KETAHANAN PANGAN

Komik: Ketika membisniskan benih padi jadi perkara

Seorang kades di Aceh ditahan kerena menjual bibit tak bersertifikat. Tiada niat kriminal, karena soal administratif saja. Pak Menteri Desa membela.
Seorang kades di Aceh ditahan kerena menjual bibit tak bersertifikat. Tiada niat kriminal, karena soal administratif saja. Pak Menteri Desa membela. | Tito Sigilipoe /Beritagar.id

PELIK | Seorang kepala desa di Aceh, peraih juara kedua pengembangan bibit padi nasional, sempat tiga hari menghuni sel Polda Aceh. Kesalahan Teungku Munirwan, kades itu, adalah menjual benih padi unggulan yang dia kembangkan.

Penahanan dan penetapan tersangka terhadap kades Meunasah Rayeuk, Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara, itu pekan lalu mengundang protes dari masyarakat termasuk warganet. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo juga memprotes polda dan gubernur Aceh.

Jumat pekan lalu (26/7/2019) polisi menangguhkan penahanan. Soal benih padi memang serius dan bisa jadi perkara hukum. Ada regulasi dalam budi daya dan pemasaran benih, agar kualitas padi terjaga, demikian pula produktivitas dan daya tahannya.

Menurut Sekretaris Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Bambang Pamudji, pihaknya telah membagikan benih unggul kepada petani di lebih dari 44 juta hektare sawah. Benih yang bersertifikat antara lain Inpari 33 yang mampu menghasilkan 12 ton dan IPB 3 yang menghasilkan 13 ton.

Lalu posisi Teungku Munirwan?

"Kades itu bukan petani. Tapi murni pengusaha benih beromzet miliaran, namun tidak mau mengikuti aturan registrasi benih. Padahal benih harus dijamin keamanan mutunya, dan tidak memberi risiko kerusakan lingkungan atau wabah penyakit," Bambang mengungkapkan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR