PILPRES 2019

Mengklaim menang, bilang lawan curang, minta pemilu ulang

Menyebut diri sebagai pemenang, meraih 62 persen suara, tapi tak akui hasil TPS, bahkan minta pemilu diulang. Upaya delegitimasi?
Menyebut diri sebagai pemenang, meraih 62 persen suara, tapi tak akui hasil TPS, bahkan minta pemilu diulang. Upaya delegitimasi? | Salni Setyadi /Beritagar.id

MEMBINGUNGKAN | Inilah pemilihan presiden dengan hasil yang membingungkan, melebihi pilpres sebelumnya. Tepatnya sebelum 2014. Ada saja dalih pihak yang kalah untuk menolak hasil.

Hasil yang membingungkan? Bukan itu persisnya. Tapi tanggapan terhadap hasil.

  • Pertama: menolak hasil hitung cepat.
  • Kedua: sekalian menuduh lembaga survei menggiring opini publik tentang kemenangan lawan.
  • Ketiga: mengklaim hasil penghitungan internal telah meraih 62 persen suara
  • Keempat: terus mengembuskan kabar menjadi korban kecurangan
  • Kelima: sebagian pendukung capres kalah meminta pemilu ulang – bukan cuma coblos ulang di TPS yang terbukti bermasalah
  • Keenam: Di Kota Batu, Jawa Timur, Partai Gerindra tak mau menandatangani hasil rekapitulasi hasil Pilpres 2019 di tingkat kecamatan, sesuai instruksi dari pemimpin

Jadi arah semua penolakan itu apa? Mungkin ini bagian dari penggalangan opini bahwa pilpres kali ini tidak absah, tidak legitimate.

Presiden yang terpilih melalui cara yang tak absah berarti secara politis tidak perlu diakui apalagi didukung dalam bekerja.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR