KESEHATAN MENTAL

Kekerasan guru terhadap murid, kenapa dulu boleh?

| Tito Sigilipoe /Beritagar.id

HAJAR! | Entah iblis mana yang menyusup ke dalam praktik pedagogi hitam di sekolah. Guru boleh semaunya memperlakukan murid. Tapi sebagai orang tua, umumnya guru pelaku kekerasan tak rela bila anaknya dianiaya guru lain.

Jangankan dianiaya berat dengan luka badaniah apalagi cacat. Anak dicukur paksa, seperti di Banyuwangi, Jawa Timur, awal pekan ini, sudah menjadi alasan legal bagi sejumlah orang tua untuk memolisikan.

Orang tua mana, termasuk yang berprofesi guru, yang rela anaknya di SD disuruh menjilati kamar mandi, seperti di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatra Utara, 2018?

Anehnya guru pelaku kekerasan di mana pun dan kapan pun tak rela jika dianiaya oleh siapa pun. Termasuk oleh bekas murid yang membalas dendam semasa bocah, dengan takaran jauh berlipat tak terperikan, padahal itu bersumberkan sang guru berhati kelam penuh tuba, yang menjalankan pedagogi kekerasan. Mereka tak rela jika anak didiknya lebih berhasil dalam ilmu kekerasan dengan target maksimum justru si guru.

Maaf, paparan di atas terasa sadistis. Terasa jauh dari keluhuran dunia pendidikan.

Mata rantai dendam bukanlah bagian dari pendidikan. Dulu praktik kekerasan di kelas cenderung ditenggang. Tapi seiring kesadaran hak, termasuk hukum perlindungan anak, orang tua kini tak rela.

Dulu seorang guru bisa melemparkan penghapus ke murid. Tapi ketika sasaran menghindar, yang kemudian terkena lemparan adalah anak di belakangnya yang sedang menundukkan kepala, mencatat pelajaran.

Si guru bukannya meminta maaf malah menyuruh korban salah lempar mengetuk-ketukkan penghapus bertabur serbuk kapur ke kepala sasaran pertama. Si guru tak memperhitungkan luka jiwa korban salah lempar. Dia tak memperkirakan hasil luka jiwa. Mungkin karena dulu tak ada konseling untuk guru bengis yang hatinya berupa roda gerigi karatan. Dulu juga tak lumrah polisi turun tangan.

Sekolah adalah lembaga yang menanamkan budi pekerti. Tentu tak dapat diterima akal dan hati ketika murid juga menganiaya guru.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR