TOLERANSI BERAGAMA

Masalah beda agama semasa hidup sampai mati

| Tito Sigilipoe /Beritagar.id

BERBEDA | Lagi, muncul masalah dalam memakamkan seorang non-muslim sehingga makam harus dipindahkan ke kuburan lain. Warga Desa Ngareskidul, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menolak pemakaman Nunuk Suwartini, seorang Kristen. Alasan warga, itu bukan makam umum.

Nunuk meninggal Kamis 14 Februari, dimakamkan esok harinya. Sejumlah warga menolak. Aparat desa dan kecamatan, juga polisi, pun ikut berembuk.

Sepekan kemudian keluarga almarhumah memindahkan jenazah ke makam lain sejauh satu kilometer. Dalam proses rembukan, keluarga didampingi Gusdurian, komunitas pengikut Abudurrahman "Gus Dur" Wahid (1940 – 2009).

Bagi Ketua Nahdlatul Ulama Jatim, K.H. Marzuki Mustamar, misalkan makam itu adalah tanah wakaf dari seorang muslim, maka yang dimakamkan di sana juga muslim.

Bagi Marzuki, hal itu menyangkut wasiat. Maka dia pun bertamsil, "Yang beri wakaf, misalnya, orang Kristen, ya khusus orang Kristen. Melarang, misalnya, (jenazah) orang Islam, enggak bisa itu dibilang melanggar HAM."

Dalam catatan Tirto.id, masalah pemakaman bagi almarhum yang berbeda identitas juga terjadi pada masa kolonial. Tak spesifik soal agama, meski faktor itu ada, melainkan identitas sub-etnis. Maka sebuah makam milik puak Mandailing, di Sungai Mati, Medan, Sumatra Utara, pada 1922 menolak jenazah orang Batak.

Banyak segi dalam urusan setelah kematian orang berbeda agama. Di Pekanbaru, Riau, umat Hindu tak punya tempat khusus untuk ngaben sehingga mereka menumpang kremasi di yayasan Buddhis.

Tentang segregasi, tentu tak terjadi di mana-mana. Akun Twitter Mohamad Guntur Romli, seorang nahdliyin yang berpolitik di Partai Solidaritas Indonesia, Desember tahun lalu mengunggah foto dirinya di sebuah makam campuran Islam dan Kristen di Situbondo, Jatim.

Guntur menulis, "Inilah toleransi sampai mati."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR