beritagar.id

Pekan ini baru diawali, tapi unjuk rasa perihal hasil hitung cepat (quick count) di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, setidaknya sudah dua kali. Masih ada lima hari untuk menghabiskan pekan. Masih akan ramaikah pro-kontra hitung cepat?

Begitu pun bila waktu diulur, menunggu KPU merilis hasil resmi Pemilu 2019 – termasuk Pilpres 2019 – (mungkin) Juni nanti. Misalkan persoalan berlanjut hingga Mahkamah Konstitusi, seperti Pilpres 2014, mungkin pro-kontra akan berjilid-jilid. Senyampang itu situs KPU memampangkan hasil penghitungan secara bertahap.

Publikasi hitung cepat terjadi mulai pukul tiga siang menjelang sore, Rabu 17 April lalu, pada hari pemilu. Hasil hitung cepat para lembaga anggota Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi), yang mengunggulkan pasangan capres Jokowi-Ma'ruf, itu ditolak capres Prabowo Subianto.

Kehadiran lembaga-lembaga survei pemantau Pemilu 2019 itu sudah setahu KPU karena setiap lembaga harus mendaftarkan diri lalu berstatus terdaftar.

Hingga Minggu 17 Maret 2019 lalu, hari terakhir pendaftaran, ada 33 lembaga survei. Menurut komisioner KPU, Hasyim Asyari, "Kami berharap nanti lembaga survei yang mendaftar untuk melakukan penghitungan cepat, atau survei itu adalah lembaga yang menginduk pada satu organisasi lembaga survei."

Maksud Hasyim, "[...] Jangan sampai bikin lembaga sendiri, metodologinya ketika dipertanyakan oleh pihak-pihak yang katakanlah pereview sesama kolega lembaga survei, oleh ahli itu kemudian orang ini nggak bisa menjelaskan kan repot."

Terhadap kekerasan hati kubu capres nomor urut 02, Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi–Ma’ruf Amin, Erick Thohir, kemarin (21/4/2019) berkomentar, dulu tak ada yang berkeberatan terhadap hasil hitung cepat yang mengunggulkan pasangan cagub Anies Baswedan - Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Saat itu Anies-Sandi didukung Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera. Dan memang terbukti pasangan cagub petahana Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Saiful Hidayat kalah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR