INTERNASIONAL

Huawei hukum dua karyawan karena gunakan iPhone

Seorang wanita tengah berjalan di dekat poster yang memperlihatkan logo Huawei di Beijing, Tiongkok pada 12 Desember 2018.
Seorang wanita tengah berjalan di dekat poster yang memperlihatkan logo Huawei di Beijing, Tiongkok pada 12 Desember 2018. | Wu Hong /EPA-EFE

Mengucapkan selamat Tahun Baru melalui media sosial sudah jamak dilakukan masyarakat dalam era teknologi ini. Namun, hati-hati memilih perangkat yang digunakan, terutama bila mengunggah pesan melalui akun resmi perusahaan, agar tak bernasib buruk seperti karyawan Huawei ini.

Raksasa teknologi dari Tiongkok tersebut, dikabarkan Reuters (4/1/2019), menghukum dua karyawannya yang kedapatan menggunakan gawai produksi pesaing mereka, Apple iPhone, saat mengunggah ucapan selamat Tahun Baru via Twitter.

Mereka sepertinya lupa bahwa Twitter selalu menyertakan keterangan dikirim melalui sistem operasi apa kicauan tersebut dan tulisan "via Twitter for iPhone" tampak pada unggahan di akun resmi Huawei itu.

Unggahan tersebut telah dihapus, tetapi foto tangkapan layar kadung menyebar dan menjadi bahan gurauan berbagai pihak.

“Pengkhianat telah mengungkapkan dirinya sendiri,” gurau seorang pengguna di microblog Weibo, dalam komentar yang telah 'disukai' lebih dari 600 kali itu.

Akibat postingan itu, menurut Tech Crunch (4/1), dua karyawan tersebut dihukum diturunkan pangkatnya serta mendapatkan pengurangan gaji bulanan hingga hampir 730 dolar AS (Rp10,4 juta) karena mengakibatkan kerugian terhadap reputasi jenama Huawei.

Tak hanya itu, gaji salah satu karyawan yang menjabat sebagai Direktur Pemasaran Digital Huawei juga akan dibekukan selama 12 bulan.

Direksi Huawei, Chen Lifang, mengatakan meski unggahan kedua karyawan sudah dihapus, tapi tak menghilangkan sanksi yang bakal dijatuhkan. Ia merasa kesalahan tersebut tak bisa dipandang remeh karena menurunkan citra ponsel Huawei.

"Insiden itu menyebabkan tercorengnya jenama Huawei. Apalagi iPhone menjadi salah satu kompetitor utama Huawei," ujarnya dalam sebuah memo internal. Dalam memo itu juga dijelaskan lebih lanjut mengapa insiden itu bisa terjadi.

Insiden itu terjadi ketika pihak yang menangani media sosial dari luar perusahaan tidak dapat menggunakan layanan jaringan privat virtual atau VPN, namun malah menggunakan iPhone dengan kartu SIM yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan telekomunikasi Hong Kong.

Sejak akhir tahun lalu, dituturkan Quartz, Huawei telah memperingatkan para pegawainya untuk tidak menggunakan produk para pesaingnya, termasuk iPhone. Jika dilanggar, karyawan tersebut tidak akan mendapatkan promosi jabatan dan subsidi perusahaan.

Untuk itu, Huawei memberikan keringanan berupa subsidi 25 persen bagi karyawannya yang menggunakan iPhone dan ingin beralih ke produk Huawei.

Selain itu, pabrikan asal Tiongkok itu juga memberikan diskon khusus untuk karyawan yang ingin membeli ponsel Huawei. Jajaran manajerial mendapat potongan harga 50 persen, sementara karyawan lain mendapat diskon 20 persen.

Huawei saat ini adalah ponsel terlaris di Tiongkok, dengan pangsa pasar nyaris mencapai 25 persen. Bahkan, hingga akhir Desember 2018, menurut data Canalys (h/t Financial Express) pengapalan ponsel Huawei telah mencapai 200 juta unit, membuatnya menggeser Apple dari posisi kedua di dunia. Samsung masih menempati posisi teratas.

Selain soal pasar, Huawei saat ini tengah bersitegang dengan pemerintah Amerika Serikat, negara asal Apple.

Di tengah suasana panas akibat perang dagang antara AS dan Tiongkok, Direktur Keuangan (CFO) Huawei, Meng Wanzhou, ditahan pemerintah Kanada atas permintaan AS pada awal Desember tahun lalu.

Meng, yang juga putri pendiri dan Presiden Huawei Ren Zhengfei, dituduh menggunakan perusahaan cangkang dan mencoba menyelundupkan ponsel ke Iran yang sedang terkena embargo internasional.

Perempuan berusia 47 tahun itu telah dibebaskan dengan jaminan 7,5 juta dolar AS (Rp105,2 miliar), tetapi dilarang meninggalkan Vancouver hingga persidangan soal ekstradisinya ke AS selesai.

Tak berapa lama setelah penahanan Wanzhou, Beijing diduga "membalas" dengan menahan 13 warga negara Kanada yang tengah berdiam di Negeri Tirai Bambu itu.

Sebelumnya pemerintah AS juga tengah berupaya agar negara-negara sekutu mereka memasukkan Huawei dalam daftar hitam karena diduga membantu Beijing memata-matai mereka.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR