PROFESI UNIK

Mewujudkan mimpi tunanetra menjadi barista

Instruktur barista asal Korea (kiri) yang juga penyandang low vision melatih pengajar lokal dan peserta pelatihan barista di Balai Wyata Guna Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/3/2019).
Instruktur barista asal Korea (kiri) yang juga penyandang low vision melatih pengajar lokal dan peserta pelatihan barista di Balai Wyata Guna Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/3/2019). | Anwar Siswadi /Beritagar.id

Yuniarti Saadah duduk melihat mesin kopi baru. Ia seperti melihat mimpi dan masa depannya. Yuni, panggilannya, ingin menjadi barista.

Perempuan berusia 24 tahun itu suka memasak. Pun membuat kopi walau jenis instan. Sehari-hari ia berjualan pulsa dan makanan ringan di Cimahi, Jawa Barat (Jabar).

Begitu mendengar kabar dari kawannya ada pelatihan meracik kopi, minatnya bangkit. "Mumpung ada saya ikut saja," katanya, Rabu (13/3/2019).

Pelatihan itu gelaran Siloam Center for the Blind Korea. Tempatnya di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Bandung.

Para pesertanya tergolong spesial. Mata mereka umumnya kurang awas, seperti Yuni. "Saya satu mata total tidak melihat, satunya lagi low vision," katanya. Kacamata membantu penglihatannya.

Keunikan itu jadi tantangan baru. Pun bagi instruktur lokal yang dilatih sejawatnya dari Korea. "Biasanya saya mengajar buat orang normal," ujar Keisha.

Menjadikan tuna netra sebagai barista. Itulah program inovatif lembaga asal Korea itu. Ketuanya, Dong –Ic Choi, di Bandung mengatakan ini program pertama di dunia. "Dirintis sejak 2009 di Korea," katanya di sela acara, Rabu (13/3).

Pelatihan barista bagi kalangan tunanetra ini yang pertama di Indonesia. Contoh suksesnya ingin mengekor di Korea. Menurut Choi, di Korea kini sudah ada lima kafe dengan barista tunanetra.

Choi yang juga low vision ingin mereka hidup mandiri. Mereka tak mau bergantung pada pemerintah. Uang hasil kerja untuk bertahan hidup dan membangun rumah tangga.

Menyasar ke negara berkembang, program awal di luar Korea diterapkan di Ulan Bator ibukota Mongolia, dua tahun lalu. "Kami juga akan buka coffee shop serupa di Indonesia," ujarnya dalam bahasa Inggris.

Sebelum buka kafe, para peserta akan dilatih selama 20 minggu atau lima bulan. Materinya antara lain pengenalan jenis kopi dan proses membuatnya. "Seperti Americano, latte, cappuccino, dingin dan panas serta jus buah," kata Choi.

Selain itu turut pula dilatih perilaku dan manajemen kafe. Pusat pelatihan dirancang seperti suasana di kafe, pun mesin dan aneka peralatannya.

Semua biaya ditanggung penyelenggara. Bandung hanyalah tempat pelatihan. Peserta barista terbuka untuk kalangan low vision se-Indonesia.

Suasana pelatihan menjadi barista yang diikuti para kalangan low vision di Bandung, Rabu (13/3/2019).
Suasana pelatihan menjadi barista yang diikuti para kalangan low vision di Bandung, Rabu (13/3/2019). | Anwar Siswadi /Beritagar.id

Kepala Balai Wyata Guna, Sudarsono, mengatakan pada tahap awal ini ada tujuh orang peserta. Program bertujuan membangun kemampuan tunanetra untuk bisa mendapatkan keterampilan hidup.

Tahapannya dimulai dari transfer ilmu instruktur Korea ke lokal, kemudian berlanjut ke peserta. Setelah pelatihan, peserta akan dlatih menjalankan bisnis barista.

Selanjutnya membantu pendirian kafe untuk tempat kerja mereka. "Kami akan mewarnai kafe-kafe yang ada di Bandung," ujarnya.

Sudarsono memaklumi pelatihan ini masih sepi peminat. Penyebabnya ini program baru. Sementara siswa lain di Balai Wyata Guna masih bertanya-tanya.

Selain itu ada anggapan lain. "Meracik kopi itu keahlian tersendiri yang dianggap sulit. Faktanya di Korea bisa," ujarnya.

Pelatihan barista ini akan ditawarkan ke disabilitas netra yang punya minat. Pihaknya akan menyebar luaskan agar pelatihan bisa dimanfaatkan.

Soal syarat penyelenggara yang minta peserta hanya perempuan, Sudarsono tidak sepakat. "Kami minta peserta lelaki bisa ikut, jadi tidak hanya perempuan," kata dia. Maka dari tujuh peserta, seorang lelaki muda di antaranya bisa ikut belajar.

Sebelum pelatihan dimulai Kamis (14/3/19), Yuni pun telah mengintip sebagian materinya di YouTube. Dari sana ia mendapat bayangan.

Nantinya calon barista harus paham jenis dan kualitas kopi. Sebuah teknik yang dianggapnya menantang yaitu menghias sajian kopi dengan aneka bentuk gambar. "Itu harus fokus supaya melukisnya tidak meleset."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR