TOLERANSI BERAGAMA

Ilir-ilir rebana santri dalam gereja Katolik

LOGO | Foto arsip: pemberkatan logo 50 Tahun Gereja Santa Theresia, Bongsari, Semarang (2018).
LOGO | Foto arsip: pemberkatan logo 50 Tahun Gereja Santa Theresia, Bongsari, Semarang (2018). | Dokumentasi gereja /Parokibongsari.com

Ketika bubur keluar, para santri Pondok Pesantren Rodotul Solikhin Sayung, Demak, Jawa Tengah, mengiringinya dengan tembang Ilir-ilir diiringi rebana.

Peristiwa tersebut terjadi Ahad (6/10/2019) di Gereja Santa Theresia, Bongsari, Semarang. Hari itu gereja mengadakan ibadat ekaristi (syukur) ulang tahun ke-51.

Pengasuh Rodotul Solikhin Sayung, K.H. Abdul Qodir, mengatakan kedua belah pihak bisa saling mendukung sebagai promotor perdamaian.

Menurut laporan RadarSemarang.id, umat gereja saat itu mengenakan busana Nusantara. Dalam ibadat ada pula ritual Jawa mengusung gunungan sayur.

Pastor kepala, Eduardus Didik Chahyono S.J, mengatakan, gerejanya ingin mewartakan kabar sukacita pada realitas NKRI yang kaya budaya, suku, agama, dan bahasa.

Perihal Ponpes Rodotul Solikhin memang sudah lama terbuka. SMP terpadu milik ponpes itu, misalnya, dibiasakan dengan wisata ke tempat bersejarah. Tahun lalu siswa antara lain diajak ke Kelenteng Sam Po Kong, Semarang.

Dalam pandangan koordinator wisata, Ahmad Zaenudin, tempat-tempat yang mereka kunjungi, termasuk Taman Marokoco (semacam Indonesia Mini), menunjukkan sebuah potret kebinekaan di bawah tenda besar Indonesia (→ Kampusnesia).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR