KERUSUHAN 22 MEI

Katapel dan kelereng sebagai alat bela diri anggota FPI

JEBRET! | Foto arsip: warga Palestina berkatapel untuk melontarkan bebatuan ke arah pasukan Israel dalam aksi protes di perbatasan Israel-Gaza, Jumat (14/12/2018).
JEBRET! | Foto arsip: warga Palestina berkatapel untuk melontarkan bebatuan ke arah pasukan Israel dalam aksi protes di perbatasan Israel-Gaza, Jumat (14/12/2018). | Ibraheem Abu Mustafa /Antara Foto/Reuters

Sandi Maulana, salah satu terdakwa kerusuhan 21-22 Mei 2019, dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (2/9/2019), ditanya hakim soal katapel yang dia bawa dalam huru-hara.

Anggota Front Pembela Islam asal Lampung itu mengatakan, katapelnya dan 35 butir kelereng yang disita polisi itu untuk membela diri. Namun dia bilang, bukan untuk menyerang polisi.

Selain kelereng yang dia terima dari seseorang di gedung Dewan Dakwah Islamiyah, Kramat, Jakarta, tempat dia menginap, Sandi juga menerima uang. Dia mengakui, di sana ada massa bayaran.

Dalam razia mencegah demonstran Tasikmalaya, Jawa Barat, memasuki Jakarta Mei lalu, polisi Polsek Cileunyi, Bandung, juga mendapati mereka berbekal katapel.

Berikut catatan perihal katapel:

  • Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebut katapel sebagai mainan anak-anak.
  • Mungkin bahasa Indonesia menyerap katapel dari bahasa Belanda: katapult. Ya, serupa bahasa Inggris: catapult.
  • Meksipun dapat digunakan untuk menyerang dan melukai, sejauh ini secara hukum katapel tak termasuk sebagai senjata yang pemilikannya harus berizin.
  • Hukum di Indonesia lebih mengatur senjata api, bahan peledak, dan senjata tajam (→ Hukumonline.com, 11/9/2013).
  • Sebagai senjata dalam abad modern, katapel sering digunakan warga Palestina saat menghadapi polisi dan militer Israel.
  • Di beberapa negeri, polisi juga bersenjatakan katapel untuk menghadapi demonstran. Misalnya di India (→ BBC.com, 9/2/2019) dan Meksiko (→ The Guardian, 27/6/2018).
  • Meskipun di Indonesia katapel belum dikategorikan senjata, polisi pernah mengurusi blandring (Jawa) atau plinteng itu. Tiga tahun silam polisi Surabaya menyita 1.000 katapel dari Jagir, Wonokromo, yang akan dikirim ke Maros, Sulawesi Selatan (→ detikcom, 29/11/2016).
  • Katapel dijual bebas secara daring. Seorang pelapak di Tokopedia menjual blandring buatan tangan seharga Rp500.000.
  • Di pasar yang sama, ada beberapa pelapak yang menjual katapel kayu berpenyangga aluminium seharga Rp22.000 maupun plinteng bergagang aluminium seharga Rp109.300.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR