Joki untuk 28 pejabat Tangerang agar naik pangkat

KEJAR! | Ilustrasi: Joki beneran disalip pesaing dalam pacuan kuda tradisional di Desa Kalimporo, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Minggu (28/10/2018).
KEJAR! | Ilustrasi: Joki beneran disalip pesaing dalam pacuan kuda tradisional di Desa Kalimporo, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Minggu (28/10/2018). | Abriawan Abhe /Antara Foto

Kalau kuda mencapai finis, sepanjang joki tak jatuh juga akan masuk finis. Tapi yang dianggap masuk bukan si joki asli melainkan orang yang mereka wakili. Hal itu terjadi pada 28 orang pejabat di Pemerintah Kota Tangerang, Banten.

Mereka setingkat kepala bidang (eselon tiga) diketahui mengikuti pelatihan dan menempuh ujian sertifikasi pengadaan barang dan jasa melalui joki.

Roni Dwi Susanto, kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, kepada Tempo.co, Jumat (27/9/2019), mengungkapkan temuan itu.

Kedua puluh delapan pejabat itu memanfaatkan joki tak hanya saat ujian melainkan sejak pelatihan untuk memperoleh sertifikasi pengadaan barang dan jasa di Bandung, Jawa Barat, Juni lalu.

Demi jabatan dan uang

Motif bermain joki adalah naik pangkat dan dapat tunjangan kinerja. Supaya mudah ya pakai joki supaya lolos sertifikasi.

Kalau tak punya sertifikat, biarpun jabatan sudah meningkat, tunjangan akan kena korting 25 persen. Dengan tunjangan sekitar Rp25 juta per bulan, duit tersunat lantaran si ASN tak punya sertifikat bisa mencapai Rp6,25 juta.

Seorang pegawai yang tak pernah lolos uji sertifikasi, sehingga tunjangannya berkurang, menuturkan, "Uang potongannya saya tidak tahu digunakan untuk apa karena tidak ada sosialisasi. Pokoknya alasannya dipotong sesuai peraturan wali kota."

Belum terungkap berapa bayaran untuk seorang joki. Menurut Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kota Tangerang, Akhmad Lutfi, para pejabat curang itu sedang ditangani inspektorat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR