PILPRES 2019

Kalah pilpres itu biasa, menggugat juga biasa

Sejak Pilpres 2004, ada capres  yang merasa dicurangi. Setelah MK memutuskan ya sudah. Kalau ogah ke MK gimana dong?
Sejak Pilpres 2004, ada capres yang merasa dicurangi. Setelah MK memutuskan ya sudah. Kalau ogah ke MK gimana dong? | Antyo® /Beritagar.id

Bukan hanya pasangan capres Prabowo Subianto - Sandiaga Uno yang mengeluhkan kecurangan dan merasa terzalimi. Sejak pilpres langsung pada 2004, ada saja capres yang merasa dicurangi lalu menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Mereka yang pernah memprotes kecurangan dan membawanya ke MK adalah Wiranto - Salahuddin Wahid dalam Pilpres 2004. Waktu itu ada lima paslon, dan yang tergiring ke putaran kedua adalah Susilo Bambang Yudhoyono - Jusuf Kalla melawan Megawati Soekarnoputri - Hasyim Muzadi.

Sebelum sampai putaran kedua, ada dua pihak yang merasa dicurangi, yakni Wiranto dan Mega. Wiranto membawa masalah ke MK — tapi dia kalah, sehingga tidak bisa menggeser Mega masuk ke putaran kedua. Sedangkan Mega memilih mengirimkan nota protes ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Mahkamah Agung.

Mega dan SBY kenapa dingin

Setelah MK memutuskan gugatan ya sudah. Kehidupan berlangsung seperti biasa. Semua pemain berteman seperti biasanya. Yang penting urusan hukum sudah sampai MK dan diputus.

Tentu hal itu dengan pengecualian hubungan Mega dan SBY yang dingin, hingga kini. Dalam Pilpres 2004 Mega tak mau bersalaman dengan SBY saat berdebat. Bahkan saat pelantikan SBY sebagai presiden pun Mega tak hadir, malah berkebun di rumah (→ detikcom, 16/3/2009).

SBY adalah menteri koordinator politik dan keamanan dalam kabinet Mega. Pada saat dilantik pada 2001, SBY berujar kepada bosnya, "Saya akan kawal ibu hingga tahun 2009." Ternyata di tengah jalan SBY meninggalkan pos dan menjadi pesaing. (→ RMOL.id, 18/8/2017)

Dalam Pilpres 2009, yang diikuti tiga paslon — namun cukup satu kali putaran, karena SBY-Boediono meraih suara 60,8 persen — juga muncul isu kecurangan maupun protes bahkan sampai MK.

Pihak yang menyoal adalah pasangan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. MK menolak gugatan kedua pasangan itu. SBY-Boediono sah sebagai pemenang pilpres.

Setelah itu masyarakat tetap bekerja, dengan serius menguras peluh dan sesekali cengengesan, seperti biasanya. Urusan kontestasi pilpres mereka lupakan. Sampai kemudian pilpres menjadi urusan menegangkan sejak 2014....

Dua pekan lalu Mega berujar, "[...] dari perjalanan partai saya ini, kami, saya sebagai Ketua Umum, selalu menegaskan, kalah-menang itu biasa. Jadi jangan terlalu dipersoalkan."

Siap kalah, siap gugat

Dalam kalimat Plt. Ketua DPD Golkar DKI Rizal Mallarangeng, demokrasi juga berarti siap menang dan siap kalah. Namun dalam debat di acara televisi Mata Najwa pada malam setelah pencoblosan itu, Arief Poyuono, wakil ketua umum Gerindra, bilang tak siap kalah karena Prabowo adalah pemenang Pilpres 2019.

Dari infografik tampak mereka yang pernah bersaing tak harus menjadi seteru seterus-terusnya — kecuali mungkin dua tokoh yang tadi. Mereka bisa bekerja sama. Berbeda koalisi pun tak soal apalagi setelah salah satu menyeberang ke kandang bekas lawan.

Pendukung setiap tokoh pun tak perlu membawa urusan sampai ke pasal hidup dan mati. Lebih penting merawat kehidupan bersama. Dalam ujaran jenaka namun bijak lagi bestari, seperti pernah ditulis di sini, kalau masih bisa kalah kenapa mesti menang?

Dua hari lagi , Rabu 22 Mei, KPU menetapkan capres terpilih. Kalau tak puas silakan ke MK. UU Pemilu menyediakan jalan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR