MEDIA SOSIAL

Kartun: Jadi YouTuber itu enak nggak sih?

Enak kalau jadi YouTuber dapat nama dan duit. Tapi bisa jenuh karena dipres agar tetap tenar dan menyenangkan orang lain.
Enak kalau jadi YouTuber dapat nama dan duit. Tapi bisa jenuh karena dipres agar tetap tenar dan menyenangkan orang lain. | Salni Setyadi /Beritagar.id

LELAH | Ada saja berita ihwal YouTuber. Tempo hari ramai soal Kimi Hime, YouTuber Indonesia dengan 2,29 juta pelanggan. Menurut hitungan Katadata, Kimi bisa dapat Rp33,5 juta - Rp543 juta sebulan dari YouTube. Bukan cuma iklan dan penajaan tetapi juga cendera mata dan produk lain atas namanya.

Lalu tiga hari lalu (27/7/2019) muncul kabar lain dari YouTuber. Ria Ricis (15,9 juta pelanggan) pamit. Alasannya: kecapaian. Dia dan timnya harus bekerja keras.

"Ini nggak drama," kata Ria dalam video pamitan. Dua hari kemudian (29/7/2019) dia nongol lagi di YouTube dengan judul "Saya Kembali".

Media sosial memberi kesempatan — sekali lagi kesempatan; belum tentu semua berhasil — untuk menjadi bintang. Tak perlu bergantung media terlembagakan bernama koran dan majalah (bukan kertas tentu) maupun TV.

Mendaki menuju puncak itu sulit, namun di sisi lain sirkulasi ketokohan cepat sekali. Seleb media sosial yang lima tahun lalu dikenal belum tentu sekarang diingat kecuali dia terus aktif secara persisten karena ketenaran adalah tujuan sekaligus hasil, dan ehm... memberi aneka manfaat.

Di YouTube cara untuk lama bertahan juga butuh perjuangan. Namun kalau menuruti algoritme, para pemain bisa kecapaian. Bukan cuma harus berproduksi terus tapi juga pakai sejumlah rumus.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR